[10]

676 91 12
                                    

Mark tidak pernah merasa seterluka ini selama hidupnya. Pantulan dalam cermin benar-benar membuatnya ingin menghantamkan tinju ke wajahnya sendiri, seolah luka yang diberi Jeno tidak cukup untuk mengganti perih yang ia gores di hati Haechan.

Penata rias masuk membawa jas bersulam benang perak yang berkilau diterpa sinar matahari, ia menghembuskan napas lemah, pernikahan ini, bagaimana ia menyebutnya? Terlalu dipaksakan.

Beribu kalipun ia mencoba mengelak dan menentang, orang tuanya selalu punya cara untuk membuatnya patuh. Pemecatan Jeno, pemutusan kontrak kerja dengan ayah Haechan, mereka mengancam dengan cara elegan, diam-diam menusuk inti yang membuat Mark terpaksa harus bertekuk kalah.

"Kau siap?"

Pertanyaan itu retoris. Bagaimana bisa Lee Taeyong—kakaknya mengemukakan hal yang jawabannya sudah sangat jelas.

"Keluarga sudah menunggu di depan. Calonmu juga sudah siap."

"Gimme one minute."

"Cepatlah, Lee." Taeyong keluar setelah memastikan Mark akan datang semenit kemudian.

Sekali lagi, pemuda itu menatap cermin, tidak ada gurat bahagia yang terlukis di sana seperti orang yang akan menikah pada umumnya. Yang ada hanya lengkung patah yang membuatnya menyeringai lemah.

"Kau sudah kalah, Mark."

Ia keluar setelah merapikan korsase mawar di saku jas, memejamkan mata guna menghalau bayang Haechan di sana.

***

Pendeta sudah siap, ia bisa melihat senyum bahagia kedua orang tuanya di sisi kanan, Taeyong dan Jaehyun juga putra kecil mereka—David, mengangguk kecil.

Lonceng dibunyikan, semua mata fokus pada pintu yang terbuka pelan, dua gadis cilik masuk sembari menebar kelopak bunga krisan yang indah, diikuti dua orang dewasa yang tersenyum gugup.

Mark menarik napas panjang. Apakah cintanya benar-benar usai di sini?

Lamunnya buyar tatkala sebuah tangan tersodor, pandang mereka bertemu dalam satu garis, pemuda di depannya terlihat menawan namun tidak bisa membuat hatinya tertawan.

Tapi, apa boleh buat, ia tidak ingin mengacaukan acara ini. Maka dari itu, dengan terpaksa ia mengenggan tangan sang pemuda lalu menghadap pada pendeta.

"Saudara Lee Minhyung, apakah anda bersedia untuk mengucap janji suci bersama Huang Renjun?"

Ada jeda singkat yang membuat keringat merambat di telapak tangannya yang dingin.

"Ya, saya bersedia."

Tarikan napas lega terdengar.

"Saudara Huang Renjun, apakah anda bersedia mengucap janji suci bersama Lee Minhyung?"

Pemuda itu tidak segera menjawab, kepalanya menoleh ke samping, menatap Mark yang mengangkat alis.

"Mohon maaf," selanya sopan, "Sebuah pernikahan tidak akan bertahan lama jika cinta hanya ada di satu pihak saja, bukan begitu?"

Undangan yang hadir kompak menahan napas, terlebih saat pemuda Huang itu melepas genggaman Mark dan berbalik, "Aku tidak akan pernah bersedia menikahi lelaki yang tidak bisa mencintaiku."

"RENJUN! APA YANG KAU LAKUKAN!?" seruan dari sang ayah tak diindahkan.

"Maaf, aku sudah mengatakannya berkali-kali, ayah, paman, dan bibi. Kalau aku tidak bisa menikahi Kak Mark. Hatinya tidak tertuju padaku dan aku tidak mau rumah tanggaku nanti hancur. Maaf." Tubuhnya membungkuk sembilanpuluh derajat, diikuti Mark yang masih linglung.

"Aku tau ini klise, Kak," lanjutnya lagi, "Tapi, aku harap semoga kau bisa berjuang lagi demi seseorang yang kau yakini."

Mark melebarkan senyum, "Terima kasih," bisiknya lirih kemudian menegakkan tubuh.

"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi tidak akan ada pernikahan antara Lee Minhyung dan Huang Renjun hari ini."

Selepas mengatakan itu, Mark bergegas keluar, melewati sang ayah yang masih terpaku, tak percaya jika putra bungsunya itu berkhianat.

"MARK! LEE MINHYUNG KEMBALI KE SINI!"

Renjun menghampiri ayahnya yang duduk dengan tangan terkepal, bersimpuh di depan pria paruh baya tersebut. "Maaf sudah mengecewakan ayah, maaf, aku benar-benar minta maaf," ujarnya lirih, "Tapi aku tidak bisa ayah, aku tidak bisa membangun rumah bersama orang yang sudah memiliki rumah yang nyaman, jauh lebih nyaman dari apa yang kutawarkan sebab mereka membangunnya dengan cinta."

***

Tanpa membuang waktu, Mark menuju lapangan parkir, mencari mobil yang bisa ia pakai untuk menemui Haechan. Jaehyun—sang kakak ipar berlari kecil di belakangnya, menyodorkan sebuah kunci yang ia terima dengan senyum dan ucapan terima kasih.

Pemuda itu hanya menepuk punggungnya, memberi kalimat penyemangat untuk Mark yang akan berjuang lagi.

Beruntung, jalanan di pagi menuju siang tak terlalu padat, ia bisa mengemudi di atas kecepatan rata-rata. Pagar rumah Haechan sudah terlihat, membuat adrenalinnya semakin terpacu. Kakinya menginjak pedal rem, melepas jas yang panas hingga menyisakan kaos hitam polos.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari luar selain bunyi musik yang sayup-sayup terdengar dari lantai dua. Mark yakin Jeno dan kedua orang tua mereka sudah berangkat bekerja.

Dengan napas terengah, ia mengetuk pintu, menunggu gugup di depan kayu jati berpelitur sederhana itu.

"Siapa?"

Sosok Jaemin muncul dengan apron di tubuh, pemuda itu mengerjap tak paham melihat Mark tiba-tiba ada di rumah kekasihnya.

"Bukannya hari ini kau akan menikah?"

"Aku membatalkannya! Di mana Haechan?"

Jaemin tidak memiliki waktu untuk kaget karena Haechan sudah turun dengan wajah membulat kaget. "Kak Mark..."

Mark menghela napas lega, mengabaikan Jaemin yang masih bingung, ia berjalan menghampiri Haechan, mendekap erat tubuh kekasih manisnya yang sangat ia rindukan.

"Maaf. Maafkan aku Haechan. Maaf karena pernah menyerah. Maaf."

Kedua tangan Haechan terangkat, membalas Mark tak kalah eratnya. "Kenapa? Kau mengkhianati orang tuamu, Kak."

"Aku hanya ingin bahagia."

"Tidak begini caranya."

"Lalu bagaimana?"

Jaemin melipir ke kamar Jeno, enggan menyaksikan perdebatan yang terjadi di ruang tamu itu.

"Aku mencintaimu."

"Orang tuamu tidak menyetujui hubungan kita."

"Bahagiaku bersamamu."

"Kak," Haechan menarik napas panjang, berusaha melepas tangan Mark yang terkalung di pinggangnya. "Hei, aku juga sangat mencintaimu."

"Ayo menikah."

"Tidak semudah itu, Kak. Orang tuamu ..."

"Persetan dengan mereka, Haechan!" potong Mark jengkel, "Aku tidak peduli, aku ingin jadi egois sekali ini saja. Aku ingin bersamamu, menua bersamamu, aku ingin ada di sampingmu, bukan orang lain."

Haechan tidak bisa tidak terharu dengan pernyataan itu, terlebih saat Mark menangkup pipinya lembut dan menjatuhkan kecupan panjang nan manis di atas belah bibirnya.

"Aku juga mencintaimu. Ayo menikah."

***

fin.

Let's  RememberTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang