2,5 tahun kemudian~
"Apa polisi masih mencarinya?" tanya Jae Joon. (Kim Jae Joon. Tokohnya pernah muncul di chapter 1. Kalo lupa sama Jae Joon, baca chapter 1 lagi, wkwkwk)
"Begitulah." jawab Seo Jung Hyu seraya memperhatikan Taehyung yang tengah terbaring lemah diatas brankar.
"Sudah dua tahun lebih, Kim. Apa kau tak bosan tidur selama itu?" monolog Jae Joon.
"Jae Joon. Paman ingin bicara serius padamu." ujar Seo Jung Hyu yang ternyata adalah Paman dari Kim Jae Joon.
Jae Joon mengangguk. Dia melihat Taehyung sekilas sebelum mengikuti Pamannya.
Langkah kaki Jae Joon serta Seo Jung Hyu melangkah menuju area parkiran. Keduanya saling diam. Tak ada yang memulai topik pembicaraan.
●●●
"Paman takut jika polisi mengetahui keberadaan Taehyung." ujar Seo Jung Hyu memecah keheningan.
"Jika Taehyung tertangkap. Habislah kita semua." lanjut Seo Jung Hyu.
"Tapi tenang. Kita mempunyai banyak bukti untuk menyelamatkan Tehyung dari jeratan hukum." ujar Seo Jung Hyu lagi.
"Apa buktinya?"
"Taehyung mempunyai surat ijin resmi dari badan perdagangan dunia. Dan jangan lupakan jika dia adalah orang paling berpengaruh dalam perekonomian Korea Selatan. Dengan itu, tak ada yang berani untuk menangkapnya. Jika ada, maka habislah Korea."
"Kau benar. Tapi, bagaimana dengan musuh-musuh Taehyung? Apa mereka bisa dibodohi dengan cara seperti itu? Kurasa tidak." Kim Jae Joon berujar.
"Itu yang Paman pikirkan. Musuh Taehyung sama liciknya dengan Taehyung. Sulit untuk membuat mereka percaya." setelah mengatakan itu Seo Jung Hyu menghela nafas kasar. "Paman takut, karena mereka... mengincar Taehyung." lanjutnya dengan menunduk.
"Maksudnya?" tanya Jae Joon.
"Mereka menginginkan kematian Taehyung!" seru Seo Jung Hyu prustasi.
Jae Joon terdiam. Dia memikirkan bagaimana cara agar Taehyung dapat selamat dari para musuhnya.
"Bagaimana jika kita membawa Taehyung ke Daegu?" usul Jae Joon setelah lama diam.
"Menyembunyikannya disana?" tanya Jung Hyu yang diangguki Jae Joon.
"Aku mempunyai teman disana. Dan aku rasa dia mau menampung Taehyung di rumahnya." jelas Jae Joon.
Seo Jung Hyu mengangguk. Dia lalu mengerahkan anak-anak buahnya untuk menyiapkan jet pribadi. Setelah itu, dia serta Jae Joon pun kembali ke ruangan Taehyung.
Sesampainya, Jae Joon langsung mengangkat tubuh Taehyung setelah mencopot semua peralatan medis yang menempel pada tubuh Taehyung.
Jae Joon berjalan diikuti dengan Seo Jung Hyu. Mereka bertiga menuju dimana pesawat jet berada.
Setelah mendengar usulan dari Jae Joon untuk menempatkan Taehyung di Daegu, akhirnya Seo Jung Hyu pun setuju. Paman dari Jae Joon itu langsung membawa Taehyung ke Daegu malam ini.
"Aku tidak bisa ikut dengan kalian. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan disini. Aku pergi dulu, hati-hatilah." Jae Joon hendak mencegah Jung Hyu, tapi gagal. Pria yang menjadi Pamannya itu berlari menjauh dengan sangat cepat.
"Ada apa dengannya?" monolog Jae Joon saat melihat sikap Jung Hyu tadi.
●●●
"KENAPA KAU MEMBAWANYA KESINI, BODOH!"
"Seojin-ah, tolonglah. Bantu aku kali ini saja, kumohon." pinta Jae Joon pada laki-laki yang bernama Seojin. Ah tidak, lebih tepatnya Kim Seo Jin.
"Tidak! Pokoknya tidak! Sudah sana!" balas Seo Jin seraya mencoba menutup pintu rumahnya, tapi dengan cepat dihalangi oleh Jae Joon.
"Seojin-ah, kumohon."
"Rumahku ini kecil, sempit, dan tak layak huni. Jadi, jika aku menampungnya disini, malah makin sempit lagi!" seru Seojin kesal.
"Seojin-ah...,"
"Ck, baiklah! Dia boleh tinggal di rumahku! PUAS KAU!!"
"Sekali..., aku puas sekali! Terimakasih, kau memang hyung terbaikku!" ujar Jae Joon diakhir tawa. (Hyung sama dengan Kakak laki-laki jika yang menyebutnya adalah laki-laki. Kalau yang menyebutnya perempuan, maka itu adalah Oppa, bukan Hyung)
"Tolong jagalah dia seperti adikmu sendiri." ucap Jae Joon tiba-tiba.
"Berapa umurnya?"
"Dua puluh lima tahun." Seojin hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Jae Joon, karena dia lebih tertarik mengamati Taehyung yang berada didekat Jae Joon.
"Taehyung selalu berteriak ketika bermimpi buruk, ja-"
"Apa dia selalu bermimpi buruk?" potong Jae Joon cepat.
"Kurasa. Setiap aku tidur di rumahnya. Aku selalu mendengar dia berteriak, seperti... orang ketakutan. Tapi saat kutanya, dia menjawab itu hanyalah mimpi biasa, tak ada yang perlu dikhawatirkan." jelas Jae Joon seraya menirukan cara Taehyung berbicara.
"Aku rasa mimpinya bukan mimpi biasa." ucap Seojin tiba-tiba. (Kan Taehyung mimpiin aku. Jadi, gak ada yang ga biasa dong, wkwkwk)
●●●
Huhuhu, sumpah aku lagi sibuk banget. Apalagi hari-hari ini kena virus males, pengennya rebahan aja.
So, jangan lupa votemment yaa...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Prometheus
Jugendliteratur[FOLLOW SEBELUM BACA] "I'm in hell and heaven." lirih Taehyung diiringi air mata yang menetes bak hujan turun. Taehyung bingung. Segala cara sudah ia coba, tetapi semuanya sia-sia. Dia tetap tidak bisa melenyapkan sisi tergelap yang ada pada diriny...
