Bab 13: Love Poison

18.6K 1.7K 13
                                        


Tiba- tiba suara burung membangunkanku. Suara burung? Perasaan aku tidak pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya. Aku buru-buru membuka mataku dan mendapati cahaya matahari menyirami tubuhku. Cermin di dekat sana memperlihatkan wajah lelahku. Bagian bawah mataku tampak menghitam.

Tunggu, sejak kapan ada cermin di sini? Ini seperti kamarku di tower itu... Aku sudah kembali ke kamarku semula? Astaga, dia benar-benar mengeluarkanku dari tempat itu?

Aku langsung teringat kejadian sebelum aku tertidur. Kusentuh bibirku dengan telunjuk dan menyusurinya perlahan. Aku benar-benar mencium Nox? Walaupun itu bukan ciuman pertamaku, tapi sudah lama aku tidak melakukannya. Ngomong-ngomong tentang ciuman pertama, aku merelakannya dengan Alfred. Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya.

Aku tersenyum, paling tidak dia sudah berbaik hati mengeluarkanku dari ruangan gelap dan pengap itu. Sudah lama rasanya tidak menghirup udara sesegar ini. Aku ingin ke taman, tapi aku berjanji tidak akan kemana-mana lagi. Bagaimana ini?

"Rupanya Anda sudah bangun, Nona."

Catia tiba-tiba muncul dari pintu kamar itu. Dia sudah membawakan teko dan cangkir untukku. Aku tersenyum padanya. Senang sekali bisa melihatnya lagi.

"Apa Nona baik-baik saja?" Gadis itu meletakkan semua yang dibawanya di mejaku, lalu memegang tanganku. Aku mengangguk penuh semangat.

"Syukurlah, saya khawatir tidak bisa bertemu Anda lagi... Sekarang saya diperintahkan untuk menjaga Nona tetap di kamar oleh Yang Mulia..."

Senyumku langsung memudar. Catia mengembangkan senyum padaku, "Ini lebih baik daripada Nona dikurung di tempat kemarin. Tenang saja, saya akan menemani Anda."

"Kau benar. Kemarin itu... tiga hari yang begitu suram."

Tok. Tok. Tok.

Suara pintu yang terdengar keras itu memotong pembicaraan kami. Dengan cepat Catia membuka pintu itu, lalu sedikit membungkuk.

"Oh, Yang Mulia Pangeran... Tapi Nona baru saja..."

Gill? Aku langsung berdiri saat melihat pria itu muncul dari balik pintu. Catia pun terpaksa mempersilakan pria itu masuk dan meninggalkan kami berdua. Aku tersenyum saat dia mendekatiku dan sedikit mengacak rambutku.

"Syukurlah, sepertinya kau baik-baik saja..." ujarnya dengan senyuman khasnya.

"Tadinya aku hampir tidak baik-baik saja."

"Kupikir kakakku tidak mendengarkanku... Aku sangat mencemaskanmu karena wanita gila itu tidak bisa ditemui." Dia duduk di sofa yang ada di kamar itu. Aku pun duduk di sampingnya dengan wajah bingung.

"Maksudmu Claran? Dimana dia?"

"Dia sedang berada di Kuil Pegunungan Mars. Tenang saja, jika dia kembali, tamat riwayatnya."
Gill tersenyum menunjukkan giginya yang besar dan putih itu.

"Sepertinya dia mengutukku tidak bisa tidur selamanya. Aku sampai mau mati karenanya. Apa kau tidak bisa mengembalikan keadaanku?"

"Hanya orang yang memberimu magis yang bisa menyembuhkannya. Bertahanlah, kudengar kakakku sudah membantumu... Tapi aku penasaran kenapa hanya dia yang bisa membuatmu tertidur?"

Aku terdiam sejenak, teringat bagaimana aku bisa tertidur semalam. Kenapa Gill bisa tahu semua itu? Apa dia juga tahu tentang kejadian semalam? Setelah mencium dan memeluk Lord sialan itu baru aku bisa menutup mataku. Apa sebenarnya mantra yang diucapkan wanita itu? aku benar-benar lupa. Tak lama aku tersenyum tanpa mengiyakan.

"Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu yang aneh?" Wajah pria di depanku itu tampak penasaran.

"Tidak... aku yang melakukan sesuatu... Sepertinya aku membuat suatu kesalahan." Dengan suara pelan aku ragu-ragu mengatakannya. Tapi sepertinya Gull harus tahu tentang situasiku.

The Princess PrisonerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang