Alexandra menemukan kekasihnya Louis tewas dalam sebuah kecelakaan misterius.
Bersikukuh bahwa insiden ini merupakan pembunuhan berencana, Alexandra pun bergabung dalam penyelidikan rahasia yang dipimpin oleh Detektif Noel.
Mampukah Alexandra dan De...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
First Step Hospital, Seattle.
06:00 am.
Berita kematian Louis Harrison yang menyebar melalui laman sosial media menjadi topik yang paling dibicarakan di kota Seattle saat ini. Para wartawan berbondong-bondong mendatangi TKP untuk meraih gambar ekslusif yang tidak lain bertujuan untuk meraup pundi-pundi uang dari momen besar ini. Bahkan beberapa media pun rela datang ke lokasi di pagi hari dan berdesakan dengan yang lain hanya untuk menyiarkan beritanya secara langsung.
Keributan inilah yang kemudian mendasari Noel sebagai detektif yang memimpin jalannya penyelidikan untuk menambah personil lapangan demi mengamankan barang bukti (mobil korban) yang baru akan dipindahkan satu jam ke depan. Sementara dirinya dan rekannya, Smith, berfokus pada kelanjutan proses autopsi yang sebelumnya sudah disetujui oleh kedua orang tua korban.
Noel segera menemui dokter forensik yang menangani kasus kecelakaan Louis Harrison di First Step Hospital. Ia beranjak dari kursi sesaat setelah seorang dokter bernama William keluar dari ruang autopsi. "Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Noel penasaran.
Dr. William, pria dengan kumis hitam tipisnya itu pun memberikan lembaran kertas berisi hasil autopsi milik Louis Harrison kepada detektif Noel. "Korban mengalami gagal jantung akibat reaksi kandungan botulinum di tubuhnya," terang William.
Smith kemudian menyela. "Bo--botol, apa itu, Dok?"
William menatap Smith. "Botulinum." Lalu beralih pada Noel. "Adalah racun." Ia lalu bersedekap dan menggeleng pelan. "Kami juga menemukan kandungan obat tidur berdosis tinggi di dalam darahnya. Selain itu, luka pada bagian wajah korban dan lebam di sekitar pipi disebabkan oleh pukulan keras benda tumpul."
Smith mendesah kasar dan berujar, "Dia bahkan dianiaya sebelum dibunuh."
Dokter yang diperkirakan berusia 40 tahun itu pun mengangguk setuju. "Aku bahkan hampir lupa dengan tulang paha dan kakinya yang patah karena terjepit benda berat." Ia lalu memijit pelipisnya jengah. "Aku tidak menyangka anak konglomerat sepertinya akan meninggal dalam keadaan yang sangat menyedihkan seperti ini."
Noel lalu memberikan laporan hasil autopsi tersebut kepada rekannya dan kembali ke Dr. William. "Bagaimana reaksi keluarga korban setelah mendengar ini semua, Dok?"
Tangan Smith dengan senang hati menerima lembaran-lembaran kertas itu dari Noel. Sementara dokter bertubuh kurus itu melanjutkan, "Nyonya Harrison sangat terpukul dengan semua ini. Tapi Tuan Harrison berkata bahwa dia akan kembali ke sini untuk menemuimu," terangnya. Dokter yang juga menangani tubuh Louis di TKP itu pun tersenyum kecil. "Apa ada lagi yang dapat kubantu untukmu, Detektif?"
Noel menggeleng. "Tidak, terima kasih untuk semuanya."
"Aku akan pergi sekarang. Jika kalian perlu bantuan, datanglah ruanganku," katanya seraya mengakhiri pembicaraan mereka pagi itu dengan senyum lembut di bibirnya yang abu-abu.
Selang beberapa menit setelahnya, seorang pria bertubuh tambun dengan jas hitam mewah dan dasi bermotif garis abu-abu datang menghampiri Noel dan Smith. Dia adalah Matthew Harrison, ayah dari Louis Harrison yang menjadi satu-satunya korban dalam insiden kecelakaan tersebut.
"Apakah anda adalah Tuan Harrison?" tanya Noel sopan begitu Matthew berhenti di depannya.
Matthew yang dijaga oleh seorang bodyguard di belakangnya pun mengangguk mengiyakan. "Maaf karena istriku tidak bisa menemui kalian." Suaranya berat dan dalam. "Aku akan menggelar konferensi pers untuk meluruskan isu yang sudah beredar luar di internet terkait kematian putraku."
"Lalu bagaimana dengan penyelidikan yang--"
"Aku sudah membuat keputusan," sela Matthew tegas. Ia membaca ekspresi bingung di wajah Noel dan segera berkata, "Aku akan menutup kasus ini sebagai kasus kematian biasa karena kecelakaan, Detektif."
"Apa?! Tapi, bagaimana bisa?" Noel meninggikan suaranya. "Putra anda jelas tewas karena penganiayaan dan pembunuhan berencana. Seseorang telah merencanakan insiden ini dan menyebarluaskan berita palsu di internet. Lalu, hanya ini yang bisa anda lakukan?!"
Matthew memperbaiki dasinya sebelum melihat Smith lalu ke Noel bergantian. "Tapi Louis jelas mengonsumsi obat tidur dalam dosis yang tinggi. Bagaimana aku bisa tahu dia tidak mencoba membunuh dirinya sendiri alih-alih dibunuh oleh seseorang, Detektif?" Ia menghela napas berat sebelum menambahkan, "Anakku mungkin telah memikul beban yang berat selama ini. Jadi, mari kita akhiri saja kasus ini sebagai kasus kematian biasa karena kecelakaan."
Noel mencebik. "Bagaimana anda bisa bereaksi sesantai ini sementara putra anda tewas tanpa keadilan di dalam sana?"
Smith pun berbisik, "Noel, sudahlah."
"Keputusanku sudah bulat, Detektif." Matthew memandang Noel lurus-lurus. "Terima kasih telah menemukan putraku dan membawanya ke sini."
"Paman!"
Suara seorang wanita tiba-tiba saja terdengar dari arah lain dan memecah suasana panas yang baru saja terjadi di antara para pria tersebut. Terlihat dua orang di ujung koridor sana, tengah berlari kecil menghampiri Matthew. Seorang wanita muda dengan gaun hitam selutut itu adalah Alexandra, sementara seorang pria bertubuh kurus yang tampak setia di sampingnya itu adalah Charlie, manajernya.
"Alexandra?"
Noel dan Smith sontak saling melempar pandangan bingung saat wanita muda itu mendekat. Parasnya yang cantik tampak pasi dengan lingkar kehitaman di bawah kedua mata birunya.
Raut wajah Matthew mendadak berubah. Ia tak lagi setegang sebelumnya dan bahkan tersenyum tipis. "Sejak kapan kau di sana, Alexandra?" Matthew menunjukkan kekhawatiran tapi juga rasa senang karena kehadiran calon menantunya. "Apa kau mendengar pembicaraan kami?"
"Aku mendengar semuanya, Paman." Wanita dengan rambut brunette sepunggung itu pun memegang lengan Matthew dan menatapnya penuh harap.
"Alexandra, begini-"
"Bisakah kau tidak menutup kasus ini dan membiarkan polisi menguak kebenarannya?" sela Alexandra memohon. Sedangkan Charlie, sang manajer yang selalu mengekor di belakangnya hanya bisa menatapnya dengan prihatin di sana. "Aku ... kurasa aku tidak bisa membiarkan Louis pergi dengan cara seperti ini. Aku ingin Louis mendapat keadilan, Paman."
Namun Matthew hanya menghela napas panjang seraya melepas tangan Alexandra perlahan dan berkata, "Aku tidak bisa melanjutkan penyelidikan ini demi kebaikanmu juga, Alexandra." Mata hitamnya yang sayu melihat Noel dan Smith bergantian. "Jika seseorang bisa membunuh anakku, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama kepadamu."
"Aku tidak peduli!" ujar Alexandra tegas. "Jadi bisakah kau memberi kami satu kesempatan saja, Paman? Hanya untuk kali ini, kumohon."
Pandangan mereka bertemu dan hati Matthew-pun tersentuh. Ia tidak menyangka bahwa calon menantunya akan sepeduli ini meski putra kebangaannya sudah tiada. Pria bertubuh tambun itu lalu memutar pandangannya ke arah Noel. "Aku memberimu waktu satu bulan untuk menyelesaikan penyelidikan ini. Tapi selama pelakunya belum tertangkap...," Ia menggantung ucapannya di udara dan berbalik menatap Alexandra. "Aku akan meredam kegaduhan dengan merilis klarifikasi bahwa putraku tewas karena kecelakaan di depan pers. Kalian paham?"
Kedua sudut di ujung bibir Alexandra merekah sempurna. Ia memeluk Matthew seperti ayahnya sendiri dan berterima kasih. "Kami pasti akan menangkap pelakunya, Paman. Terima kasih."
Butuh beberapa detik sampai keduanya merenggangkan pelukan dan kini saling menatap. "Tapi Alexandra, kau juga harus tetap waspada dan berhati - hati." Ia kembali melihat Noel. Kali ini pandangannya terlihat dalam dan sarat arti. "Aku sudah menganggap dia seperti anakku sendiri. Jadi, selain menguak kebenaran dan menangkap pelaku, kalian berdua juga harus melindungi Alexandra dari apapun yang mungkin bisa membahayakannya. Bisakah kalian melakukan itu untukku?"
Noel dan Smith kompak mengangguk sambil berujar, "Tentu, Tuan Harrison." []