[Socialite] Pillow Talk

414 23 57
                                        

Jakarta, Juli 2017

Giani menyandarkan punggung ke sandaran tempat tidurnya. Ia merasa sangat, sangat lelah. Tadi pagi ia mengambil rapor Gina -- putri sulungnya yang baru lulus TK-A -- dan ternyata gadis kecil itu bukanlah siswa terbaik di kelasnya. Tentu saja preschool internasional yang konon mendidik anak-anak dengan metode terbaru dan terefektif itu tidak membanding-bandingkan para siswa secara gamblang karena itu akan berdampak buruk pada mental mereka. Namun Giani bertanya langsung pada guru TK Gina apakah putrinya adalah yang paling cerdas di kelas. 

Mulanya sang guru enggan memberikan jawaban. Setelah didesak dan diancam secara halus, akhirnya guru itu pun menyebutkan suatu nama yang dikenal Giani. Putri bungsu salah satu anggota geng sosialitanya, Hannah, yang juga menantu dari tangan kanan ayah mertuanya, Barkah Syahreza. Secara kekayaan, suami dan mertua Hannah jelas jauh di bawah Barkah dan Aksha. Namun bagaimana bisa kecerdasan anaknya mengalahkan kecerdasan Gina?

Belum lagi si kembar Gary dan Gavin berulah besar siang ini. Ketika Giani sedang menjamu makan siang ibu-ibu geng sosialitanya, kedua anak lelaki yang baru berusia tiga tahun itu berlari-larian terus sampai membuat Fitri, babysitter mereka, kewalahan. Gary menumpahkan teh ke gaun Bu Farida, istri ketua DPR, dan Gavin merobek gambar Gina sehingga gadis kecil itu menangis. Walaupun Bu Farida mengatakan tidak apa-apa -- Gary hanya anak kecil, Giani tahu wanita paruh baya itu akan membicarakannya di kalangan ibu-ibu pejabat senior. 

Yang paling parah, Giani sendiri sebenarnya sudah uring-uringan sejak ia bangun. Aksha pergi ke luar kota sejak hari Kamis lalu dan belum pulang sampai hari ini. Padahal janjinya Jum'at malam ia sudah pulang. Hari ini Sabtu. Urusan partai, katanya. Barkah adalah pendiri Partai Persatuan Nasional, dan sebagai putra satu-satunya, Aksha diharuskan ikut terjun politik, meskipun ia tidak suka. Sedangkan Daniya, adik bungsu Aksha, yang memang sarjana ilmu politik dan sudah masuk ke partai lebih dulu daripada kakaknya, malah tidak dipilih menjadi penerus ayahnya. Apa boleh buat, masyarakat Indonesia yang masih kuat patriarkinya lebih suka melihat pemimpin laki-laki daripada perempuan. 

Hal-hal kecil mengganggunya sepanjang hari. Mulai dari cerita Lilis, anggota gengnya yang sedang hamil enam bulan, ditemani suaminya berbelanja pakaian bayi untuk ketiga kalinya -- Giani jadi teringat Aksha tidak menemaninya tiga hari lalu saat ia bertemu dengan Tiara dan Danar -- sampai ketika akun Instagram artis kondang Cynthia Karmin muncul di explore-nya. Cynthia sedang hamil delapan bulan  dan masih terlihat langsing -- Giani jadi tersadar bahwa tubuhnya selalu mekar tidak karuan di trimester ketiga kehamilannya. Bukan cuma perutnya, tetapi juga dagunya, lengannya, dan kakinya membengkak. Apalgi saat hamil si kembar. Ia sampai tidak berani mengunggah fotonya saat bulan-bulan terakhir. 


Pintu kamarnya berderit. Suaminya yang mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang masuk ke dalam. Tangannya sibuk membuka kancing paling atas, dan matanya setengah terpejam. 

"Sayang, aku pulang," ujarnya lesu. "Bajuku sudah ..." Ia terdiam begitu melihat tumpukan kaos dan celana pendek di atas kasurnya, di dekat kaki istrinya yang sedang bermain ponsel. "Makasih, Sayang. Kamu gimana hari ini?"

Giani masih terdiam. Ia selalu mengatakan bahwa ia akan mendukung Aksha, tetapi dalam hati ia sebenarnya ingin ditemani, ingin dimanja. Awal-awal pernikahannya, Aksha menjanjikan itu. Sampai sekarang, Aksha pun masih berusaha menemaninya sebisa mungkin, tetapi semakin lama ia semakin sibuk. 

"Sayang, kok diam, sih? Ditanya suami, loh, ini. Anak-anak apa kabarnya?" cecar Aksha. 

"Baik, Mas, bagi seorang istri yang hamil besar, ditinggal suami yang katanya pulang Jum'at malam, tapi baru pulang Sabtu malam," sindir Giani. 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 22, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Sketsa HarianStories to obsess over. Discover now