Cahaya Dalam Germelap

36 4 2
                                        

Citra dan Nayla mengamati Bintang yang semakin menjauh. Sudah dipastikan ia langsung menuju kearah samping dimana Mami dan Papi membangun kos-kos an cowok yang letaknya tepat disamping rumah mereka, bahkan mepet, bukan lagi mepet, tapi udah nempel sama rumah. Malahan ada salah satu kamar, yang nempel banget sama kamar Citra. Cuma dipisahkan oleh dinding. Citra sempat protes dengan kondisi itu. Tapi akhirnya ia urungkan aksi protesnya. Masih enakan demo ke gedung DPR atau ke Rektorat. Masih ditanggapin, minimal sama polisi. Ini demo sama ortu sendiri boro-boro ditanggapin, didengar juga endak. Sempat juga minta tukeran kamar sama Indra dan Gilang, mereka sih oke aja, tipikal adek-adek yang penurut, tapi mereka gak mau beresin kamar. Alhasil, Citra gak sanggup dengan keadaan kamar dua curut itu. Kamar cowok.. satu cowok aja yang nempatin kondisi memprihatinkan. Ini satu kamar dihuni dua cowok, benar-benar kamar paling mengenaskan. Lebih baik kalau Kasur, lemari, dan meja belajar dibuang saja. Gak guna juga, semua barang letak dilantai, sisanya ada yang di meja dan diatas lemari, didalam lemari mungkin isinya kecoa terbang, telur cecak, dan kucing melahirkan. Kasur dijadikan tempat nyimpan pakaian dan perlengkapan gadged. Lantai jadi tempat tidur. Tu dua orang kompak banget. Kayaknya mereka berdua yang kembar, bukan Citra dengan Indra. Dan mantapnya Mami juga jarang ngomel ke mereka. Giliran Citra yang baju kena tumpahan minum dikit diomelin, dibilang ceroboh, pake dilaporin ke Bintang barusan. Untung gak diumumkan ke Masjid.

Oke... sang kakak menyerah dan kembali ke kamar semulanya. Nempel-nempel deh sama kamar kos-an asal gak ditempelin kecoa terbang.

"kalian mau nugas bareng ?" Mami menanyai dua anak yang baru pulang itu.

"iya tante, sekalian aku nginap. Pasti nanti kemalaman soalnya" sahut Nayla.

"oh.. ya udah"

"Tante, nanti kita makan malam dimana ?" Nayla bertanya sambil melirik lembaran-lembaran merah yang sedang berbaring indah ditelapak tangan Mami.

"Mi, ada mie instan sama telor kan ? buat makan malam Nayla." Citra langsung menimpali.

"hahahaha.. ada. Banyak. Buat kamu sekalian, Cit." jawab sang Mami.

"Kok aku juga ?"

"Mami mau candle light dinner sama Papi malam ini, Cit.. Hahaha.."

Sang Nyonya rumah sekaligus ibu Kos itu segera menuju ruang tengah lalu masuk kamar, mengamankan duit kos-an sekaligus mengamankan kacamata rantainya khusus buat ngitung duit. Tersisa Citra dan Nayla di ruang tamu.

"Ya ampun, Cit. pantas aja kamu naksir. Si Bintang itu punggungnya aja ganteng ya, Cit ?" secara tiba-tiba Nayla mengomentari 'suami masa depan'-nya Citra. Citra langsung mengeryitkan dahi. Jangan-jangan...

"awas ya, naksir juga sama dia !"

"iya.. iya dah ! aku jadi semangat mau cari suami masa depan juga. Yang ganteng !"

"Oke. Semoga anda beruntung !"

Kedua cewek itu langsung menuju kamar Citra. Apalagi yang dilakukan dua cewek, didalam kamar, dan dalam kondisi abis nemuiin sesuatu yang bagus. Gosip Time ! Bye-bye tugas...!

Disebuah kamar yang berukuran sedang, seorang cowok sedang termenung dengan earphone ditelinganya. Bintang sedang hanyut dalam lagu sekaligus hanyut dalam pikirannya sendiri. Bintang menyandarkan dirinya pada sandaran tempat tidur dengan melipat kedua tangannya. Pandangannya kosong, namun pikirannya sedang berkelana. Tanpa sadar bibirnya menggumamkan sesuatu, penuh harapan.

"Semoga saja kamu ada ditempat ini. Dan semoga saja disini aku bisa menemukan kamu"

Matanya mulai terpejam.

"Airin..."

Ternyata Mami tidak main-main pada kata-katanya. Citra benar-benar ditinggal bersama Nayla dan kedua adiknya. Mami dan Papi pergi berdua sudah sedari tadi. Pengen menikmati waktu berdua katanya. Citra disuruh masak makan malam. Mau makan malam pake Mie sama telur juga terserah sih. Tapi Citra lebih memilih masak. Lagian masaknya juga berdua Nayla. Lumayan, ada pesuruh.

Citra sudah hampir selesai dengan hasil karyanya dibantu Nayla. Ada omlet, sayur sop, ikan nila goreng, dan kerupuk udang.

"wih, laper... laper... masak apa kakakku yang cantik ?" Gilang sudah duduk rapi diatas meja makan beserta senyum terindahnya yang pernah ada.

"Mie instan sama telor aja nih, dek" Jawab sang kakak asal. Pasalnya, itu menu makanan udah tersaji dengan rapi diatas meja. Dia kan bisa liat sendiri.

"ah, kakakku yang manis bisa aja.. ikan nilanya enak nih dari bau-baunya" Gilang sudah hampir mencomot ikan nila goreng dihadapannya.

"eits.. sabar... belum cuci tangan, belum berdoa. Makannya sama-sama, dek.."

"aku udah datang, kak.. yok, langsung eksekusi" Indra ikut-ikutan duduk rapi dimeja makan. Tu anak makin besar makin jarang manggil Citra dengan sebutan 'kakak', seringnya langsung manggil nama. Mereka seumuran sih, Cuma tua Citra beberapa menit. Ini tumben, mau makan panggil 'kak'. Padahal gak manggil 'kak' juga gak akan sampe gak diizinin makan sama Citra kok sehingga dia harus ngorek-ngorek tempat sampah terdekat daripada kelaparan. Paling ditatar bentar.

"Yuk, udah lapar juga.. gagal deh makan malam sama mami kalian" sekarang Nayla malah ikutan duduk rapi dimeja makan. Hanya tinggal Citra saja yang masih menggoreng kerupuk udang yang sisa dikit lagi dan siap disajikan.

"Eh. Ada Nayla. Kapan datang, Nay" sapa Indra pada sahabat kakaknya.

"tadi sore. Abis kelar rapat. Ada tugas kita" jawab Nayla dan dijawab dengan anggukan oleh Indra.

"heran deh sama kamu, Nay. Kita aja anak-anaknya gak diajak makan sama mami-papi biasa aja, kok kamu yang heboh ? ckck" Citra menimpali sambil menyelesaikan gorengan kerupuknya.

"Kak Nayla barusan resign dari keluarganya mungkin, kak.. jangan-jangan dia kesini mau ngajukan lamaran jadi anak ke mami-papi" Kini Gilang, anak yang kini duduk dibangku kelas 3 SMP ikut berkomentar.

"Eh.. eh.. kualat loh sama kakak.. kakak kutuk jadi jomblo dimasa depan, mau ?" Gilang langsung geleng-geleng kepala dan langsung sungkem sama Nayla.

"Kalian duluan aja makannya" Usai menggoreng kerupuk, Citra malah ngambil rantang, terus masukin masakan yang tadi ia masak kedalam rantang.

Ketiga hamba Allah yang sudah duduk rapi dimeja makan dibuat melongo. 'ni orang kenapa lagi' batin mereka bersamaan. Seperti bisa membaca pikiran mereka, Citra segera menjelaskan.

"Mau ke kos-an bentar. Antar makan malam buat Bintang"

Setelah itu, Citra segera menghilang dari dapur menuju kos sambil menenteng rantang yang sudah diisinya. Gilang dan Indra saling menatap, lalu kompak berkata

"siapa Bintang ?"

Nayla menepuk jidat. "anak kos baru" jawab Nayla singkat. "tadi dititipin sama Mami kalian suruh sekalian masakin juga, kasian dia baru sampe" sambung Nayla berbohong. dan kedua kakak beradik itu pun ber-oh ria. Bukannya si Nayla berniat nutupin, dia lagi malas aja menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume. Laper cuy, itu badan uda dikuras tenaganya sejak dari dengerin Pak Yono dongeng, rapat HIMASI yang Nayla perannya cuma numpang duduk, gosip dikamar Citra juga cukup menguras energi dan pikiran, belum lagi harus nugas malam ini. Bodo amat dengan cerita Citra dan Bintang. Ini ceritanya Nayla butuh amunisi.

"Ya udah kita makan duluan aja yuk." Nayla langsung mencedok nasi disusul Indra dan Gilang.

Mereka bertiga pun makan dengan lahap. Dalam hati Nayla berkata 'lama-lama aja sama Bintang, Cit. Pulang-pulang makan Mie sama telor kamu."

MoonlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang