Heiiiii Im back kawan-kawan. Udh lama ya heheh...
Setelah menerima surat misterius yang membuat Ganendra tak habis fikir. Setelah selama ini mereka membuangnya, melupakanya, seolah-olah ia tak pernah ada.
Namun sekarang? Mereka orang-orang keparat itu memanggilnya lagi. Cuih..., ia tak sudi kembali pada orang-orang yang telah membuangnya.
'Drttt-drttt'
Dering telphon di atas nakas mengalihkan perhatian Nendra dari kertas yang sudah kusut di genggaman tangannya. Tanpa fikir panjang, Nendra mengangkat telphon tanpa melihat siapa yang menelphonnya.
"Hallo"
"Jangan coba-coba menghindar dari panggilan Descob"
Nendra mengernyitkan dahinya heran, ia menjauhkan hp dari telinganya dan melihat nomer tidak di kenal yang kini tengah menelphonnya.
"Sial! Harusnya tadi aku lihat dulu siapa yang telphon" batin Nendra hendak memutuskan sambungan telephon secara sepihak.
"Jangan putuskan sambungan teleponnya ataupun blokir nomer ini Descob" ucap orang di sebrang sana saat Nendra hendak menekan tombol merah untuk memutuskan sambungan
"Sial! Sepertinya orng ini bisa membaca fikiranku!" Batin Nendra lagi.
"Kau ini bodoh ya? Tentu saja aku tidak bisa membaca fikiranmu, kau kata aku ini Alien apa? Aku hanya sudah paham dengan cara berfikirmu Descob, kau lupa? Akukan temanmu"
"Teman apanya" cibir Nendra kesal.
"Hei! Jangan mencibirku seperti itu. Kau terlihat seperti anak perempuan jika mencibir seperti itu"
"Hei kalian lihat? Dia melakukannya lagi!?"
Nendra melangkah ke arah jendela kamarnya, menyingkap tirai yang menutupi jemdela itu. Mencari sesuatu, siapa tau seseorang tengah memata-matainya dari kejauhan.
"Aku tidak ada di luar Descob, percayalah"
Nendra terperangah, sepertinya orang ini benar-benar bisa membaca pikiran.
"Kau ini sama sekali tidak berubah Descob, terakhir saat aku menghubungimu kau melakukan hal yang sama seperti sekarang. Namun bedanya saat itu aku memang sedang memata-mataimu dari jendela. Tapi sekarang aku hanya menebak apa yang kau lakukan. Dan hasilnya? Aku benar bukan, kau melakukannya persis seperti saat terakhir kali aku menghubungimu"
"Kau mengesalkan Mark"
"Hei, jangan panggil aku dengan nama itu!"
"Kenapa Mark? Julukan Eagle mu itu sulit aku ucapkan. Lagi pula aku lebih suka memanggilmu Mark, lebih simple" kini Nendra sedang menyenderkan punggungnya pada dinding kamarnya.
"Terserah kau sajalah Ganendra"
"Hei! Panggil aku Descob, D-E-S-C-O-B, Descob. Kau mengerti?"
"Santai bro, aku hanya bercanda" ucap orang di seberang sembari terkekeh, membuat Nendra memutar bola matanya malas.
"Cepat katakan apa yang kau mau Mark!"
"Eyyy, bersabarlah sedikit kawan, kau ini tidak biasa di ajak bercanda ya Nendra" pancing Mark dari sebrang sana.
"Mark, cepat katakan apa yang kau mau dariku" Nendra menggeram membuat Mark membungkam mulutnya.
"Oke-oke. Aku hanya ingin kau bergabung lagi bersama kami Des, ketua sendiri yang memintaku mengajakmu bergabung bersama kami lagi"
"Aku tidak pernah keluar Mark. Namun kalian yang membuangku, ingat?"
"Soal itu, ketua minta maaf Des. Ketua terlalu emosi saat itu hingga mengabaikanmu. Mungkin kau merasa terbuang...," sebelum Mark sempat menyelesaikan kalimatmya, Nendra lebih dulu menyelanya.
"Ketua membuangku"
"Oke-oke, aku akui ketua memang membuangmu. Jangan tersinggung. Namun saat ini kami saat membutuhkanmu Des, ada kasus penting yang harus di selesaikan dan hanya kau yang bisa menyelesaikannya"
"Lalu setelah kasus itu selesai ketua akan kembali membuangku begitu?! Maaf-maaf saja Mark, tapi aku tidak akan masuk ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya"
"Kumohon fikirkan kata-kataku ini Des..," setelah itu suara Mark tidak terdengar lagi karna Nendra sudah lebih dulu mematikan sambungan telephon.
💐💐💐 Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
What Should I Do
General FictionMasa lalu biarlah berlalu....Bukankah begitu? Apalagi jika masa lalu mu adalah mimpi burukmu. Tapi suatu hari masa lalu itu datang kembali menghampirimu. Menarikmu kedalam setiap kejadian yang menjadi bayang bayangmu. Sekarang.....Apa yang harus aku...
