"RAYAANN!" teriak Hana saat melihat apartment miliknya berantakan. Dia sudah yakin itu pasti ulah Rayan. Siapa lagi yang bisa masuk seenaknya dan membuat kerusuhan di apartmentnya selain Rayan.
"Ahh ya ampun, pasti dia sudah pulang dan bersantai ria dirumahnya. Dasar Rayan! Lihat saja!" ucapnya menyedihkan. Bagaimana pun ancaman yang ia katakan, tetap saja ia tidak akan pernah bisa melakukannya. Hana yang malang!
Setelah menatap apartmentnya yang sudah seperti kapal pecah, bukannya membersihkan apartemennya ia malah pergi ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Masa bodoh dengan apartmentnya. Ia memejamkan matanya, namun tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Hingga akhirnya dia harus keluar dan melihat kembali apartmentnya yang berantakan.
'Rayan sialan!" batinnya.
Dengan langkah malas, Hana berjalan keluar. Namun langkahnya terhenti saat kembali melihat setiap sudut apartmentnya.
"Ahh tempat ini sangat layak disebut tempat pembuangan!"
"Apa aku harus bersihin ini semua??" ucapnya gusar, "Ohh tidak bisa! Makhluk astral itulah yang harus membersihkannya!"
***
Sudah hampir dua setengah jam Hana membiarkan apartmentnya berantakan. Dia tidak peduli! Kali ini Rayan lah yang harus membereskannya.
"Dokter macam apa aku ini! Sangat jorok! Ck, Masa bodoh! Bukan aku yang melakukannya! Biarkan saja dia yang membersihkan semuanya!"
1 menit...
10 menit...
"Oh ayolah Hana! Makhluk itu tidak akan pernah datang dan membersihkan kekacauan yang ia lakukan! Kau pikir Rayan adalah lelaki baik bak malaikat? Hah ya! Dia malaikat pemberi kesialan! Dia menyebalkan!
Begitulah Hana, sepanjang dan selama apapun dia mengoceh, tetap saja dia akan membereskan kekacauan yang dilakukan Rayan. Dia tidak bisa bersantai dengan tenang jika tempatnya kotor dan berantakan.
"Udah beresin aja napa sih! Ga capek apa mulut lo ngoceh terus?!" protes Rayan dari arah pintu, sembari menutup kedua telinganya.
Hana berbalik memastikan siapa pemilik suara tersebut. Walaupun dia sudah tau, tapi tidak ada salahnya untuk memastikan. Siapa tau orang itu adalah perampok psikopat yang akan membunuhnya.
"Apa?" tanya Rayan santai.
Hana memicingkan matanya seraya berkacak pinggang. Baru saja ia akan membuka mulutnya, Rayan sudah menyangkalnya.
"Iya iya, gua beresin. Jangan marah dong. Liat gua bawain coklat, eskrim, apalagi yaa.." ujarnya seraya melihat isi kedua kantong plastik yang ia bawa.
"Mau nyogok gu–"
"Na, bisa ga sih diem. Gue baik nih, udah mau bantuin lo. Atau ga gua balik aja deh," protes dan ancamnya.
"Eh eh, iya iya. Udah cepetan sana beresin!" titah Hana.
"Iya, tapi lo diem. Jangan ngoceh mulu, kalo pendengaran gua ga ber–"
"Lebay! Udah cepat sana! Siniin belanjaannya!"
"Eitss, lo bantuin juga dong!"
Oke cukup.
Hana kehilangan kesabarannya. Dan...
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Aw! Sakit!"
"Rese lo ya!! Ihhh!" Hana terus memukuli Rayan dengan sapu yang berada ditangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
JUDUL
Non-FictionTerkadang ada hal yang tidak mudah untuk di ungkapkan, di tuliskan, maupun di jelaskan. Semua perihal perasaan, baik itu tentang luka ataupun rasa bahagia. Sama seperti Kanaya. Gadis itu memilih untuk memendam semua yang ia rasakan. Menutupnya rapa...