Song of Love part 14

12 0 0
                                        

Sebuah caffe kecil menjadi tujuan Cakka dan Shilla. Cakka yang memaksa Shilla untuk menemaninya menyantap makan siang karena rasa laparnya benar-benar tak bisa ditahan.

Sepi bahkan suara sendok yang digunakan Cakka saat beradu dengan piring pun bisa didengar Shilla dengan jelas disela-sela lagu Lucky milik Jason Mraz yang mengalun memenuhi cafe kecil itu. Gadis cantik itu diam sambil mengaduk-aduk asal cappucinno float pesanannya dengan sedotan setelah tadi ia memutuskan tidak memesan makanan dengan alasan masih kenyang.

Dipindainya wajah tampan yang duduk berseberangan dengannya dan sedang asik menikmati nasi gorengnya dengan cara yang sangat meyakinkan jika ia memang sangat lapar. Lahap sekali. Sampai sebuah kesimpulan besar didapatnya garis wajah Cakka dan Rio memang sedikit mirip tapi benar-benar sangat samar sulit menyimpulkan langsung jika mereka bersaudara apa lagi sedarah. Sampai Cakka mendesis meminta perhatiannya, memerintahkannya untuk mendekatkan telinganya karena pria itu akan bersuara lirih agar tidak didengar orang lain.

"Makanannya nggak enak!" Bisik Cakka dengan polosnya.

Shilla memutar kedua bola matanya. Ajaib sekali kelakuan laki-laki di hadapannya itu. "Kenapa kamu baru bilang nggak enak setelah makanannya tandas nggak tersisa barang sebutir nasi pun?" Cibirnya.

Cakka nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Kepepet laper." Jawabnya tanpa dosa.

"Aku boleh tanya?" Ijin Shilla ragu.

"Bayar!" Jawab Cakka disambung dengan menyeruput orange juice pesanannya.

"Ya boleh lah." Lanjutnya untuk menjelaskan jika sebelunya ia hanya bergurau.

"Kamu beneran saudaraan sama Rio?"

Kening Cakka berkerut seperti mencerna pertanyaan Shilla dan sedetik kemudian ia terpingkal.

"Kenapa? Nggak mirip sama sekali ya?"

Sebuah senyuman kaku terukir dibibir mungil Shilla. Mudah sekali sepertinya bagi pemuda di hadapannya itu untuk menebak jalan pikirannya.

"Gue sama dia punya bokap yang sama tapi nyokap kita beda dan saham nyokap gue pas produksi gue itu lebih gede jadinya gue mirip beliau bukan bokap gue." Terang Cakka dengan mimik wajah yang ia buat serius walaupun dengan pemilihan kata yang konyol.

"Tapi ya emang nyatanya gue sama Rio itu putra Krishna Haling."

Mulut Shilla membulat sambil mengangguk paham. Bahasa yang digunakan Cakka untuk menjelaskan apa yang ingin ia ketahui membuatnya puas dan tidak lagi ingin menyinggung hal lain karena semuanya terdengar sangat mudah.

"Lo tau dimana Rio biasa nongkrong?" Tanya Cakka setelah membiarkan Shilla bereaksi. "Tuh anak belum pernah gue ajarin gimana cara menghormati kakaknya." Kata-kata yang terdengar begitu sok ditelinga Shilla namun justru membuatnya terkikik geli.

"Balapan diarena deket sekolah, night club, rumah Gabriel, nggak ada yang bener pokoknya tu orang." Jawab Shilla setelah tawanya mereda.

"Balapan?" Cakka mengalihkan perhatiannya pada jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Arena didekat sekolah barunya sudah cukup ia ketahui saat dulu memata-matai Rio sedikit merutuki kebodohannya karena bertanya tentang hal yang sudah jelas ia ketahui jawabannya.

"Balik yuk!" Ajak Cakka sambil mengambil jaketnya yang tersampir dikursi. Dan tanpa bertanya lebih banyak lagi Shilla mengikutinya.

****

Tatapan beberapa orang dengan penampilan urakan itu tertuju pada si pemuda tampan yang melangkah dengan demikian jumawanya. Dagunya sedikit ia naikan, dihiasi tatapan elang yang membuat nyali orang-orang disekitarnya semakin ciut. Mereka mengenalnya. Cakka, si raja balap dari kelompok lain yang beraliran seperti mereka.

Song of LoveStories to obsess over. Discover now