Aziel memenuhi sesuai dengan janjinya kepada Hanum tadi pagi. Lewat kaca spion, Aziel mengamati wajahnya lalu merapihkan jambul khatulistiwa miliknya tak berapa lama cowok ini mengedipkan sebelah matanya sambil berujar, "Wesh! Ganteng banget sih gue." Puji Aziel kepada dirinya sendiri sebaya dengan mengambil sebuket bunga mawar merah.Pintu yang terbuat dari kayu jati yang terukir indah itu membuat jantung Aziel berdebar tak karuan, takut-takut Hanum tidak ada di rumah seperti waktu itu dan pada akhirnya niat untuk PDKT sama Hanum berakhir dengan menemani Mama Hanum merujak. Tapi tidak apalah, hitung-hitung sekalian pendekatan kepada orang tua Hanum, siapa tahu dapat restu kan?
"Ekhm! Assalamualaikum," ucap Aziel disertai dengan mengetuk pintu. Tak berapa lama pintu terbuka menunjukan wajah yang Aziel kenali dengan bedak setebal 2 cm itu, Bi Saskya. "Ngapain kemari?!"
Kaget? Ah, Aziel sudah terbiasa dengan pembantu yang satu ini. Wajah santai tetapi nada bicara yang senang nge- gas adalah salah satu ciri khas Bi Saskya. Wanita itu menatap Aziel dengan tatapan jengkelnya. "Eeh, ditanya malah bengong! Kesambet Bima baru tau rasa!"
Amit-amit!
"Hanumnya, ada?" Tanya Aziel lembut dengan memasang raut wajah yang sebaik dan semanis mungkin. "Ada, bilang dong dari tadi," Balas Bi Saskya disertai tawa yang menggelegar seperti biasa.
Entah apa yang merasuki wanita itu sehingga membuat Aziel merasa ilfeel mendengarnya. Suara singa mengaum ada, suara kucing lagi pacaran juga ada. Jangan-jangan, besok Aziel main ke rumah Hanum suara ketawa Bi Saskya ada tambahan lagi, suara kuda. Kan unik.
"Bunga ini buat saya?" Tanya Bi Saskya sembari mengambil alih bunga mawar itu, Aziel hanya bungkam ketika melihat wanita itu mengendus bunga itu penuh hasrat. "Tau aja lo kalau bebep Sumanto-ku gak malmingan. Baik deh ih, rasa-rasanya pengen ku toel ginjalmu. Makasih ya, ganteng." Tambah Bi Saskya salah tingkah, lalu membuka pintu dengan lebar dan mempersilahkan Aziel masuk.
Aziel menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu ketika Bi Saskya melingkarkan tangannya di lengannya. Bukannya apa, setidaknya wanita tua itu ingat usia dan ingat keadaan yang kini menjadi bahan tertawaan keluarga Hanum. Apalagi cewek bergigi gingsul itu yang ketawanya paling keras, dibalik itu, Aziel turut senang ketika melihat Hanum tertawa lepas seperti ini. Perasaan bahagia dan bangga karena dirinya telah berhasil mengukir wajah yang paling langka baginya ketika Hanum tak henti-hentinya tertawa dengan wajah yang memerah.
"Ciee.. yang betah nih yee,"
Kontan Aziel langsung melepaskan tangan Bi Saskya lalu melangkah mendekat ke arah Hanum dan duduk di sebelah cewek itu. "Gak sia-sia gue ngundang lo kesini," Ujar Hanum disela tawanya. Aziel mendengkus kesal ketika Hanum mengucapkan itu dengan santai.
"Gue udah datang, terus jadi gak?"
~◎_◎~
Rujak lagi, rujak lagi.Aziel tersenyum kecut ketika Katya - Mamanya Hanum - mempersilahkan Aziel mencicipi buah mangga muda itu lalu dengan enggan pula cowok ini mengambil satu mangga lalu memakannya.
Asam, begitu pula dengan perasaan Aziel. Ternyata Hanum mengundang ke rumahnya hanya karena Katya ingin merujak bersama Aziel. Wanita itu mengatakan, tidak lengkap rasanya merujak tanpa Aziel yang notabenenya doyan merujak itu.
"Ayo, Ziel. Nih rasain buah mentimunnya," Aziel mengangguk lalu menerima buah mentimun yang disodorkan Katya. "Tante hamil atau gimana sih? Masa iya merujak mulu," ucap Aziel disela kunyahanya.
Pergerakan Katya seketika melambat ketika ucapan itu berhasil keluar dari mulut Aziel. Orang pertama yang bertanya mengenai dirinya, memang baik nih orang. "Gak tau ya, Ziel. Tante tuh sering banget mual-mual udah gitu kepala tante juga pusing setelah mual,"
Aziel menganggukan kepalanya paham lalu meraih buah mangga. "Mama saya sering banget kayak gitu, tan. Eh, tau-taunya main hamil aja. Kan saya yang bingung, masa iya di usia saya yang sekarang punya dedek lagi. Kadang saya heran sama Ayah saya, doyan banget sih bikin anak. Dia gak pusing, saya yang pusing liat adek saya tiap hari berantem terus." Katya terdiam lalu beralih menatap Aziel yang tengah merujak tidak seperti biasanya.
"Emang adek kamu ada berapa?"
"Setengah lusin, kalo dihitung sama saya."Katya cukup kaget ketika mengetahui jumlah adik Aziel yang terbilang cukup banyak itu. Pantas saja Aziel mahir dalam bidang meracik dan memanjat pohon untuk merujak. Ternyata terselip pengalaman yang tak terduga dibaliknya. "Kata orang, semakin banyak anak semakin banyak pula rezeki. Bener gak sih, Ziel?"
Suara kekehan keluar begitu saja dari mulut Aziel. "Iya rezeki, tan. Dua tahun sekali lagi malahan." Jawab Aziel dengan lantang. "Masa iya sih, Ziel? Yang bener aja kamu."
"Iya, tan. Beneran,"
"Dalam bentuk apa?"
"Adek lagi,"^_^"
"Gimana malam minggu lo sama Hanum? Lancar?"
Aziel menghembuskan napasnya berat membuat cowok berambut ikal ini terheran melihatnya. "Kenape lo? Jangan bilang lo mojok sama.. Mamanya lagi?" Tebak Jejep dengan telak, Aziel menganggukan kepalanya pelan.
"Kalo dipikir-pikir lagi, rasanya gue gak mungkin mundur gitu aja sama perasaan yang gue pendam dari dulu. Gue rela sakit hati, rela merujak sama tante Katya asalkan Hanum jangan jadi milik orang lain."
Jejep mengerti perasaan sahabatnya yang satu ini. Berapa kali pernyataan cinta yang pernah cowok itu lontarkan dan beberapa kali pula penolakan itu terdengar dari cewek yang sama, Hanum. Tetapi semangat Aziel tak pernah luntur untuk berusaha mendekati Hanum dan menjadikan cewek itu sebagai cinta terakhirnya. Lebah memang.
"Soal Radit.."
"Gue tau Hanum. Gak mungkin lah dia bakalan suka sama cowok jenisannya kayak Radit. Lo inget, Lelaki yang baik jodohnya wanita yang baik pula." Sela Aziel dengan tegas. "Tapi ternyata si Radit orang baik, gimana?""Yaudah, tetep baik. Tapi bukan Hanum orangnya!" Cetus Aziel lalu meninggalkan Jejep yang kini memutar kembali ucapan Aziel. "Lelaki yang baik jodohnya wanita baik pula. Emang Aziel orang baik ya? Tau ah!"
-__-*
Radit, Radit, Radit.
Terlihat diujung sana, Radit tak henti-hentinya menggoda Hanum dengan rayuan yang sering ia berikan kepada korban cinta palsu cowok itu. Rea dan Kaifa mencibir cara Radit yang kelewat batas itu, bahkan cowok itu tanpa segan menggenggam tangan mulus Hanum.
Seutas senyum kemenangan tercetak dengan jelas di wajah ketika Aziel melihat Hanum menghempaskan tangan Radit begitu saja lalu diiringi sumpah serapah yang ia keluarkan dan membuat cowok biang onar itu terdiam seribu bahasa. Inilah kemenangan bagi Aziel, ternyata semalu-malunya dirinya, tak pernah semalu seperti Radit nyatanya.
Setelah Hanum dan kedua sahabatnya itu pergi, Aziel memutuskan untuk menghampiri Radit dan mengucapkan selamat yang teramat untuk cowok yang memiliki mantan terbanyak itu. "Pertarungan akan segera dimulai. Jangan lupa, senjata lo jangan terlalu banyak lo pake. Entar gak berguna ketika pada masanya. Oh ya, selamat untuk keberanian lo yang udah sampai disini tanpa kepastian. Kasihan," Ucap Aziel disertai kekehan yang terdengar seperti meragukan kemampuan Radit dalam mendekati Hanum.
"Yang perlu lo ingat, di atas langit masih ada langit. Gue cuman ngingetin aja, sejauh apapun lo melangkah, gue akan selalu ada di belakang lo. So, be carefull sama permainan gue."
Rahang Aziel mengeras ketika mendengar ucapan Radit yang mampu menohok dirinya. Dengan sengaja Radit menyenggol bahu Aziel ketika melenggang pergi dengan langkah sombongnya.
T B C . . .

KAMU SEDANG MEMBACA
Hanum & Radit
أدب المراهقينHanum Ashari namanya... Dia gadis paling menjengkelkan dan mengesalkan yang pernah ada. Tetapi, hanya dia yang mampu membuat seorang Radit Azkarajatma si biang onar ini jatuh hati dan berupaya mendekati dengan berbagai cara. Teruntukmu Hanum... Aku...