Keberanian Arra

365 0 0
                                        

Pukul 20:30, Arka pulang dari kantor karena lembur dan jalanan juga sedikit macet ditambah sebelum keluar dari kantor ternyata ban mobilnya juga ternyata bocor. Jadi, mau tidak mau, Arka harus menempelnya terlebih dahulu hingga memakan waktu cukup lama.

Arka membuka pintu menggunakan kunci cadangan karena berpikir kalau Arra pasti sedang tidur atau sedang mengerjakan tugas kuliahnya di kamar. Biasanya, Arka pulang paling lambat pukul tujuh malam jadi biasa Arka akan memilih mengetuk pintu saja.

Arka masuk dengan wajah lusuh dan lelah. Melewati ruang tamu dan ... Arka terhenti. Wajahnya fokus melihat wanita berdaster sedang terlelap di atas sofa. Arka membuka jaketnya terlebih dahulu sebelum mendekat ke arah sofa. Arka yakin kalau Arra menungunya pulang hingga ketiduran.

Kenapa harus menungguku? Arka bertanya dari dalam hati yang memang sangat percuma karena Arra tidak akan dapat mendengarnya. Mau membangunkan Arka tidak tega. Dengan sangat ragu, Arka memilih menggendong Arra ke kamar walau kini tangannya sudah bergetar menahan gugup tapi sebisa mungkin menahan agar Arra tidak terusik dari tidurnya.

Arka menaruh Arra dengan hati-hati. Tapi sungguh sial! Arka membelalak kaget ketika Arra perlahan membuka matanya dan menatap wajahnya dengan amat dekat.

"Aku.. aku.. maaf," ucap Arka gagu.

Masih dalam posisi yang begitu dekat, Arra justru tersenyum. Ternyata melihat wajah Arka sedekat ini sangat membuatnya bahagia. Arra dengan berani mengecup pipi Arka dengan singkat.

Arka menjauhkan dirinya. Membuang pandangan ke arah berlawanan dari Arra. "Aku akan mandi," ucapnya.

Arra duduk dari rebahnya. "Aku sudah menyiapkan air panas untukmu mandi di dalam termos, Mas."

Arka mengangguk lalu pergi begitu saja menuju kamar mandi. Sementara Arra beranjak turun untuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Arka.

"Bodoh kamu, Ra." Arra memukul-mukul keningnya. Merasa bodoh karena terlalu bahagia hingga dengan berani mencium pipi Arka. Pipi Arra merasa memanas dan sedikit menimbulkan semburat kemerahan yang menawan. "Pasti Mas Arka akan mengira aku centil, atau Mas Arka akan marah, atau ... aduh! Gimana ini?"

Arra memilih duduk setelah menyiapkan teh hangat dan memanaskan sayur agar lebih nikmat untuk disantap. Tidak lama, Arka datang dengan baju kaus oblong yang longgar dan celana kain yang panjang.

"Ini teh-nya, Mas." Arra menyiapkan kursi untuk memudahkan Arka duduk. "Aku ambilkan ya, Mas." Arra mengambil piring lalu menaruh nasi dan lauk-pauknya.

"Terima kasih," ucap Arka.

Arra diam saja menunggu Arka membuat Arka menoleh dengan kening berkerut.

"Kamu tidak makan?" Tanya Arka.

"Aku sudah makan tadi, Mas. Maaf, ya, karena tidak menunggu," jawab Arra.

Arka mengangguk. "Tidak apa-apa."

Jujur saja, Arka berusaha setengah mati untuk bersikap biasa saja setelah peristiwa Arra mencium pipinya. Arka tidak mau menunjukkan kecanggungan diantaranya. Arka makan dalam diam seperti biasanya. Setelah usai, Arka meminum teh yang sudah Area sediakan.

"Mas?"

Arka menoleh sebagai tanda, ada apa?

"Mas tidak marah kan sama aku?" Tanya Arra ragu-ragu.

"Untuk apa?" Tanya Arka kembali.

"Yang tadi karena aku.. aku---"

"Tidak apa-apa." Arka memotong ucapan Arra dengan cepat karena tau apa yang akan dikatakan Arra.

First love (19++) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang