[6]

1 1 0
                                    

Pagi ini klara merasa kepalanya sangat pusing, iapun bangun dan berdiri di depan cermin.

"Pucat amat mukamu, sepertinya aku demam" gumamnya langsung pergi menuju kamar mandi.

Setelah selesai berganti baju ia tak lupa memoleskan bedak di wajahnya, ia pun melirik foundation di atas meja riasnya

"Sepertinya aku harus memakinya, biar dara nanti tak curiga" ia pun memolesnya di atas wajahnya dan memakai bedak tak lupa liptin tipis di bibirnya.

Ia pun pergi kebawah menuju meja makan. "Hai klara, sini duduk sampingku mama membuat nasi goreng khusus buat kita" ujar dara sambil menepuk kursi di sampingnya.

Klara berjalan menuju meja makan dengan ragu sambil melihat ke arah tante sarah.

"Ini makan" ujar dara sambil mengisi piring klara dengan nasi.

Klara masih menatap tante sarah menunggu persetujuan untuk memakannya.

Tante sarah hanya mengangkat satu alisnya "Makanlah! " perintahnya.

Klara langsung menyendok nasinya pelan-pelan karna takut. Dan tak lama nasinya habis.

"Dara ini uang saku kamu hari ini" ujar tante sarah.

Dara pun menerimanya "Terima kasih ma"

"Kamu masuk mobil dulu sana, mama mau ngambil barang mama di kamar"

"Okay" dara berlari kecil menuju garasi.

Tante sarah mendekati klara yang masih membereskan barangnya kedalam tas. "Dan kamu, hari ini gak ada uang saku. Karna kamu uda sarapan di rumah, jadi gak ada jatah uang hari ini"

Tante sarah langsung pergi meninggalkan klara, klara masih mematung di tempat.

Sebenci itukah tante sarah sama aku, lebih baik aku di kirim ke panti asuhan dari pada aku menderita di sini batinnya. Dan berjalan menuju garasi

........

Tak lama mereka berdua telah sampai di depan sekolah "Hai ra! " teriak julian dari kejahuan.

Merasa ada yang memanggilnya klarapun mencari keberadaan suara tersebut "Ya... Julian" jawabnya dengan enggan dan malas.

Julian berlari menuju klara dan dara. Sesampainya di depan klara julian langsung menarik pergelangan klara "Ayo kita masuk"

Dara masih mematung di tempat, pasalnya sekarang klara dan julian menjadi dekat. "Apa kalian sekarang berteman? " tanya dara dengan muka bingungnnya.

"Bukan teman tapi sahabat" ujar julian.

Dara masih bingung "Kalian berdua bersahabat" tunjuk dara ke mereka berdua bergantian.

"Bukan kita berdua, tapi kita bertiga" ujar klara sambil merangkul tangan kanan dara.

Dara masih mematung di tempat, tak mengeluarkan satu katapun. Ia masih bingung dengan pikirannya sendiri.

Sadar dengan raut wajah dara yang masih bertanya-tanya, klarapun langsung menarik tangan dara "Jangan terlalu di pikirkan, nanti otakmu akan meledak dan nanti akan berserakan di mana-mana"

Dara hanya tertawa kecil, klara suka mengeluarkan guyonan garing pada saat cangguh seperti ini. Walaupun tak lucu tapi membuat mood dara kembali.

Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama memasuki kelas. Sesampainya di kelas jio langsung berjalan menemui klara yang tangannya masih di genggam oleh julian.

Jio yang melihatnya langsung geram dan menarik klara menjahui julian "Ra lo kan milik gue, kok sekarang lo sama julian" ujar jio tak terima.

Klara langsung tertawa lepas mendengar perkatan jio, ia langsung menaruh telapak tangannya ke depan jidat jio "Lo sakit?  Apa kesurupan? Gue jadi milik lo dari kapan? " dengan tertawa lepasnya.

"MULAI SEKARANG DAN SETERUSNYA!" Teriak jio.

Klara langsung mematung diam karna teriakan jio "Lo gak waras" dengan berjalan meninggalkan jio.

"Lo liat aja, gue bakal bisa dapetin lo! " teriak jio tak terima.

Klara masih tetap berjalan pergi meninggalkan jio, ia pergi menuju perpustakaan tempat favoritnya. Ia pergi bukan karna perkataan jio tapi kelapanya mulai terasa pusing kembali.

"Jio ngapain si, gak waras mungkin dia. Malah bikin makin pusing kepalaku" sambil menyentuh kepalanya.

"Sepertinya gue akan bolos pelajaran hari ini, badan gue lemes banget rasanya" gumamnya.

Memang tadi klara uda sarapan tapi, sarapannya sangat dikit karna tante sarah selalu melihatnya dengan raut wajah menakutkan. Ia jadi takut menghabiskan makannya.

"Tempat favoritku" gumamnya dan bersadar di rak paling ujung.

Klarapun mulai merasa mengantuk dan tertidur. Tenang dan nyaman itu yang ia rasakan saat ini, dan klarapun terlelap.

Tanpa klara sadari ada sosok pria yang melihatnya dari kejahuan yaitu julian. Julian mulai mendekatinya dan melihat ke arah klara yang masih tidur. "Dasar" gumamnya.

Cahaya matahari menyinari wajah polos klara yang masih tidur, merasa terlalu silau klara menutup wajahnya dengan buku geografi yang tak jauh dari tangannya.

Tak lama kemudian badan klara menggigil. Julian yang masih fokus di tempat langsung terkejut melihatnya, iapun langsung mengambil buku yang menutupi wajah klara "Ra bangun! " sambil menggoyangkan pundak klara pelan.

Klara tak bangun dari tidurnya, hanya bergumam tak jelas. Julian masih bingung dengan apa yang terjadi kepada klara. Iapun langsung menaruh telapak tangannya di atas kening klara.

"Panas, kau demam" ucapnya langsung membangunkannya.

"Ra bangun ra, ra" sambil menepuk pipi klara pelan.

Klara merasa tidurnya tergangu langsung bangun, terkejut dengan siapa sosok yang ada di depannya. Ia langsung membulatkan matanya "Julian, lo ngapain di sini? " tanya sambil melihat arah sekitar, takutnya ada guru jaga yang melihat mereka.

Julian tak menjawab pertanyaan klara, ia malah balik bertanya "Lo demam? "

"Enggak, gue hanya pengen bolos pelajaran aja di sini"

Tapi julian tak percaya, langsung menaruh tangannya lagi di kening klara "Lo panas"

Klara langsung menepis tangan julian "Enggak kok"

"Ayo ikut aku" sambil menarik tangan klara.

"Mau kemana?"

Julian tak menjawab langsung menarik tangan klara menuju UKS.

Sesampainya di uks "Jul, gue gapapa cuma pengen rebahan aja, ngapain lo ajak gue kesini" ujar klara yang masih melihat ke arah julian yang mondar mandir mencari temperatur suhu.

"Pakai ini" kata julian sambil menyodorkan temperatur.

Klara tak menjawab dan langsung memakainya. Tak lamapun berbunyi Bip menunjukkan hasilnya.

Julian langsung meraih temperatur itu dari tangan klara "Kau demam tinggi, aku akan memanggil guru uks" ujarnya tapi tangannya langsung di tarik klara.

"Gak usah, aku gapapa jul ini hanya demam biasa aja"

"Tapi kau demam ra, ini lumayan tinggi apa lagi lo sampai menggigil seperti itu"

"Lo di sana?  Mulai kapan" tanya klara

"Gak penting, pokoknya lo harus di rawat di RS"

Klara mendengus mendengar ucapan julian "Gak usah alay de jul, ini demam biasa gak usah di bawa ke RS juga uda sembuh"

"Oke kalau gtu, aku panggilin guru uks aja ya"

"Gak usah jul"

"Kalau gitu ayo ke rumah sakit aja"

"Julian" sambil melototkan matanya

"Mangkannya nurut ra, aku panggilin guru uks. Oke"

Klara hanya pasrah dan menganggukan kepalanya. Dan julianpun pergi meninggalkan uks.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 11, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SOMETIMETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang