Yenara misuh.
Dia udah berdiri di lapangan, hampiri kerumunan manusia ditengah lapangan. Pasti ditengah mereka ada si Samuel dan Hyunjin yang tengah adu kekuatan. Yenara mendecak, para siswa itu bukannya melerai malah ikut menyoraki. Sinting, batinnya.
Kakinya melangkah panjang, cepat-cepat mendorong bahu siswa yang menghalangi langkahnya. Mukanya mengkerut, total emosi. Tapi lebih mengkerut lagi kala melihat yg berada ditengah kerumunan bukanlah Hyunjin dan Samuel yang tengah adu otot.
“Ini ... apa?”
Matanya membeliak, menatap seorang Hwang Hyunjin tengah duduk anteng diatas bangku sembari memangku gitar. Ulang, Hwang Hyunjin. Hanya seorang Hwang Hyunjin. Yenara total tak paham, apalagi kerumunan tadi yang kini memilih untuk bubar dan menyaksikan ia dan Hyunjin ditengah lapangan.
Berdua.
“Hai,” Hyunjin menyapa enteng. Kalau tidak berada ditengah lapangan, mungkin Yenara akan menjejalkan bibir Hyunjin dengan batu sampai Hyunjin batuk berdarah. “Gue tau lo mau ngomel, tapi tolong ditelan dulu. I wanna show you something and I hope you could answer it.”
Perasaan Yenara gak enak. Ia melirik para siswa yang masih mengelilingi luar lapangan. Menatap mereka dengan pandangan tak terbaca, beberapa jelas menatap tidak suka; fans Hyunjin yang luar biasa fanatik. Apa sih yang mau diliatin, Yenara misuh dalam hati. Total memerah karna malu, tapi turut penasaran apa yang kan ditunjukkan Hyunjin dengan gitar itu.
Menyanyi? Sejak kapan bibir tebalnya itu mampu melafalkan ejaan dengan benar? Tolong tampar Yenara karena Yenara total melupa kalau Hyunjin dikenal sebagai multitalenta.
Jemari panjang Hyunjin mulai menekan ujung dawai, sedang sebelahnya memetik ujung lainnya merdu. Nada yang dihafal Yenara, lagu favoritnya; Treat Me Better milik Shawn Mendes. Suara halus Hyunjin mulai mengalun saat nada itu memasuki bagian intro. Sial, Yenara harus segera kabur sebelum ia jatuh. Jatuh cinta pada Hyunjin. Walau sebenarnya mungkin dia sudah.
Hyunjin terus menatap Yenara sembari menyanyi, sedang yang ditatap berusaha memalingkan wajahnya. Pokoknya dia gak mau natap mata Hyunjin, takutnya nanti ada kesurupan massal dikarenakan Yenara yang kemasukan arwah atau jin penunggu sekolah soalnya pikiran dan jiwanya melayang.
Rasanya arwahnya dicabut paksa saat matanya tak sengaja menatap mata Hyunjin. Yang laki-laki malah tersenyum simpul, sedang yang perempuan udah mau pingsan. Kakinya mati rasa, tremor luar biasa.
I know I can treat you better than he can
And any girl like you deserves a gentleman
Tell me why are we wasting time
On all your wasted crying
When you should be with me instead?
I know I can treat you better
Better than he can
Yenara pusing.
“Yenara,” Hyunjin memanggil. Petikan dawainya berhenti seketika. Atmosfer yang mengelilingi Yenara terasa makin mendesak jantungnya untuk keluar dari rusuk. Bahkan suara Hyunjin nyaris tak terdengar saking kerasnya jantungnya berdegup. “If I were a servant, I would treat my Queen very well. So, would you like to be my Queen?”
Gila.
Yenara hendak membuka mulutnya, tapi matanya kini malah tertuju pada seorang yang berdiri menantang ditengah kerumunan. Air mukanya tak terbaca, bibirnya tertutup rapat. Dia berdiri tepat beberapa meter jauhnya dibelakang Hyunjin. Bibir Yenara kelu, jantungnya mencelos. Samuel disana menatapnya dan turut menunggu bibirnya terbuka.
Tidak.
Gimana soal cewek yang kemarin digandeng Hyunjin? Gimana perasaan Samuel sekarang? Semua pertanyaan tadi berputar didalam kepala Yenara. Yenara makin pusing.
Dan yang jadi tatapan Hyunjin sekarang adalah Yenara yang melenggang pergi sembari terisak hebat.
-
“Udah dong, Yen.”
Yenara makin terisak mendengar suara Yoojung, masih sesenggukan sembari mendekap tubuh kurus Somi. Sedang Yoojung sibuk mengelus punggung Yenara yang bergetar hebat. Yenara tadi memutuskan buat kabur dan mendekam di rumah keluarga Jeon. Untung ketemu si kakak Somi, kan.
“Lagian lo nangisin apa sih, buset?” Somi mengerut bingung. Tapi jemarinya sibuk menyisir surai Yenara yang berantakan. “Hyunjin nembak lo, terus kenapa nangis?”
Yenara duduk tegak. Mengusap ingusnya yang meluber dan mengatur napas. “Kan Hyunjin habis gandeng sama cewe itu. Berarti gue cuman jadi pelarian aja ga sih. Gue juga bingung—” Yenara mengulum bibir. “Samuel disana, dan gak tau, rasanya jadi berat aja. Gue keinget kata Guanlin soal perasaan Samuel ke gue.”
“Susah ya cinta segitiga.”
Yenara dan Yoojung mengangguk menyetujui. Gadis Jepang itu kini menghela napas besar, mungkin beberapa hari kedepan ia akan menghindari bertemu dengan Hyunjin dan Samuel. Jujur dia tidak pernah siap. Tidak diap dengan sikap Samuel dan kekecewaan dimata Hyunjin.
“Tunggu,” Yenara yang sibuk dengan pikiran lantas menoleh menatap Yoojung. Yoojung menatap kedua temannya. “Guanlin berarti tau kalo Hyunjin mau nembak lo? Kenapa dia bohong?”
Sial, Yenara makin pening.
-
“Karena gue gak mau persahabatan kita rusak, Sam.”
Samuel menghempas badannya keatas kasurnya lagi. Tak menggubris keberadaan Guanlin didalam kamarnya, pun dengan suara Guanlin barusan yang menggema seisi gendang telinga. Samuel lelah.
“Gue gak masalah kalian jadian, tapi kalo kalian jadian dan putus, kalian kehilangan dua hal; temen dan pacar. Sedang gue juga bakalan kehilangan kalian, karena masing-masing gak bakalan bisa kaya dulu lagi.” Guanlin menambahkan.
Samuel menyetujui dalam hati.
“Terus lo mau gimana, Sam?” Guanlin ikut tidur disebelah Samuel, menatap sahabatnya yang asik menatap langit kamar. “Lepasin?”
“Dari awal gue juga ga pernah berjuang buat gue dan Yenara jadi kita, Lin.”
To Be Continue
Hai? Hehe, I'm so sorry guys for the late late late late update. It's been so hard for me to manage my times due to my works terus beberapa keperluan kuliah. I'm sorry. But, yeah, I hope this story can finish.
See ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
ENEMY, HWANG HYUNJIN
Fanfiction[ON GOING] ❝Hyunjin, lo kebanyakan makan mie ayam. Otak lo jadi geser ke timur kan.❞ ㅡʜᴡᴀɴɢ ʜʏᴜɴᴊɪɴ' ᴀᴜ, hareeum.
