warna

30 3 0
                                    

Jujur, aku banyak bohongnya. Banyak pura-puranya agar terlihat baik-baik saja di depanmu. Tapi sayangnya aku membutuhkan media untuk melampiaskan amarah dan kekesalanku, seperti media sosial dengan gradasi ungu-putih itu. Kubuat akun kedua untuk bercerita, melepas penat, dan senantiasa berkeluh kesah. Sialnya, kamu mengikuti akunku dan mengetahui semuanya. Ralat, sebagian kecil krusial dalam diriku. Kamu pasti tahu saat-saat aku mengalami kendala. Tapi aku tidak bisa terlihat menyedihkan dalam dunia penuh omong kosong ini.

Apa yang memang ditakdirkan untuk diri sendiri, sebaiknya hanya diluapkan secara sembunyi. Tidak usah pamer pada orang lain agar mereka mengasihanimu. Bercerita boleh, asalkan mereka tidak tahu bagaimana ekspresi saat menulisnya. Untuk menulis hal seperti ini membutuhkan keberanian untuk kembali menyesakkan hati saat mengingat detailnya. Bahkan bisa saja menulis hal menyakitkan dengan diiringi tawa. Ini belum apa apa, sayang. Dirimu hanya halusinasi. Membayangkan menjadi seorang pahlawan kesiangan yang gagah berani dengan mengatakan "ada apa?". Terkadang dunia perlu ditertawakan, hanya dengan pertanyaan basi.

Duniaku hanya sebatas kamarku. Aku berusaha sebisa mungkin untuk benar-benar menjadi gadis ceria setiap hari saat mulai menutup pintu rumah menuju perjalanan ke sekolah maupun bepergian. Aku tidak peduli seberapa rusaknya aku, apalagi soal hati. Aku juga tidak peduli betapa ingin meledaknya kepala ini bersama masalah sialan itu. Aku hanya perlu bersikap biasa saja, dengan terkadang mencoba untuk tersenyum dan tertawa, yang perlu kamu ketahui bahwa itu palsu adanya. Aku melakukan ini karena aku tidak mau dikasihani saat orang-orang melihat aku dengan ekspresi datar dan mata berkaca-kaca.

Sebenarnya kamu tidak perlu tahu semuanya. Yang aku butuhkan hanya kamu. Jika ada suara dan gitar itu, tentunya akan menjadi pemanis yang senantiasa membuatku tersenyum hanya dengan melihatmu memperbaiki senar dan nada yang dirasa kurang pas. Dengan ada hadirmu disini, cukup membuatku tenang, cukup membuat isi kepalaku dipenuhi oleh kamu, cukup membuat aku ingin dunia ini berhenti.

Suaramu memang tidak sesempurna penyanyi diluar sana. Tapi percayalah, suaramu adalah warna dalam kalutnya kertas putih pikiran dan hatiku. Diriku ini monoton, kalau tidak tersenyum ya menangis, maka dari itu aku membutuhkan kamu untuk membuat hidupku dipenuhi warna yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

Apalagi disaat kamu mulai bersuara, memulai lagu yang akan kamu nyanyikan. Memetik gitar lalu menoleh padaku. Mengucap lirik seraya tersenyum hangat padaku. Sungguh, duniaku runtuh dalam sekali kejap, dan aliran hangat memenuhi hatiku.

Tuhan, tolong. Aku tidak ingin waktu bergerak, aku tidak ingin dunia berputar. Aku ingin semuanya berhenti saat ini. Aku tidak ingin momen ini usai. Tapi jika terkabul, aku sangat egois, bukan?

Ku akui, mencintaimu itu sederhana dengan hanya mendengar dan menghargai.

Bandung,
Sedikit berangin,
00.01

Dear, you.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang