Kau tidak diijinkan berbicara

17K 396 3
                                    

*** Konten dewasa, 18+! Yang tidak suka jangan dibaca.

Matahari bersinar melalui jendela dan Lucas menyipitkan matanya saat dia perlahan-lahan bangun. Tanpa melihat dia meraba sisi lain ranjangnya. Ketika dia merasa kosong dia terbangun. Dia melihat sekeliling ruangan untuk mencari Mark. Dia tidak melihatnya, tapi dia mendengar suara dari kamar mandi. Dia berjalan menuju pintu yang tertutup dan menempelkan telinga ke pintu. Suara Mark terdengar.

"Maaf, Wendy. Apakah kau ingin aku berbicara dengannya ?" ujar Mark.

Rahang Lucas mengeras. Dia mendengar suara yang familir dari ponsel Mark.

"Aku akan ke sana," Lucas mendengar ucapan Mark.

Ketika Lucas menarik diri dari pintu, pintu terbuka dan Mark melangkah keluar dengan rambut basah dan handuk di pinggangnya. Meskipun cemburu, dia merasakan penisnya bergerak. Mark menatapnya dengan heran. Dia mendekati Lucas dan meraih satu tangannya.

"Jangan cemburu. Aku akan pergi menemui Wendy karena Chanyeol lupa hari jadi mereka. Dia benar-benar sedih dan dia butuh seseorang untuk diajak bicara."

"Wow, kalian masih sangat dekat," Lucas memutar bola matanya.

"Aku akan segera kembali. Kami hanya akan bicara," ujar Mark dengan tatapan memohon.

Lucas membiarkan Mark pergi. Dia memperhatikannya ketika dia berpakaian dan mengambil kunci dan dompetnya.

"Mark, apa yang akan kita lakukan untuk-," ucapan Lucas terpotong ketika Mark buru-buru meninggalkan rumah. Lucas merasa sakit tapi dengan segera mengusir pikiran-pikiran negatif. Mark tidak akan melupakan hari ini, pikir Lucas. Dia tidak akan melakukannya.

Pada saat Mark meletakkan Wendy yang lemah di sebuah taksi, sudah hampir jam 9 malam. Mark mengira dia tidak akan keluar lama, tapi mereka pada akhirnya menonton bioskop dan makan. Ini semua agar dia bisa mengalihkan perhatian Wendy dari rasa sakitnya atas Chanyeol yang pelupa.

Mark menepuk sakunya untuk mengambil ponsel dan melihatnya. Matanya melebar ketika dia menyadari bahwa dia belum mengisi baterai malam sebelumnya dan sekarang mati. Dia memanggil taksi dan bergegas pulang.

Sepanjang perjalanan dia tenggelam dalam pikirannya ketika dia berpikir tentang reaksi Lucas padanya yang menghilang sepanjang hari. Mark tiba di lantai tempat tinggalnya dan berjalan menuju pintu apartemennya. Dia membuka pintu dan melangkah masuk.

"Lucas!" panggil Mark di dalam ruangan yang gelap. Tidak ada satu lampu pun yang menyala di apartemen.

"Lucas, aku minta maaf. Aku lu-," ucapan Mark terputus saat lampu menyala di kamar.

Lucas ada di ranjang dan ada flogger di tangannya. Dia memukulkannya ke lututnya dengan tatapan yang mengintimidasi.

"Kemari," ujar Lucas.

Mark menelan ludah. "Lucas..."

"Kubilang kemari," ujar Lucas dengan tegas. Ekspresinya tidak terbaca dan sepertinya dia sedang tidak ingin bicara.

Mark berjalan ke ranjang. Langkahnya lambat dan di setiap langkah putingnya menjadi lebih keras dan penisnya bergerak. Pada saat dia mencapai Lucas, dia sudah ereksi sepenuhnya. Lucas menatap Mark dan meraih kancing kemejanya. Mark memegangi lengannya yang berada di bajunya dengan erat. Dia melihat sekeliling dan melihat bahwa Lucas telah meletakkan pelumas, segulung lakban, tali dan penjepit puting.

Mata Mark membelalak kaget. "Lucas, aku terlambat karena...."

Lucas menutup mulut Mark dengan tangannya. Dia menggelengkan kepalanya dalam diam.

SOTUS : A BDSM Story [ LuMark Ver ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang