Bab 14: First Aid

18.6K 1.7K 40
                                        


"Yang... Mulia... Ada apa?"

Saat mendapati matanya aku buru-buru mengalihkan pandanganku darinya. Aku hampir lupa dengan kekuatan matanya.

"Aku berjanji membantumu tertidur..." dia menjawab dengan nada datar dan tegas. Tunggu, kapan dia berjanji? Aku bahkan tidak tahu, tapi benarkah? Seorang Nox membantuku? Ada apa ini?

Aku meliriknya dengan heran. Malam itu dia mengenakan kemeja tidur tipis dan celana berwarna hitam. Baju itu menampilkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Tidak, kenapa aku malah membayangkan tubuhnya? Rambutnya agak acak-acakan seperti habis keramas dan bibirnya... aku menghentikan tatapanku saat melihat bibirnya yang tipis itu. Oh, aku hampir lupa, aku harus meminta maaf padanya tentang kejadian semalam!

"Yang Mulia, saya benar-benar menyesal atas perbuatan saya semalam..." aku menyatukan tanganku seperti bertapa.

"Semalam?"

Dia mengulangi kata-kataku yang rancu itu. Apa dia pura-pura lupa? Tidak mungkin dia melupakan ciuman pertamanya kan?

"Itu... intinya saya melakukannya agar bisa tidur. Maksud saya..." aku ragu-ragu menunjuk bibirku.

"Maksudmu ciuman itu?"

Tepat sekali! Aku tertohok sendiri dengan kata-kata itu. Aku hanya mengangguk pelan dan memasang senyum aneh di wajahku.

"Apa kau benar-benar hanya bisa tertidur jika menyentuhku? Atau kau sedang bermain-main sekarang?"

"Tidak, Yang Mulia!" Aku langsung menjawabnya dengan yakin, "Itu tidak mungkin, Anda lihat sendiri saya tertidur setelah itu." Aku takut dia akan mencekikku saat ini.

"Kalau begitu, buktikan padaku." Dia meregangkan tangannya ke arahku sambil melotot, "Ambil tanganku dan tidurlah. Aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk ini."

Aku mengangkat alisku, apa katanya? Bagaimana aku bisa tidur? Memegang tangannya lalu tidur sambil duduk begini? Aku menghela nafasku.

"Kalau begitu, bisakah Anda duduk di sini?" Tanpa basa-basi aku menunjuk arah samping tempat tidur. Dia mengernyitkan dahinya, seperti tidak setuju, tapi akhirnya dia mengambil lagi tangannya dan mengikutiku.

Aku membaringkan tubuhku perlahan di tempat tidur saat dia sudah duduk di pinggir. Bukankah dia bilang mau menolongku tidur? Yah, aku sedikit tenang karena sepertinya dia melupakan ciuman itu.

"Yang Mulia, maafkan saya..." aku memegang tangan kirinya yang berada di tempat tidur itu. Sesekali kupastikan bahwa dia tidak memasang mata merahnya kali ini. Dia terlihat dingin seperti biasanya. Aku tahu dia melakukannya dengan terpaksa. Kalau Claran kembali, apa yang akan dilakukannya ya pada wanita itu? Menghukumnya? Aku menahan senyumku membayangkannya, lalu mulai memejamkan mataku.

Beberapa menit berlalu dengan diselimuti keheningan, ternyata aku tidak bisa tidur juga! Rasa ngantuk itu tidak datang saat kupegang tangan Nox. Bagaimana ini? Aku menggigit bibirku, memikirkan cara terbaik agar bisa tidur. Bisa-bisa pria yang berada di sampingku ini menyebutku pembohong.

"Kau belum tidur, kan?" Dia tiba-tiba memecah keheningan. Dengan takut-takut aku membuka mataku dan melepaskan tanganku darinya.

"Sudah kuduga. Ini tidak berhasil," katanya lagi.

Aku lalu duduk dan menggigit kukuku, "Sepertinya saya tidak usah tidur malam ini. Anda lihat? Saya sengaja mengumpulkan buku-buku itu untuk menemani saya. Jadi, Anda bisa kembali ke kamar Anda, Yang Mulia..."

"Kau yakin?"

Aku terpaksa tersenyum untuk meyakinkannya. Dia seperti memutar matanya. Apa yang dipikirkannya?

The Princess PrisonerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang