#1 Narendra

6.7K 517 61
                                        

Kamar itu gelap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kamar itu gelap. Udara dingin dari AC menyentuh kulit, menembus selimut tebal yang membungkus tubuh kecil di dalamnya. Rambut cokelat gelapnya berantakan di bantal, pipinya memerah oleh udara dingin, hidungnya tersumbat sedikit.

Sejak kecil, setiap kali sendirian di rumah, Divya Kynang Narendra selalu memilih tidur di kamar kakaknya. Entah karena wangi sabun tubuh yang masih tertinggal di bantalnya, atau karena di sana, rasa sepi terdengar lebih lembut.

Minggu lalu ia baru genap berusia enam belas. Ulang tahun sederhana—hanya ada dia dan Ayah, lilin di atas kue, dan tawa kecil yang mencoba menutupi rasa lain yang tak sempat disebut. Anak pertama keluarga Narendra, Si Kakak yang selalu jadi jangkar, tidak bisa pulang sebab masih disibukkan dengan tugas akhir sebagai mahasiswa teknik mesin di suatu institusi kota Bandung.

Sudah lewat tengah malam, tidurnya sudah lelap. Ponsel di atas nakas masih memutar lagu, sengaja untuk teman, sebab tadi sebelum memejamkan mata, ayahnya belum pulang juga.

Pintu berderit pelan, langkah kaki hampir tidak terdengar. Nevan Manggala Narendra meletakkan tas disebelah meja belajar, sebelum perlahan naik ke atas kasur. Berbaring miring di sebelah Si Bungsu, tangan terjulur merapikan helai rambut Divya yang berantakan.

Kalau hidup memang adil, mengapa keluarganya harus berjalan dengan punggung membungkuk menanggung beban yang ditempatkan bahkan sebelum Si Bungsu mampu berlari?

...

Tingginya tidak genap 160 cm, tidak bertambah lagi sejak masuk SMA. Dihari Sabtu setelah lima hari berperang dengan ujian kenaikan kelas, Divya bangun di jam 8 pagi. Berjalan menuruni tangga dengan muka bantal, rambut belum tersisir, belum menyentuh air apalagi sikat gigi.

Kakinya membawanya langsung ke dapur, sebab otaknya mendapat sinyal dari hidung yang sudah mencium aroma masakan Sang Ayah.

"Belek lo ilangin dulu, coba." Suara itu—familiar, dalam, dan hangat—datang dari meja dapur.

Seperti difilm-film, kepala Divya menoleh cepat. "Loh, Abang!"

Ia langsung memeluk Nevan, yang bersandar santai di meja marmer dapur.
Si Sulung kini menjulang—180 cm, lima sentimeter lebih tinggi dari ayah. Badannya berisi, berotot, sedikit lebih kurus karena dibantai skripsi.

Divya menyandarkan wajahnya di dada Nevan, kedua tangannya sudah melingkari pinggang.

"Abang kok ga bilang kalau pulang?"

Nada cemberutnya mengambang, setengah manja, setengah kecewa karena gagal ikut ke Bandung dengan dalih menjemput Nevan pulang.

Nevan, dengan kaos hitam polos dan celana training abu-abu, menangkup wajah Divya dengan satu tangan hingga pipinya sedikit tertekan.

"Halah, lo ikut jemput cuma biar sekalian main ke Bandung, kan?"

Divya nyengir, ketahuan. Nevan mengacak-acak rambut yang sudah acak-acakan itu, gemas.

#Narendra; Brotha [rewrite]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang