Selesai mandi, Arra memakai daster terusan bewarna biru. Arra merapikan rambutnya terlebih dahulu lalu berjalan menuju ruangan tengah.
Arka tersenyum menyambut kedatangan istrinya. Menurutnya, Arra sangat berbeda dengan wanita di luar sana. Arra sangat sederhana, istrinya itu lebih menyukai pakaian daster daripada yang lain-lain saat dirumah. Wajahnya yang ayu juga semakin menambah kegemasan bagi pria yang melihatnya.
"Film horor, Mas?"
"Kamu takut?" Tanya Arka.
"Tidak!" Jawab Arra cepat. "Arra tidak takut." Arra duduk di sisi kanan Arka. Kini mereka duduk lesehan diatas karpet.
Arra memegang tangan Arka. Ternyata suhu badan suaminya itu masih panas. Tapi Arka tidak menunjukkannya.
"Mas masih pusing?"
"Sedikit," jawab Arka.
Film sudah mulai berputar. Arra menyamankan posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Arka. Dan Arkan pun tidak memperlihatkan kecanggunangan ketika Arra berdekatan seperti sekarang. Arka membuang sikapnya itu agar kenyamanan tetap berlangsung di antara keduanya.
Hening....
Wajah Arra memucat. Tapi dia hanya diam. Berulang kali Arka melirik dengan keheranan dengan tingkah istrinya.
"Serem, Mas," ucap Arra.
Arka tersenyum tipis. "Hantunya saja belum keluar kamu sudah katakan serem?"
"Tempatnya gelap banget itu," ucap Arra lagi.
"Kalau ditempat terang, bukan film horor namanya, Ra."
Arra mengerucutkan bibirnya. Arra kembali diam dengan tangan ditaruh di atas lutut. "Hiii!" Arra bergidik ngeri. Mengundang Arka untuk tertawa pelan.
Sebenarnya, Arka tidak menyukai hal-hal semacam ini. Nonton, dinner, jalan-jalan, itu semua bukan hobinya. Tapi untuk hari ini Arka akan mencoba menyenangkan Arra. Dan satu lagi, dimata Arka ternyata Arra adalah wanita yang lucu. Entah sudah berapa kali Arra membuat Arka tertawa tanpa suara.
"Ibuukkk.. Arra takut," rengek Arra tiba-tiba ketika suasana di dalam film semakin mencekam.
Arka melirik sambil tersenyum geli. Wanita berumur 21 tahun itu bertingkah seperti anak remaja. "Mau tukar film saja?"
"Tidak usah. Arra masih bera---aakkhhh!"
Brukk! Arra memeluk Arka dengan erat. Peran utama dari film horor tersebut tiba-tiba muncul di layar TV dengan seramnya. Reflek Arra memeluk Arka. Menaruh wajahnya di dada pria itu.
Keduanya terdiam....
Arka menunduk menatap Arra yang masih memejamkan mata dengan tangan memeluk perutnya. Satu detik.. dua detik.. tiga detik.. dan ...
"Maaf, Mas." Arra melepas pelukan. Berdehem pelan lalu kembali menatap ke layar TV.
"Masih mau lanjut atau Mas tukar?" Tanya Arka memecah keheningan.
"Eh.. tukar aja deh, Mas." Arra menunduk malu. Pipinya sudah berubah warna. Sedikit ada semburat kemerahan di kedua tulang pipinya.
"Baiklah.. kamu yang pilih," ucap Arka.
Arra menganggukkan kepalanya. Memilih isi kaset yang ia simpan. "Mas sejak kapan suka nonton?"
"Tidak begitu suka sebenarnya. Tapi hari ini entah kenapa Mas ingin saja," jawab Arka.
Arra kembali duduk setelah memutar kaset dalam DVD. Arka sudah mengetahui jenis genre film apa yang Arra putar karena koleksi film Arra hampir merata adalah romance.
KAMU SEDANG MEMBACA
First love (19++)
RomanceMencintai pria yang sangat pendiam dan sulit bergaul dengan orang lain sangatlah tidak gampang. Hanya saja, takdir begitu baik mempersatukan kami melalui jalan perjodohan. Tugasku hanyalah mengubahnya saja. "Arrabela." Disini konflik tidak terlalu b...
