•SATU-"Manusia Kutub"

111 10 4
                                    

Drrrtt!

Sudah 3 kali ponsel milik Kanaya bunyi. Dia tetap mengacuhkannya, dan sibuk menatap monitor laptop yang berisi lembar kerja miliknya.

"Siapa yang telpon? Angkat dulu gih, siapa tau penting," ucap seorang lelaki yang berada didepannya.

Kanaya tetap mengacuhkan panggilan yang berasal dari ponsel miliknya. Dan kini malah ikut mengabaikan celoteh Azam.

"Malah dicuekin. Aku aja yaa yang angkat telpon nya?" Azam kemudian mengambil ponsel miliknya dan mengangkat telpon dari orang yang bernama 'Rayan' tersebut.

Kanaya kembali mengambil cangkir yang berisi minuman coklat panas miliknya dan menyeruputnya perlahan. Dia sadar Azam mengambil ponselnya, dia tidak peduli dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ya?"

Halo, Ra?

"Ra?"

Ini siapa? Mayra dimana?

"Mayra? Ohh naya, iya ada di sebelah saya. Dia sedang sibuk. Apa ada pesan buat Mayra?"

Ga, ga usah. Ntar aku telpon lagi.

"Oh yaudah."

Panggilan berakhir

"Rayan siapa nay?" tanya Azam pada Kanaya.

Tatapan Kanaya kini beralih ke Azam. Dia menghela napas panjang dan membereskan laptopnya.

"Aku capek, udah jam 11 malam nih. Aku masuk duluan yah." Kanaya berdiri dan akan beranjak pergi ke kamarnya.

"Ini handphone mu, ntar kecarian lagi. Yaudah, aku juga mau istirahat, besok aku mau pulang ke Bandung," ucap Azam sedikit kecewa.

'Sebenarnya ada apa dengan Kanaya? Kenapa mendadak dia diam dan tak berceloteh seperti biasanya?' batinnya.

"Kamu besok pulang, zam?" Azam langsung menoleh mendengarkan pertanyaan dari Kanaya yang hanya ia balas dengan anggukan kemudian melanjutkan langkahnya yang terhenti.

Alvin yang sedari tadi sudah berdiri memperhatikan kedua sahabat itu di dekat pintu ruang perpustakaan yang sekaligus ruang kerja milik kakaknya—Kanaya, hanya menatap kesal ke sang kakak yang selalu bersikap datar layaknya sebuah batu yang hidup.

'Dasar manusia kutub!' gerutunya.

"Yahh... Kak Azam cepat banget sih baliknya. Baru juga selesai tugas. Kan kakak pasti capek, istirahat aja dulu disini" rengek Alvin yang tiba-tiba muncul dari ruang kerja dan menghentikan langkah Azam.

"Gapapa, Vin" ujar Azam menepuk bahu kanan Alvin sambil tersenyum.

"Ini pasti karna kak Naya, kalo kak Naya ga mau cakepan sama kak azam. Kak Azam cakepan sama Alvin aja" cibirnya sambil menatap sinis ke arah Kanaya yang masih berdiri didekat tangga dengan wajah datarnya.

"Enggak kok, kak Naya lagi banyak pikiran kali. Makanya kaya gitu, udah biarin aja kak Naya istirahat dulu. Biar kita bisa main seru-seruan bareng lagi" ucap Azam memberi pengertian kepada Alvin. Kanaya yang melihat itu hanya memutar bola mata malas.

***

Kanaya menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya. Dia menoleh ke arah pintu balkon yang berlapis kaca. Menatap rintihan derasnya hujan yang jatuh satu per satu dan menetes ke arah pintu kaca transparan itu.

"Aku membencimu," lirihnya kemudian mengusap pipinya yang basah.

Kanaya memutuskan untuk beranjak dari kasurnya dan berjalan ke arah balkon. Dia membuka pintunya dan keluar. Dia dapat merasakan derai air hujan yang mulai membasahinya. Dia mendongakkan kepalanya ke langit, menelentangkan tangannya dan merasakan tetesan hujan jatuh ke telapak tangannya. Tanpa ia sadari tangannya perlahan terkepal erat.

Entah apa yang dipikirkan olehnya. Dia menari-nari di sana. Matanya memerah, dan hujan berhasil menyamarkan air matanya. Tapi luka itu yang mulai menganga. Kepalanya mulai terasa berat, dan..

Brakk!

Tubuhnya terpelanting ke lantai, kepalanya ikut terbentur dan matanya terpejam. Tidak ada yang tau bagaimana keadaannya, baik itu perasaan ataupun kesehatannya. Dan ia tidak berharap orang-orang peduli padanya.

JUDULTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang