Senyuman tipis

489 4 0
                                        

Seperti biasa, Arra diantar ke kampus oleh Arka dengan menaiki mobil. Sekarang, Arra sudah selesai dengan dandanannya sebelum pergi, tas tintingan berukuran sedang ia sampirkan dibahu. Lalu, ia keluar dari pintu dan masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu rumah.

"Sudah?" Tanya Arka.

"Sudah Mas," jawab Arra sambil tersenyum manis.

Arka hanya mengangguk singkat. Setelah itu, Arka menjalankan mobilnya menuju ke universitas tempat Arra menimba ilmu. Di dalam mobil hening. Tidak ada pembicaraan yang bisa menghangatkan suasana. Arra terlalu malu untuk memulai pembicaraan. Tapi mau tidak mau harus Arra-lah yang memulai karena seperti yang kita ketahui, Arka tidak akan mungkin memulainya lebih dulu.

"Mas?"

Arka hanya berdehem singkat tanpa menoleh ke arah sumber suara.

"Tidak jadi," ucap Arra cepat. Melihat respon Arka yang tidak melirik sedikitpun itu membuatnya urung untuk berbicara.

Sebenarnya, juga ada hal lain yang ingin Arra minta. Tapi, entah bagaimana caranya. Karena selama ini, Arka selalu pengertian dengan kebutuhannya.

Arka yang paham akan sarat keraguan itu, ia memberanikan diri bertanya. "Ada apa?"

"Em.... itu... aku mau minta uang untuk bayar buku. Bolehkan?" Arra menggigit bibir bawahnya. Takut-takut salah bicara.

Tanpa banyak bicara, Arka mengeluarkan dompetnya dari saku menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya masih sibuk memegang setir mobil.

"Ambillah sendiri," suruh Arka tanpa ragu.

Arra mengambilnya, mengeluarkan dua lembar uang merah dari dalamnya. "Terima kasih, ya, Mas."

Arka kembali berdehem, menjawab.

****

"Mas, nanti kalau tidak sempat jemput aku, aku bisa pulang pakai taxi saja. Mas tidak perlu repot."

Arra tersenyum menatap Arka sebelum turun. Arra mraih tangan kanan Arka lalu menciumnya, kegiatan yang sudah seperti kewajiban bagi Arra.

"Terima kasih ya, Mas, sudah mau antar dan juga terima kasih buat uangnya."

Arka tersenyum tipis.

Suamiku tersenyum? Arra tercengang dalam keterdiaman. Kejadian sekilas barusan adalah sangat istimewa. Untuk pertama kalinya, Arra melihat Arka tersenyum walau Senyum itu hampir tidak terlihat.

"Aku akan sempatkan untuk menjemputmu," ucap Arka.

Sontak, Arra tersadar dari lamunan. Memegang pintu mobil untuk segera membukanya lalu turun. Jantung Arra berdebar cepat. Bahagia sekali bisa melihat Senyum tipis itu untuk pertama kali.

"Hati-hati dijalan ya, Mas," ucap Arra sebelum menutup pintu itu dengan rapat.

Arra menatap mobil yang sudah melesat jauh di jalanan sana. Arra tersenyum bahagia. Lalu, Arra berbalik arah untuk menuju ke kelasnya.

"Akkkh!"

"Kaget, ya?"

Arra mendelik sebal. "Kamu ngagetin aja!"

"Hehe. Wajah kamu cerah banget kenapa?"

Arra tersenyum menunjukkan gigi rapinya. "Mau tau aja apa mau tau banget?" Arra menaik-naikkan alisnya menggoda Tia yang justru mendengus kesal di sampingnya. "Malah kesel dianya. Tia, jawab dong?"

"Nyebelin kamu," cibir Tia.

Arra melanjutkan jalannya, tia pun mengikuti. "Jadi itu, tadi Mas Arka senyum sama aku. Sangat tipis hampir tidak terlihat. Tapi aku bahagia karena mungkin aku adalah orang pertama yang melihat senyum itu selain keluarganya."

"Oh...."

"Cuma 'oh'?" Protes Arra.

"Gak asik! Aku kira kamu itu sudah melakukan ini dan itu sama suami kamu. Eh, ternyata cuma lihat senyumnya doang, toh."

"Tapi itu awal permulaan yang bagus, Tia. Pokoknya aku bahagia, titik!" Kukuh Arra.

Tia menggelengkan kepalanya. Melenggang masuk ke dalam kelas lalu duduk di kursi paling belakang sementara Arra memilih duduk di barisan paling depan.

****

Arra tersenyum lebar, berdiri di depan gerbang kampus. Mobil hitam datang menghampirinya, Arra segera bergegas masuk karena Arka menyempatkan diri untuk menjemput.

"Mas sudah makan?"

"Belum."

Arra mengangguk pelan. "Mau makan siang dulu?"

"Aku buru-buru, pekerjaan sangat banyak di kantor."

Arra diam. Memilih menatap jalanan daripada melanjutkan pembicaraan. Arra tidak sakit hati karena sudah terbiasa dengan suasana menegangkan seperti ini. Melihat suaminya tersenyum seperti pagi tadi saja sudah cukup membuatnya bahagia.

Arra turun dari mobil, membiarkan Arka pergi lagi untuk ke kantor. Selepas sampai dapur, Arra berinisiatif untuk memasak karena dirinya yakin kalau Arka tidak akan memakan apapun di kantor karena terlalu sibuk dengan kerjaan. Arra akan mengantarkan bekal saja.

Setengah jam berlalu, Arra sudah menyiapkan hasil masakannya di dalam rantang. Lalu, Arra mengeluarkan motor matic-nya dari dalam garasi, jarang sekali Arra memakai motor kecuali hanya ke tempat yang dekat.

Arra turun dari motornya. Memasuki pintu utama menuju ruangan sepetak tempat suaminya berfokus kerja. Para karyawan tersenyum menyapa Arra sekaligus menatap kagum karena kecantikan wajahnya yang alami.

"Arra?" Kaget Arka.

Sontak, Arka berdiri menatap Arra yang sedang tersenyum padanya. Senyum yang tidak pernah bosan Arra persembahkan untuk Arka dengan sepenuh hati.

"Aku bawa bekal makan siang untukmu. Ini masih pukul dua belas lewat tiga puluh, tepat jam makan siang," ucap Arra seraya menaruh rantang di atas meja kerja Arka.

"Seharusnya kamu tidak perlu repot seperti ini."

"Aku tidak merasa begitu. Bukankah kewajibanku sebagai istri untuk selalu memperhatikanmu?"

Arka terdiam. Merutuki dirinya sendiri, kenapa wanita selembut Arra menjadi jodohnya. Arka mencoba menatap Arra, kembali tersenyum seperti pagi tadi. "Terima kasih," ucapnya.

"Aku akan pulang," ucap Arra kembali meraih tangan Arka dan menciumnya sebelum pergi.

"Hati-hati."

Arra tersenyum. Suasana mononton tapi sangat berarti untuknya. Arra pergi sambil sesekali melirik ke belakang hingga dirinya benar-benar sudah keluar dari pintu utama.

Cinta itu aneh....
Membuat siapa saja merasa bahagia walau hanya dengan sebuah hal sederhana yang bahkan sangat kecil sekali dipandang orang lain.









TBC....

First love (19++) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang