Song of Love part 15

11 0 0
                                        

Hey hey hey you're the one

Hey hey hey you're the one

Hey hey hey I can't live without you

Sayup suara merdu itu tertangkap pendengaran gadis manis yang tak sengaja melewati selasar depan ruang musik untuk menuju toilet. Membuat tubuhnya kembali menegang. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti tak mampu lagi bersikeras jika ia tak terekat pada segala yang ada pada pemilik suara tenor itu. Falseto yang melengking manis pada ujung bait benar-benar menjadi sebuah magnet statis yang memaksa siapapun pendengarnya untuk memujanya.

I'll come running to you

Fill me with your love forever

Promise you one thing

That I would never let you go

'cause you are my everything

"Suara siapa, Fy?" Tanya Sivia setelah tersadar dari ketersimaannya. Ia yang juga sedang berada bersama Ify sama sekali ia belum pernah mendengarkan suara malaikat itu sebelumnya.

"Rio." Jawab Ify sangat lirih bahkan Sivia pun hanya mengetahui jawaban atas pertanyaannya dari gerakan bibir mungil sahabatnya.

"Serius?" Pekik Sivia sambil melebarkan mata sipitnya membentuknya menjadi bulat penuh. Namun dengan segera Ify membekap mulut sahabatnya itu agar seseorang yang sedang menjadi objek pembicaraan mereka tidak menyadari keberadaan mereka. Kemudian Ify menggerakkan kepalanya naik turun mengisyaratkan apa yang dikatakannya tidak salah dan ia tidak bergurau sama sekali.

Dari celah tipis dari sedikit sisa daun pintu yang terbuka Ify dapat melihat Rio duduk tepat dibawah stage kecil dengan gitar dipangkuannya. Jarak mereka tidak terlalu jauh bahkan hingga Ify dapat memastikan jika mata Rio sedang terpejam. Nampak ia sangat lelah entah karena apa. Gadis manis itu terhanyut memanfaatkan kesempatan kecil ini untuk memuntahkan segala rasa yang selalu ia coba tahan kuat-kuat dengan segenap rindunya pada sosok arogan itu.

Sungguh Ify benci saat seperti ini. Saat pasukan rindu dan benci berkonspirasi menyiksanya habis-habisan. Saat kedua rasa tersebut seakan menghakiminya, menyalahkan hal apa saja yang ia perbuat. Ia diam, ia memberontak namun ada hendak dalam hatinya untuk segera memeluk pria yang masih menghuni tahta tertinggi hatinya. Namun jika ia memilih kembali berdiam pada dekapan Rio egonya tak akan meluluskannya begitu saja. Enak sekali hidup Rio jika kesalahan se-fatal itu tak mendapat ganjaran sama sekali.

Ify terhenyak saat ia mendapati tiba-tiba saja kelopak mata Rio terbuka tak sengaja membangun kontak dengan bola mata pekatnya. Dan selalu saja bahkan saat ini ia selalu kalah dengan Rio jika jendela hati mereka itu beradu. Seperti magnet bumi yang tak pernah mengijinkan apa yang berpijak diatasnya untuk meninggalkannya, sedahsyat itu lah daya tarik sinar mata Rio untuk Ify gadis itu bahkan tak mampu lagi mengalihkan perhatiannya.

Bibir tipis Rio melengkung membentuk sebuah senyuman manis penuh euphoria mendapati gadis yang sejak tadi menari dipikirannya saat ini berdiri kurang dari sepuluh meter dari tempatnya duduk. Tak ingin mangsanya kabur cepat-cepat ia bangkit dan berlari keluar mencekal pergelangan tangan Ify yang sudah mencoba berlari meninggalkannya.

"Semakin lo berontak, semakin sakit tangan elo." Ancam Rio sambil semakin merapatkan keempat jarinya dengan jempolnya membuat Ify sedikit mengerang kesakitan karena cengkeraman tangan yang bahkan mampu menenggelamkan kepalan tangannya sendiri.

"Vi, tolong tinggalin kita. Dia aman sama gue." Komando Rio pada Sivia yang sudah terpaku ditempatnya tak tahu harus berbuat apa.

"Tapi lepasin Ify, kak." Mohon Sivia tak tega melihat sahabatnya kesakitan.

Song of LoveStories to obsess over. Discover now