Bagian 20

17 3 6
                                    

Ingat kamu itu berharga!
Jadi jangan jatuhkan air mata hanya untuk orang yang gak berguna.

---------------------

Ailve baru saja menerima telepon dari wali kelas adiknya -Bu Anya yang memberitahukan bahwa Gebran, adiknya telah melakukan tindakan brutal kembali yakni baku hantam di sekolahnya yang berakibat dengan lawannya yang harus di larikan ke rumah sakit.

Gadis itu terduduk di ruang tengah setalah menerima kabar itu, dengan air mata yang kembali membasahi pipi mulusnya. Pikirannya masih berputar tentang perbincangannya dengan Bu Anya -wali kelas Gebran di telepon tadi.

"Selamat sore. Dengan wali murid atas nama Gebran?" sapanya dari seberang telepon.

"Iya bu, saya sendiri" jawab Ailve ramah.

"Diandra, kakak perempuannya Gebran?" tebaknya karena mengenali suara Ailve.

"Betul bu"

"Apakah surat panggilan orang tua gebran sampai pada diandra?"

"Tidak bu"

"Baik, seharusnya hari ini ada salah satu wali gebran yang datang ke sekolah untuk membicarakan masalah yang gebran lakukan terhadap wildan" mendengar kabar itu seketika tubuh ailve kaku, kabar buruk akan ia dengar sebentar lagi.

"Gebran melakukan kesalahan apalagi bu?"

Terdengar hembusan nafas dari seberang sana sebelum menjawab.

"Gebran kembali berulah ndra, dia memukuli wildan hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Keluarga wildan meminta kasus ini di tindak lanjut" dada Ailve bergemuruh hebat mendengar lebih jelas kabar itu.

"Lalu, apa yang harus diandra lakukan, bu?" tanya Ailve dengan gemetar, matanya mulai berkaca-kaca.

"Sebaiknya besok kamu datang ke sekolah Gebran. Kita musyawarah kan ini untuk meminta keringanan terhadap keluarga wildan. Ibu akan bantu kamu" jawab Bu Anya membuat Ailve benar-benar menjatuhkan air matanya.

"Baik, bu. Besok diandra datang. Terimakasih ya bu, sudah banyak membantu gebran" suara Ailve terdengar parau.

"Sama-sama. Kita cari solusinya besok ya" guru muda itu mencoba menenangkan.

"Iya bu"

Ailve terus berucap syukur dengan air mata yang terus mengalir. Bu Anya adalah satu-satunya guru yang tahu tentang keadaan keluarga Ailve dan Gebran. Ailve pernah menceritakannya dulu,  semuanya,  tanpa ada yang di tutup-tutupi.

Dan hanya Bu Anya satu-satunya guru masih mau mempertahankan Gebran di sekolahnya.

Yang bahkan kelakuan Gebran sudah berlebihan, sudah tidak ada kata toleransi lagi baginya. Tetapi, Bu Anya dengan berbaik hati selalu membela Gebran di depan Kepala sekolah.

Ailve tidak tahu harus berbalas budi seperti apa terhadap Bu Anya.

Hingga terdengar suara ketukan pintu dari depan. Ailve melirik sebentar jam dinding di atas TV.

Pukul 17.45

Ailve melangkah menuju ruang tamu untuk membuka pintu depan seraya mengusap bekas-bekas air mata di pipinya.

Tangannya meraih pegangan pintu lalu menariknya dan detik itu juga tubuhnya mematung kaku melihat dua pelaku yang mengetuk pintu tadi.

Dirinya dihadapkan dengan dua orang lelaki yang Ailve sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika berada dihadapan keduanya atau salah satunya.

ALTEONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang