Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
▒░░░░▒
Sudah satu bulan berlalu. Sejak malam itu, (y/n) telah berjanji untuk membagi rasa sakit yang selalu ia rasakan pada Hyunjin.
Bahkan, karena janji itulah. Disaat traumanya tengah kambuh—yang ia butuhkan, hanya dekapan hangat sang adik.
Tapi sayangnya, disaat ia tengah membutuhkan adiknya. Justru sang adik tidak ada didekatnya.
Karena hal itulah, untuk menghilangkan rasa takut akan mimpi buruk yang baru saja ia alami. (y/n) pun berniat untuk menghirup udara segar, demi menetralkan kembali pikirannya yang tengah kacau itu.
Namun, niat ingin menenangkan dirinya itu. Malah berujung malapetaka.
Bagaimana tidak.
Secara tiba-tiba, disaat dirinya telah puas berkeliling komplek dan ingin kembali lagi ke rumah. Ada sekumpulan orang yang jelas tidak ia sadari, tengah mengikutinya dari belakang.
Belum sampai kakinya menginjak halaman rumah. Cekalan di tangan kanannya, pun menahan dirinya untuk tidak melangkah lebih jauh.
Disaat ia melirik, ternyata salah seorang yang tidak disadarinya tadi—kini tengah tersenyum menggoda.
(y/n) yang jelas tidak paham dan tidak tahu akan bela diri, tentunya langsung bergetar ketakutan.
Saat ini, yang bisa ia dengar hanyalah suara tawa sumbang orang itu.
Sadar jika tengah ditatap ketakutkan oleh (y/n), seseorang itu pun langsung menampakkan senyum miringnya dan berkata,
"ternyata kau yang menjadi alasan seorang Hyunjin menjadi lemah—menurutku, kau biasa saja"
"apa kelebihanmu, sampai-sampai membuat dia keluar dari kelompok kami hah?!" lanjutnya, seraya mempererat cengkraman di pergelangan tangan (y/n).
Mendapat bentakan dan tindakan kasar dari orang itu. (y/n) yang tidak paham betul akar permasalahannya apa, tentu langsung terlonjak kaget.
"lihatlah. Baru dibentak seperti ini, kau langsung ketakutan. Tidakkah kau mati saja?" lagi-lagi seseorang itu mengeluarkan nada ejekan pada (y/n).
Akan tetapi, di detik yang sama.
"—JAGA MULUTMU!"
Bagai mendapat keberuntungan. Dari arah pintu rumah, nampaklah Hyunjin yang saat ini tengah menampakkan ekspresi wajah—yang sebelumnya tidak pernah dilihat (y/n).
(y/n) yang sangat jelas bisa melihat wajah dingin sang adik. Pun semakin bergetar ketakutan.
Tapi, entah kenapa. Walaupun ia ketakutan, ia masih tetap berlari mendekati sang adik dan segera bersembunyi dibalik punggung lebar adiknya itu—disaat cengkraman di tangannya tadi sedikit merenggang.