Bab 2: Please, Marry me

33.6K 3K 103
                                        

"Yang Mulia tiba!"

Pria berambut perak itu langsung menghampiriku, ditemani dengan seorang berkacamata. Dia bahkan tidak menatapku sedikit pun. Diraihnya pedang yang disodorkan padanya oleh pria yang mengenakan baju setengah besi, lalu diarahkannya padaku.

"Jeneva Zolawa, kau tahu kesalahanmu?"

Aku yang berdiri di atas lututku dengan tangan terikat ke belakang lalu menatap nanar pria yang berdiri di hadapanku itu tanpa bisa berkata-kata. Ya, dia adalah Nox, Lord of Albatraz. Wajahnya berkali-kali menatapku tanpa belas kasihan.

Kedua orangtuaku dibunuh olehnya karena ayahku terbukti menipu kerajaan Albatraz yang selama ini menjadi sekutu Morrac. Aku hanya bisa pasrah, tapi anehnya, aku selalu terbangun lagi setelah menghadapi kematianku. Di hari yang sama, yaitu dua hari sebelum kematianku. Ya, aku kembali lagi ke masa lalu dan ini sudah kelima kalinya aku mengulanginya!

Entah kenapa selalu seperti ini, padahal aku sudah mencoba mengikhlaskan kematianku. Sampai kapan? Berapa kali lagi aku mengalami kejadian yang bahkan menurutku tidak masuk akal ini. Aku lelah, tidak bolehkah aku beristirahat dengan tenang? Lebih baik mati selamanya daripada hidup seperti ini. Atau lebih baik aku menghindari kematian saja?

Namun, aku tidak tahu bagaimana menghentikannya. Berbagai cara sudah kulakukan sebelumnya. Kabur? Tidak mungkin bisa kabur darinya. Apa aku harus membujuk Sang Lord? Bernegosiasi? Ah, atau merayunya? Tapi sepertinya itu hal yang sulit. Yang Mulia Nox yang sangat dingin dan tak punya hati itu sangat susah diajak bicara. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana lagi? Aku sudah kehilangan akal.

Saat pedangnya berniat menebas leherku, aku langsung memejamkan mataku, "Saya mencintai Anda, Yang Mulia. Sudah lama saya menyukai Anda!"

Oh, hal gila apa yang kuucapkan barusan?

"..."

Anehnya, ketika aku membuka mata, aku masih berada di tempat yang sama! Pria yang berdiri di hadapanku itu tiba-tiba mengangkat daguku menggunakan benda tajam itu.

"Apa yang barusan kau katakan?" Matanya seperti sebuah anak panah yang sedang membidikku.

Ini benar-benar di luar dugaanku. Akhirnya pria itu mengucapkan kalimat yang berbeda setelah berkali-kali membunuhku. Maafkan aku harus berbohong. Walaupun harus menjadi wanita jahat sekalipun, aku akan melakukannya agar bisa hidup dengan tenang.

"Kau sungguh tidak takut mati, ya?" tanyanya lagi, tanpa ekspresi.

"Saya... sudah pernah mati."

Tentu saja, karena aku akan hidup lagi setelah ini. Aku yakin sekali.

Matanya yang semula berwarna kuning kecoklatan itu perlahan berubah menjadi merah. Apa cuma penglihatanku saja? Tak lama aku menatapnya, aku seperti terhipnotis. Mataku tiba-tiba terasa berat sekali sampai ingin menutup.

Astaga, Gelap!

Apa aku sudah mati untuk ke enam kalinya?

Apa aku sudah mati untuk ke enam kalinya?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
The Princess PrisonerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang