10th : see u (tomorrow and) again

1.4K 217 39
                                        

Langkah kecil dan tak begitu bersemangat itu terlihat menuju ke arah ruang ganti, setelah selesai latihan dan mandi untuk berpakaian. Ia ingat bahwa hari ini akan mengunjungi seseorang yang sama yang kemarin ia temui. Sebenarnya, ia sendiri tidak begitu yakin untuk berkunjung hari ini atau tidak. Rasanya ia ingin kembali menceburkan diri ke dalam kolam renang sampai kehabisan nafas. Sungguh seperti ada yang mengganjal di hatinya.



Notifikasi ponselnya berbunyi, menandakan ada sebuah pesan yang telah masuk. Segera lelaki tinggi itu membukanya. Tetapi, sangat jarang ia menerima pesan dari sosok tersebut. Dan biasanya kalau beliau mengiriminya pesan seperti saat ini, berarti itu penting. Biasanya. Benar saja setelah ia membaca pesan tersebut, Rowoon mau tidak mau harus mengiyakan. Tidak enak kalau menolak, karena beliau sudah Rowoon anggap sebagai ibu sendiri.



Setelah membalas pesan, Rowoon bergegas menuju halte bus. Menunggu bus yang akan mengantarkannya ke tempat yang akan ia tuju setelah ini, Rumah Sakit.



Cuaca hari ini cukup bersahabat, meskipun sedikit gloomy karena sinar matahari tertutupi awan sejak pagi tadi. Jalanan tidak begitu ramai, jadi udaranya juga cukup sejuk. Ia jadi ingin rebahan saja di rumah. Tidur sepanjang hari, meminta ijin kepada pelatih untuk tidak datang ke pelatihan, dan menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri di dalam kamar.



Kenapa akhir-akhir ini hatinya begitu resah? Semenjak ia menghilang beberapa waktu yang lalu, hatinya benar-benar sensitif setelahnya. Ia jadi mudah merasa bersalah, mudah merasa sedih, padahal semua hal itu hanyalah hal kecil yang sebenarnya tidak perlu ia tanggapi sampai sebegininya. Terlalu berlebihan dan bukan gaya Rowoon sekali.



Ia sepertinya butuh ruang untuk menyendiri beberapa waktu untuk memulihkan kondisi mentalnya. Mungkin besok ia bisa memulainya.








🌸 Dearest 🌸








Kaki jenjangnya melangkah perlahan namun pasti menyusuri lorong Rumah Sakit. Sampai di depan kamar rawat yang ia tuju, tangannya yang bebas perlahan menggeser pintu di hadapannya. Perkiraannya salah saat dilihatnya ranjang di depannya kosong, tidak ditemukan keberadaan seseorang pun di dalam sana. Rowoon yang kebingungan lantas keluar dan bertanya kepada perawat yang sedang berjalan melewatinya. Namun ternyata pasien yang berada di dalam kamar rawat tersebut masih ada dan belum pulang, katanya.



Rowoon kembali masuk ke dalam, meletakkan tasnya di sofa dan paper bag yang ia bawa di atas meja. Kemudian ia duduk sejenak untuk menetralkan nafasnya. Dan baru teringat kalau perutnya sedari tadi hanya ia isi dengan sebungkus roti.



Berniat membeli sesuatu untuk ia makan, Rowoon melangkah keluar menuju kantin Rumah Sakit. Pandangannya tetap mengedar ke sekitar di setiap langkahnya menyusuri lorong hingga sampai di tempat tujuan. Setelah menemukan dan membeli apa yang ia cari, Rowoon memutuskan untuk kembali barang kali sosok yang ia tunggu sudah kembali.



Namun saat ia berjalan melewati dinding kaca yang menghubungkan antara tempat ia berdiri sekarang dengan taman Rumah Sakit, langkahnya seketika terhenti. Ia melihat sosok yang ia cari ternyata berada disana, duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arahnya. Tidak sendiri, melainkan dengan perempuan yang kemarin. Rowoon hanya bisa berdiri terdiam melihat ke arah mereka. Senyum yang belum pernah Rowoon lihat itu ternyata sekarang tercetak jelas di wajah Chani. Perempuan itu berhasil membuat Chani tersenyum sebegitu manisnya. Tanpa Rowoon sadari, ia turut merasakan hangat di sebagian dadanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 01, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dearest; rochanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang