SEMBILAN

241 48 4
                                    

happy reading...........






Tinta,
Bahasa isyarat menggoreskan pena lewat nama cinta mu.

Bahasa diam dalam gerak kasihmu.
Menatap diam dalam alunan nada fikirku.

Tertulis sajak cinta dengan judul senyum mu.
Irama bait mengulang tatap pancar tulusmu.

Lembaran putih menapaki setiap jejak huruf namamu.
Semburat tawa terhias dalam lukis cintaku.

Hai kau....
Engkau hati.
Wadah suci pemilik cinta tulus diri.

Gambaran rindumu tergores.
Di atas lembar kasih tiap tinta jiwa menetes.

Bukan soal tinta dan pena.
Namun urusan cinta,
Hanya tinta dan pena sayap perantara.
Mengantar bait cinta dalam diam tiada suara.

Karena apa.....
Jejak cinta kita tertulis rapi,
dalam langkah hakekat jiwa kita berdua.

( Sebuah kata sajak tuan muda pada pelengkap rusuknya, Mean Phirafich ).
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Langkah seorang remaja cantik menyusuri jalann besar kota. Ada satu dua titik peluh menetes menyusuri leher jenjang putihnya.

Semburat senyum tak akan pernah pudar. Meski ia tahu jika kaki penopangnya mulai lelah. Ia tepis dengan cepat lelahnya.

Ia tahu, setiap kata 'berusaha' pasti  akan selalu menimbulkan sisi lelah. Entah lelah fisik, atau lelah batin. Baginya cukup lelah fisik.

Matahari semakin condong ke sisi barat. Langit memberi isyarat bahwa satu dua jam lagi akan memasuki senja sore. Ia lihat benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Jarum jam kecil itu berputar dan menunjukan pukul empat sore. Itu berarti langkah plan harus dipercepat.

Belum sempat ia mengambil ancang-ancang, sebuah suara klakson motor mengagetkan dirinya.

" Ayo cepat naik ". Sang empunya motor berkata dengan dingin.

Plan masih bingung. Ia sangat tahu siapa pemilik motor itu.

" Apa aku harus mengulang dua kali untuk menyuruhmu naik ?. Atau aku perlu menggendong mu? ". Ia tekan kata-kata gendong.

Tanpa babibu plan segera menaiki motor. Bau parfum yang khas. Selalu menimbulkan efek tenang dalam diri plan.

" Pakai ini ". Titahnya.

" Huh ?? ".

" Owh ok. Ma.. maaf ". Lanjut plan tergagap sedikit terkejut.

Tumben sekali orang didepan nya ini bersikap lembut. Biasanya ia akan seenak hatinya memerintah plan meski plan sendiri telah menampakkan wajah lelahnya sekalipun.

" Pegangan... ". Ucap mean.

Mean menarik kedua tangan plan dan ia lingkarkan diperutnya. Bagi mean, semburat senyum kecil dari balik helm yang ia kenakan. Lalu bagaimana dengan plan??

Tidak usah di tanya lagi, Plan sangat terkejut. Bahkan kini antara punggung mean dan tubuh plan menempel satu sama lain.

Detak jantung plan dapat mean rasakan dngan sangat jelas.

Motor mewah kebanggaan si tuan muda membelah jalanan besar ibu kota. Bagi siapa saja yang melihat keduanya pasti semua orang akan mengira jika keduanya adalah sepasang kekasih yang sedang berkencan sehabis sekolah.

AGAPE ( MEANPLAN STORY  ) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang