Istana Morrac
"Jene! Ayahmu ditahan di Albatraz, kau malah tenang-tenang saja."
Seorang wanita paruh baya yang memiliki rambut abu-abu terang menyerupaiku, mendatangi kamarku pagi ini. Aku yang baru membuka mataku terdiam memandanginya. Kukerjapkan mataku berkali-kali tanpa berkata apa pun. Ini bukan pertama kalinya aku mendapati ibuku berteriak seperti ini karena aku selalu terbangun kembali setelah menemui kematianku. Mungkin tidak ada yang percaya jika aku menceritakannya, tapi ini benar-benar terjadi padaku. Barusan aku menghadapi hukuman mati di hadapan petinggi Albatraz dan dalam sekejap aku kembali ke Morrac, tanah kelahiranku.
Morrac dan Albatraz merupakan dua kerajaan yang jaraknya berdekatan. Tidak ada masalah selama ini sampai akhirnya ayahku, pemimpin Morrac melanggar perjanjiannya dengan pihak Albatraz. Perjanjian apa itu? Morrac dan Albatraz adalah wilayah yang berdiri sendiri, dua belah pihak sepakat akan saling membantu jika terjadi perang atau perebutan sengketa.
Baru-baru ini Albatraz gencar mengambil alih wilayah baru. Namun, ayahku tidak mengirimkan bantuan pasukan sedikit pun saat terjadi perang antar Albatraz dan kerajaan terbesar di dataran Earthcoal, Barbaria. Ayahku takut suatu saat Morrac akan diambil alih juga oleh sekutunya itu. Itulah alasan kenapa Albatraz membuka portal magis di istanaku dan membawa ayahku tanpa perlawanan. Bagaimana tidak? Mereka menyegel istana yang kami tinggal tanpa belas kasihan.
Seluruh rakyat panik karena rajanya ditahan oleh kerajaan tetangga. Lalu bagaimana aku bisa tidak terkejut menghadapi situasi ini? Karena ini adalah kelima kalinya aku terbangun dalam keadaan seperti ini, tepat dua hari sebelum kematianku. Dan terulang lagi. Awalnya aku bingung dan hampir gila, segala cara kulakukan agar ayahku selamat dari Albatraz, tapi semua sia-sia saja.
Albatraz, walaupun wilayahnya tidak seluas Barbaria, dia terkenal akan kekuatan magisnya. Mereka juga menyebutnya tempat tinggal para penyihir. Istananya memiliki tiga tower yang konon katanya dilindungi oleh sihir hitam. Pemimpinnya dikenal dengan sebutan Lord. Tentu saja keturunan Lord dianugrahkan kekuatan khusus. Aku juga tidak tahu pasti, tapi ada yang bilang bahwa seorang Lord bisa membaca masa depan seseorang hanya dengan melihat matanya saja.
Wafatnya Lord Alphaus, Raja Albatraz yang tiba-tiba membuat rakyatnya berduka selama beberapa waktu. Banyak kabar burung yang mengatakan bahwa Nox, putra sulungnya yang sekarang menggantikannya, membunuh ayahnya agar bisa naik tahta dengan cepat.
"Jene? Kau mendengar Ibu?"
Tiba-tiba aku tersentak karena wanita yang mendekatiku tadi menarik lenganku agak kasar. Ya, dia adalah ibuku. Dia pasti bingung kenapa aku bisa setenang ini.
Percayalah Bu, aku tidak bisa setenang ini kalau tidak mengalami kejadian yang sama berkali-kali.
"Aku harus berbuat apa?"
Akhirnya aku membuka mulut. Tidak ada yang bisa kulakukan, ayahku terbukti menipu Albatraz dan memang begitu kenyataannya. Ayahku pun sekarang sudah tertangkap, lalu bagaimana nasib kami? Kami semua akan dihukum mati karena istana ini sudah disegel oleh sihir. Semua orang yang tinggal di sini tidak bisa lari lagi.
"Ibu sudah tahu perang akan terjadi, tapi kenapa Albatraz dan Barbaria bisa berdamai? Jene, mintalah pertolongan pada Pangeran North. Kita tidak mungkin bisa menghadapi Albatraz sendirian."
Sudah kuduga, ibuku akan berbicara seperti itu. Memohon pada North? Dia adalah tunanganku dari Kerajaan Navare yang berada jauh di utara. Itu pun sudah pernah kulakukan. Saat terbangun pertama kali, kupikir pria itu juga akan membantuku. Namun nyatanya dia justru memutuskan hubungan kami begitu saja. Pasti karena dia takut terlibat dengan Penguasa Albatraz, Lord Nox itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Princess Prisoner
FantasyWarning! 🔞 Jeneva Zowala ikut dihukum mati karena kejahatan yang dilakukan ayahnya pada Kerajaan Albatraz. Sungguh kejam. Tidak cukup sekali, seperti sebuah kutukan, sudah lima kali dirinya terbangun kembali dan mendapati kematian yang sama! "Saya...
