1.7 Everything Changes

847 97 29
                                        

Teriakan memenuhi telinga, euforia dari terpilihnya ketua OSIS baru. Hyunjin disana, berdiri sembari bertepuk tangan dengan senyum melegakan. Berselang sebentar, dia turun panggung dan menghampiri seseorang yang sudah menunggunya dibawah panggungㅡyang jelas bukan Yenara.

Rada ada nylekitnya, banyak bangsatnya. Mana seseorang itu cewe, bor. Terus keliatan mereka pergi gak tau kemana, Yenara juga gak peduli sih, pikirnya paling pergi menjemput ajal. Astaga, emang kalau Yenara minta banget dihujat pikirannya.

“Anjay banget gak sih? Hyunjin jelas famous lho,” Somi berceletuk sambil bertepuk tangan gak rela. Fokus nyemil Suki-Suki. “Nilainya lumayan juga di akademik sama non-akademik. Visi Misi-nya jelas dan dia bisa jawab semua sanggahan dengan oke, kurang apa lagi coba?”

Yenara menjawab, “kurang mingkem.”

“Anjir, pedes banget. Abis makan boncabe, lo?”

“Makan ati.”

Jealous, cie? Hahaㅡhmpt,ㅡ” Yoojung yang daritadi bungkam, mendadak ketawa. Boba dalam mulutnya mau muncrat, tapi buru-buru bibirnya ditutup. Eh, si boba malah keluar lewat hidung. Kurang ajar, batinnya menjerit.

“Lo suka sama dia, Yen” Somi menepuk bahu Yenara pelan. Matanya sirat kelelahan, padahal Haechan gaada gempur-gempur manja semaleman. Gak ding, yakali. “Udah nolak Hyunjin berkali-kali, baru sadar kalau suka pas si Hyunjin ada yang punya.”

“Tolak apaan, bangsat. Nembak aja gak pernah, tolol” balas Yenara gemas.

Somi menyeringai, “wah? Mau ditembak nih?” katanya.

“Gak gitu, kampret!” Yenara mendengus. Mau lempar Somi pakai kekuatan memendam perasaan aja saking gemasnya. Ginjalnya itulo, minta banget dikelitikin. “Nih, ya. Gue mana ada jealous, suka dia aja enggak. Pi-el-ei-way bi-o-way.”

“Piㅡapa? Pilar beton?”

Playboy, anjir.”

Yoojung mendecak, “Ah gatau deh ya,” tangannya langsung narik kepala Yenara, nolehin kepala temennya secara paksaㅡkok untungnya gak sampek lepas, ya. “Yang jelas, Hyunjin lagi jalan kesini.”

Aw, Yenara langsung ngibrit pergi kawan-kawan.

🍳🍳🍳

“Yen,” Hyunjin berusaha menyamai langkah Yenara. Udah cekal tangan si cemewew, tapi malah ditepis, sambil sesenggukan pula dianya. Hyunjin auto makin kalang kabut, “Yenara, liat gue” katanya.

Yenara menggeleng ribut, mempercepat langkahnya supaya jauh-jauh dari Hyunjin. Tapi tetep aja Hyunjin bisa menyamai langkahnya, kakinya panjang kek tali jemuran. Dan kini yang Yenara tau, Hyunjin udah ada didepannya, narik wajahnya buat mendongak.

“Kok nangis?” tanya Hyunjin.

Segala ditanya, brengsek.

Yenara merengek. Pengen rasanya Yenara pajang spanduk depan badan tulisannya sedang patah hati karnamu. Tapi urung, dia dorong Hyunjin dan balik ninggalin dia. Tapi Hyunjin lebih cekatan, tangan Yenara dicekal dan badannya dipeluk erat.

“Nangis aja dulu,” Hyunjin berbisik. “Ada gue, gue disini. Gue gak kemana-mana.”

“Lo ngeselin, tau gak.” Yenara menggumam dalam pelukan Hyunjin. Sebel, tapi pelukan Hyunjin dibales. Dasar.

Hyunjin terkekeh, makin mengeratkan pelukannya ke Yenara. Yang dipeluk makin keenakan, memejamkan mata sambil meresapi hangatnya peluk Hyunjin. Yah, total lupa rasa sebel dan jiwa hardcore yang pengen banget nonjok Hyunjin sambil nanyain si cewe tadi siapaㅡYenara auto melotot.

Cewe tadi siapa.

Yenara melepas pelukannya seketika. Dia mendongak cepat, “Cewe tadi—” matanya bertatapan sama Hyunjin. ㅡpacar lo? Kalimatnya ditelan balik, dia milih ninggalin Hyunjin yang menatapnya penuh tanda tanya.

Juga, Samuel yang berdiri diujung lorong, menonton interaksi Yenara dan Hyunjin sedari kedua insan itu berpelukan.

🍳🍳🍳

“Tau gak?”

Yenara mendongak impulsif. Tatap Guanlin yang berdiri menjulang kayak tiang didepannya. Tangannya sodorin minuman teh. Yang disodorkan mengerut, benerin posisi duduk dan ambil minuman dari Guanlin.

“Enggak,” balas Yenara habis teguk minuman.

Guanlin angkat bahu, “Yaudahㅡ” terus mau ngibrit. Tapi keburu Yenara lempar kepalanya pakai botol minuman. Kurang ajar. “Sakit, woi!” teriaknya.

“Yaudah.”

Guanlin mendesis. Gak jadi balik. Badannya dihempas kesebelah Yenara, lupa kalau ia duduk bukan di sofa tapi di bangku kayu, bokongnya ngilu. Kampret, batinnya. “Galau?” tanyanya retorik. “Cari aja selain Jaewon. Gue misalㅡ?”

“Idih.”

Guanlin ngakak. “Gue kasih tahu,” Yenara cuma angkat satu alis, lanjut teguk minuman dari Guanlin dalam diam. Guanlin menerawang jauh. “Kita gak bisa milih pada siapa kita mau jatuh cinta. Kita juga gak bisa milih, kapan kita mau jatuh cinta. Tapi yang jelas, jatuh itu sakit.”

Yenara keselek. Tapi Guanlin tetap melanjutkan.

“Gue tahu ini bukan Jaewon,” telak. Yenara makin bungkam. Sedang Guanlin balas terkekeh. “Hyunjin. Hwang Hyunjin. I don’t fucking know how this guy can make you be so dispaired.

“Lo...tahu?”

Guanlin angkat bahu cuek. “Satu sekolah tahu kali tentang lo berdua?” katanya geli. “Tapi lo tahu apa yang satu sekolah gak tahu dari kita bertiga; lo, gue, sama Samuel?”

Yenara mengernyit. Geleng pelan.

“Our feeling for each other.”

Yenara mendeguk, “Lo...sayang gue?” tanyanya hati-hati.

Guanlin terbahak sambil mengangguk. “Of course, I do. Gue sayang lo, sayang banget,” Guanlin membeberkan. Yenara tercekat saat Guanlin usap pipinya lembut. “Tapi sebagai sahabat. Tapi Samuel? You both have been together for a long times, longer than me. Lo bisa jamin Samuel gak sayang sama lo?”

Yenara bungkam.

Brokenheart,” Guanlin berujar pelan. “Lo gak pernah lihat matanya? Cara tatapnya? You both spent all many times just for what, hello?”

“Tau darimana Samuel suka gue?”

“Simpel,” Guanlin angkat bahu. “Hyunjin sama Samuel berantem sekarang. Samuel gak terima Hyunjin giniin lo.”

“GAK BILANG DARITADI, ANYING!”

“GAK BILANG DARITADI, ANYING!”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

HEHEHEHE, APAKABS??????

ENEMY, HWANG HYUNJINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang