Our Magic Shop; Epilog

2.7K 261 16
                                        

Kakak percaya padamu

***

Namjoon menenteng tas selempangnya dan melepaskan id card sebagai penanda dirinya adalah anggota penyidik khusus dalam kepolisian. Bahu yang terdapat tali tasnya ditepuk oleh Hoseok yang berniat mengatakan mungkin satu atau dua hal.

"Jangan mampir di kedai minuman lagi. Kau mabuk sekali kemarin"

Agaknya ucapan penuh perhatian itu tidak membuat Namjoon tersentuh. Dia justru tertawa jenaka membuat Hoseok menampakan kekesalan.

"Aku tau batasanku". Namjoon menepuk beberapa kali lengan Hoseok dan undur diri. Ia biarkan Hoseok menatap iba padanya sambil menarik nafas panjang.

Setelah Namjoon menjauh, Seokjin mendekat pada Hoseok dan berkata, "Menurutku dia akan tetap seperti itu sampai dia bisa menemukan obatnya sendiri"

Hoseok harus menghela nafasnya sekali lagi. "Kau tau, aku saja masih bisa melihat senyum dari Jungkook waktu kita berkunjung ke rumahnya dulu" .

Seokjin tersenyum simpul membayangkannya. "Kue coklat dan teh manis buatannya?", Seokjin menolehkan kepalanya pada Hoseok. Tepat setelahnya Hoseok mengangguk, "Sudah lima bulan tapi sepertinya tidak ada yang berubah"

"Hoseok hanya kita yang Namjoon miliki. Kita tidak bisa ikut sedih karena nasibnya. Kurasa Jungkook akan memarahimu jika kau buat kakaknya murung terus setiap hari"

"Tidak mungkin, dia malah akan memelukku" ucap Hoseok yang suaranya bergetar diakhir kalimat pada kata 'memelukku'. Hoseok sangat merindukan anak itu.

Lalu Jungkook melakukannya. Ia peluk Hoseok dengan kelembutan dan senyumannya. Untuk Seokjin, Jungkook mencubit salah satu pipinya saja.

***

Namjoon pulang dari pekerjaannya. Hari ini dia teramat lelah. Namjoon harus pulang larut malam untuk membayar semua kerja kerasnya. Setelah ini yang dia inginkan hanyalah mandi air hangat lalu tidur.

Namjoon membuka pintu dan menyalakan lampu. Sepi. Dulu, ada seorang pemuda imut yang akan menunggunya pulang sampai ia tertidur tapi sekarang sosoknya tidak ada lagi. Dia menunggu ditempat lain bersama Tuhan dan kebahagiaan yang tiada akhir. 

Namjoon keluar rumah kembali. Dia mengangkat pandangan dan menatap langit yang dihiasi beribu bintang. Indahnya masih sama, kilauannya dan suasana hangat saat Namjoon masih bersama Jungkook tidak berubah.

"Apa kau sudah dekat dengan galaksimu disana, Jungkook?"

Namjoon menatap teduh dengan senyuman tipis yang sangat berarti. Tidak ada yang berbeda, semuanya masih sama. Namjoon bahkan bisa merasakan genggaman tangan Jungkook kala itu

Jungkook benar-benar sedang meraih tangannya. "Galaksiku disini, Kak Namjoon" ucap Jungkook dalam hati.

"Jika saja Kak Namjoon memiliki satu kesempatan. Kakak sangat ingin memelukmu. Untuk terakhir kalinya kakak tidak sempat untuk itu, Dek"

Jungkook yang sedang memandang Namjoon kini beralih memeluk kakaknya. Dia rengkuh tubuh lelah Namjoon yang sangat dia rindukan.

"Lelah kakak hilang ketika kakak mengingatmu seperti ini. Hati kakak begitu hangat saat mengenangmu, Jungkook"

Jungkook tidak bisa berkata atau melakukan hal yang lain selain tetap memeluk Namjoon.

"Jika kau sedang memeluk kakak saat ini, katakan pada kakak. Agar kakak bisa membalasnya"

Jungkook melonggarkan pelukannya. Dia menatap Namjoon dengan tatapan dalam. Air mata kerinduan Namjoon menyakiti hatinya.

Dengan salah satu tangan yang ia angkat, Jungkook mencoba untuk mengusapnya. Tidak boleh ada air mata lagi. Bagi Jungkook itu sudah cukup.

"Jungkook?"

Namjoon tau adiknya sedang ada didekatnya. Namjoon bisa merasakan usapan lembut pada wajahnya. Ini Jungkook, ini adiknya.

"Kakak tau kamu tidak akan meninggalkan kakak. Kakak tau, Dek. Kakak percaya!"

Namjoon mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa tidak percaya. Dia ingin memeluk Jungkook tapi kedua tangannya tidak mampu. Entah ini adalah kegilaannya atau memang sebuah keajaiban, Namjoon tidak paham. Tapi akan menjadi sebuah kebahagiaan jika memang Jungkook ada didepannya saat ini.

Lalu kegilaan yang Namjoon fikir adalah hasil dari pemikiran tidak waras bukanlah sebuah omong kosong. Kedua irisnya yang berkaca seharusnya, normalnya akan semakin buram ketika memandang. Tapi kali ini dua irisnya itu justru jelas, sangat jelas melihat sosoknya dengan senyuman yang tidak pernah berubah.

"Kakak kangen Dek"

Jungkook mengangguk namun tidak berucap. Ia tetap menangkup wajah Namjoon dengan kedua telapak tangannya.

Namjoon juga melakukan hal yang sama. Ia mencoba untuk meraih wajah manis Jungkook yang dia rindukan. Adiknya menangis tapi senyumannya tidak ia lunturkan meski hanya sesenti.

Namjoon merasa ini sangat nyata. Bukan hanya mimpi aneh. Dia benar-benar bisa mengusap kembali wajah adiknya.

Malam ini dibawah bintang yang bertempat di galaksi indah ciptaan Tuhan mereka berdua dipertemukan. Alasannya, menahan rindu terlalu lama dan tidak ada waktu untuk saling mengatakan kerinduan itu.

Namjoon mendekat begitu pula Jungkook. Mereka saling mempertemukan dahi mereka dan menejamkan mata. Tuhan sangat baik, Dia begitu baik.

Wajah mereka berdua sama-sama dibasah oleh air mata. Tapi hati mereka begitu penuh dengan kebahagiaan.

"Kakak menyayangimu"

"Aku sayang padamu, Kak"













"Aku sayang padamu, Kak"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Our Magic Shop // EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang