Boruto mematikan ponselnya kesal. Sarada benar-benar tak menghubungi boruto. dia serius dengan ucapannya. Sejak Sarada pergi, mereka tidak bertemu lagi atau telepon untuk menanyakan kabar. Makan siang bersama, atau sekadar jalan di taman. Kebiasaan itu sudah tidak ada. Harusnya Boruto senang, ia bisa kembali bermain bersama teman-temannya. Tapi kenapa yang ia rasakah hanyalah sepi dan rindu? Kenapa ia sedih? Kenapa dia marah saat sarada tak menelponnya seperti biasa? Kenapa ia rindu suaranya yang memabukkan?
Boruto menggaruk kepalanya kesal. Kalau dipikir-pikir Saradalah yang lebih berusaha ketimbang dirinya. Sarada yang selalu merencanakan kencan mereka. Dia juga selalu datang setiap Boruto kesusahan. Ketika Boruto gagal dalam rapat dan kehilangan salah satu klien terpentingnya, Sarada datang untuk menenangkan boruto. Sungguh, Sarada selalu ada setiap ia membutuhkannya. Selama ini apa yang Boruto lakukan? menyia-nyiakan wanita yang paling berharga untuknya.
"Sarada..." dia membanyangkan tawa sarada yang lembut disela ejekannya yang tajam. Sarada yang ketus, suka memukulnya ketika dia bertindak konyol, bersikap tegas layaknya ibu. Bibirnya yang ranum, matanya yang hitam kelam, rambut panjangnya yang indah berbau lavender, dan kebaikannya selama ini. kenapa ia begitu bodoh.
"....Apa aku... telah jatuh cinta kepadamu?"
2 bulan berlalu.
Sarada sedang mengcopy dokumen dari ayahnya. Ia melamun. Sejak kejadian itu, Sarada jadi pendiam, makannya sedikit, dan jarang tersenyum. Sakura sempat khawatir, tapi sarada menepisnya. Dia hanya harus bekerja lebih keras agar bisa melupakan si baka bolt itu.
"Sarada!" Chouchou memanggil sahabat karibnya. Sarada menoleh lemah.
"Ada apa?"
"Oh ya Ampun! Kau seperti zombi yang kurang tidur."
"Zombie tidak tidur, Chouchou."
"Benarkah? Ah, ngomong-ngomong ada yang mencarimu di bawah."
"Siapa?"
"Lihat saja sendiri. Biar aku yang mengerjakan ini." Chouchou mengambil doumen ditangan sarada. Kemudian mendorongnya ke lift terdekat. Sebelum masuk, chouchou memutar sarada, merapihkan rambutnya dan memberinya sedikit lipstik.
"Untuk apa?"
"Tidak ada." chouchou memencet tombol turun. Dia tersenyum melihat Sarada, "Semoga beruntung." ujarnya meninggalkan Sarada sendirian.
Lift terbuka. Sontak Sarada segera turun. Berjalan menuju pintu tamu. Tidak biasanya ada tamu di jam kerja. Sebelum makan siang pula. Apa itu Kagura, salah satu rekan kerja dari kirigakure? Sarada membuka pintu. Bersiap diri dengan siapa pun yang akan ditemui. Namun, Bukan kagura yang ia temukan, bukan juga teman bisnis, atau yang lain.
"Boruto?"
"Sarada..." Boruto menatap sarada haru. Sarada terlihat kurus, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Tapi dia tetap cantik. Yang terpenting, Boruto benar-benar merindukannya. Mereka terdiam beberapa detik. Sampai sarada membuka percakapan.
"Umm... Ada yang bisa kubantu?"
"Eh? Ah! i-iya, dattebassa!" boruto tertawa gugup. Setelah mengetahui perasaannya, ia jadi lebih canggung dari pada biasanya.
"Jadi ada apa?" Ujar Sarada tenang. Berlawanan dengan jantungnya berdegup keras. Ingin sekali dia memeluk boruto. tapi, mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Tidak ada.
"Eeumm... sebelumnya, mau ketaman?" Sarada memandang boruto aneh. Ada apa? Kenapa dia gugup? Kenapa wajahnya memerah? apa dia sakit? Kenapa dia kemari? Sepenting apa sampai dia tidak bisa membicarakannya di sini?
"Baiklah. Sebentar lagi jam makan siang. Aku akan kembali."
"Baiklah!" ujar Boruto bersemangat.
Di taman, Boruto dan Sarada berbincang layaknya biasa. Seperti saat kencan. Berbicara apa saja yang membuat mereka tertarik. Lelucon dan hal koyol yang boruto lakuakn diakhiri dengan pukulan sarada. Mereka tertawa. Inilah yang mereka mau, mengulangi masa ketika masih bersama. Terjalin pertunangan dan persahabatan.
Boruto membeli es krim untuk mereka berdua. Kemudian menyerahkan rasa rasberry pada Sarada.
"Arigatou."
"Bukan apa-apa, dattebassa!"
"Jadi ada apa?" Sarada memulai pembicaraan seraya memakan es krim.
"Um.. Aku-.... bhahahaha!"
"Hm? Nani?" Sarada menatapnya aneh. Sedikit kaget dengan perilaku dadakannya. Boruto tertawa melihat mulut Sarada yang belepotan karena es krim itu.
"Kau ini! Kau selalu mengingatkanku ketika makan. Dan sekarang lihat siapa yang bicara."
"D-diamlah, baka!" Wajahnya merona. Sarada hendak membersihan mulutnya dengan sapu tangan. Tapi, boruto mendekap wajahnya kemudian-
Cup
Bibir mereka menyatu. Sarada membelalak. Dia berusaha mendorong tapi, boruto menariknya mendekat. Wajah Sarada memanas, bahkan merona hebat. Tidak lama, boruto melepas ciuman mereka dengan wajah merona.
"Na-nani?!" Sarada menyentuh mulutnya tidak percaya. Sedangkan Boruto menutup wajah malu.
"Boruto?"
"Aku berbohong." ujarnya tiba tiba. Dia tidak mau menatap sarada. bahkan mengintip pun tidak.
"Apa?"
"Aku berbohong saat kau bertanya apa aku mencintaimu saat itu."
"..."
"K-katakan sesuatu karena ini semakin canggung, dattebassa!"
"...a-ku..." Sarada terdiam. Memandangnya bimbang. Apa dia bermaksud? Apa Sarada boleh berharap? Yang terpernting, apa ini nyata?
Boruto mendekap tangan sarada. menariknya mendekat. Membuat kontak mata lekat.
"Aku... Aku mencintaimu, Sarada Uchiha."
Jantung berdegub keras, mata membelalak. Setelah sekian lama, senyum mengembang di wajah sarada. dia lega, sungguh lega. ternyata dia tidak pernah merasakan cinta bertepuk sebelak tangan.
"Menikahlah denganku, sarada." Boruto bertekuk lutut. Dia membawa sekotak cincin berlian terindah yang pernah Sarada lihat. Perlahan air mata jatuh. Air mata kebahagiaan. Sungguh tidak ada yang diinginkan Sarada dari pada ini. Dia bahagia. Sangat.
"Tentu saja, baka!" Sarada ikut berlutut. Memeluk Boruto dengan bahagia. Sekali lagi mereka berciuman mesra. Tidak peduli dengan tatapan sekitar yang memandang mereka haru. Setelah boruto memasangkan cincin di jari manisnya. Mereka tersenyum. Merasa lega, bahagia, damai, dan amat senang. Orang yang mereka cintai akan menjadi pendamping hidupnya sampai maut memisahkan.
Fin
.
.
.
"Wooo!! Bravo Boruto-san!" Denki yang kebetulan lewat bersama kekasihnya, merekam kejadian romansa itu.
"Omedetou, Sarada." Sumire juga ikut senang. Dia bertepuk tangan paling keras diantara yang lain. bahkan Chouchou dan Sakura yang entah sejak kapan menguntit, ikut bersorak riang. Belum lagi warga yang ikut menyaksikan.
"N-N-Nani? Kenapa banyak orang, dattebassa?!" boruto merah padam. Dia membenamkan wajahnya di bahu sarada.
"Hahaha..." sarada hanya tersenyum seraya memeluk calon suaminya.
"Kau sangat pemalu, bolt."
"U-urusai!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Borusara One Shoot
FanficAll Boruto and Sarada! My second fanfic Write for fun Sorry if it's not really good (i still learn anyway) Hope you enjoy it Thank you for reading :)
