--------------------
Althaf : Gue minta maaf, udah bikin lo nunggu tadi. Sebagai gantinya, gue akan lakukan apapun yang lo mau. Asal gue tetep bisa denger penjelasan dari lo. Gue akan nunggu depan rumah lo, sampe besok sekalipun.
Ailve membaca sekali lagi pesan terkahir yang dikirim oleh althaf, setelah ia memblokir Whatsapp nya.
Ailve pikir althaf tidak serius dengan ucapannya. Janjinya saja tidak ditepati apalagi ucapannya. Namun ternyata, lelaki itu menepatinya. Althaf menunggu dan entah apa yang dilakukannya selama itu.
Dan ini membuat ailve merasa tidak enak. Kesannya ailve adalah perempuan yang tidak memiliki hati nurani. Pesan yang di kirim lalula tadi juga menjadi beban pikirannya sekarang, apalagi melihat Lalula sampai merajuk seperti itu, Ailve perlu berpikir dua kali jadinya.
Okelah, Ailve akan mengalah dengan egonya. Namun, sebelum ia menghampiri Althaf, langkahnya malah menuntun ke arah dapur. Entah setan mana yang merasuki ailve hingga dirinya berbaik hati membuatkan susu jahe hangat untuk althaf.
Jiwa kemanusiaan ailve bergejolak begitu saja ketika melihat cuaca malam ini sedikit dingin dengan angin berhembus cukup menusuk kulit. Ailve khawatir jika althaf akan jatuh sakit karena menunggunya selama itu. Ia tidak ingin memiliki rasa bersalah nantinya.
Ailve berjalan untuk membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi hingga melebihi tinggi badannya. Seketika itu, althaf yang tadinya duduk bersandar di motornya, berbalik untuk melihat siapa yang membuka pintu gerbang itu.
Tak ingin althaf berbicara lebih dulu, ailve langsung memulai "Masukkin dulu motor lo" ucap ailve dengan tangan masih memegang mug berisi susu jahe hangat.
Tanpa banyak kata, althaf menurut. Sepertinya ia harus menyerahkan diri sekarang. Apapun yang perempuan ini katakan atau lakukan ia harus pasrah, demi mendengar suatu penjelasan.
"Gue gak akan nawarin masuk, gak ada orang rumah" mata althaf terus mengikuti gerakan ailve tanpa beralih. Saat ini keduanya sudah berada di carpoot halaman rumah ailve.
Althaf kembali dengan posisi saat awal yaitu bersandar pada motornya. Ailve berdiri dihadapannya lalu mengangsurkan mug ke depan althaf tanpa kata dan lelaki itu hanya menerima patuh.
"Di minum dulu" suruh ailve yang langsung membuat althaf menurut lalu lelaki itu menyesap sedikit jahe tersebut. Tak munafik memang cuaca cukup dingin hingga angin pun mampu menembus jaket kulitnya.
"Ngobrol disini aja!. Lo keberatan?" tanya ailve dengan suara parau khas orang habis menangis, yang hanya di balas gelengan oleh althaf.
"Jadi, apa yang mau lo denger dari gue?" Althaf menegakkan kepala menatap perempuan yang berdiri dihadapannya ini. Cukup terkejut dengan pertanyaan to the point ailve.
Selanjutnya ia bergeming melihat keadaan perempuan ini yang sepertinya habis menangis. Mungkinkah dirinya penyebab ailve menangis? Bagaimana mungkin.
Oke, althaf tidak berhak bertanya untuk itu, ia hanya cukup diam dan pasrah. Takut-takut pertanyaannya nanti mengubah mood ailve. Bakal berabe urusannya. Masih mau bertemu dengannya saja, sudah mood yang paling bagus.
Ailve mendengus, pilek "Eummm.. Sebelum itu izinkan gue untuk mengajukkan pertanyaan dulu sama lo" althaf hanya mengangkat sebelah alisnya, tanda setuju.
"Sebenarnya atas dasar apa lo minta maaf sama gue?"
Althaf merunduk menatap tangannya yang menggenggam erat mug berisi susu jahe hangat "Harus gue jawab ve?" gumamnya pelan.
"Hmmm. Gue perlu tau, karena masalah ini udah cukup lama dan lo dengan tiba-tiba datang untuk minta maaf" terang ailve.
"Meski jawaban gue akan nyakitin perasaan lo?" althaf menatap ailve.

KAMU SEDANG MEMBACA
ALTEON
Подростковая литература[ R E V I S I ] Update di usahakan setiap malam minggu. Blurb : Penjelasan. Klarifikasi. Itu yang ingin di lakukan oleh seorang Althaf Geon Diorangga. Tapi sayangnya... "Gue gak butuh" bertolak dengan ucapan yang keluar dari mulut sarkas seorang ga...