Setelah selesai memarahi dirinya sendiri dan berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya. Ia pun segera beranjak pergi.
Ketika Kanaya keluar dari pertapaannya semua orang menatap ke arah Kanaya. Bahkan beberapa penjaga di dekat kamarnya tampak berusaha mengimbangi langkah mereka.
"Nona anda tidak di perbolehkan keluar sebelum–"
"Aku sudah dewasa!"
"Maaf nona, ini perintah tuan."
Kanaya hanya bisa menghela napas. Papanya memang konyol sekali.
"Baiklah. Kalian boleh melarang ku setelah memberi tau apa alasan kalian dikirim kemari."
"Maaf nona kami hanya diperintahkan untuk menjaga nona."
"Menjaga? Kalian membuatku gila! Apa rumahku ini sebuah markas penting? Konyol sekali!"
Kedua penjaga yang sedari tadi menghalangi langkah Kanaya, kini hanya menunduk mendengarkan penolakan majikannya. Kanaya sebenarnya sudah memiliki alibi yang tepat mengapa sang ayah mengirimkan penjaganya kembali. Apalagi jika bukan waktu itu dia dilarikan ke rumah sakit.
"Papa benar-benar berlebihan!" Gumamnya kasar.
"Bi! Bi Sri!" teriak Kanaya mencari-cari sosok wanita paruh baya itu di dapur.
"Iya non?"
"Kanaya mau pergi ziarah ke makam paman Adnan,"
"Oh iya non," seakan mengerti maksud Kanaya, Bi Sri langsung menyuruh dua wanita dibelakang Kanaya agar berhenti mengikutinya.
Setelah kedua orang tadi kembali, kini Kanaya sudah menatap Bi Sri tajam. "Bi, Kanaya udah gede. Kanaya bisa jaga diri," ucapnya lembut.
"I-iya non. I-itu tuan minta bi–" jawab Bi Sri terbata-bata.
"Yaudah. Sekarang suruh mereka masak aja sama bibi. Masak yang banyak. Nanti siang, Kanaya balik kita makan bersama-sama. Mereka pasti juga capek berdiri terus," ucap Kanaya menyela perkataan Bi Sri.
Kanaya kemudian pamit memberi salam kepada wanita paruh baya itu. Bagaimanapun Bi Sri sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Toh, itu bukan salahnya bi Sri juga. Papanya lah yang terlalu berlebihan.
***
Pria itu masih bersedia menunggu, meskipun orang yang berjanji mungkin tidak datang. Tapi entah mengapa firasatnya menyuruhnya untuk tetap menunggu.
Tidak lama sebuah mobil yang tampak familiar di mata Azam, terlihat hendak memarkirkan mobilnya di dekat pintu gerbang makam.
"Itu Kanaya?" tanyanya pada diri sendiri saat menemukan seorang perempuan keluar dari mobil tersebut.
Azam hendak menyusul Kanaya yang berjalan masuk ke pemakaman. Tapi seseorang yang sudah lama ia tunggu muncul tiba-tiba.
"Hai Azam! Maaf lama menunggu," sapa seseorang dari samping Azam.
Azam hanya menatapnya sesaat kemudian tersenyum, "Iya"
"Kau pasti bertanya kenapa aku mengajakmu kemari," ucap Kania membuka suara.
"Kau melihat Kanaya?"
"Iya"
"Dia sudah memberitahukan kepadamu tentang Ayahmu?"
"Maksudnya?"
Pertanyaan Kania kali ini membuat keningnya berkerut. Jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya. Mendengar kata Ayah membuat dadanya sesak.
Azam adalah anak semata wayang ibunya. Ibunya membesarkannya seorang diri. Dan juga ibunya tidak pernah memberitahu dirinya siapa sosok sang ayah. Azam takut jika menanyakan hal itu lagi kepada ibunya. Pernah suatu ketika Azam kecil menanyakan tentang ayahnya pada sang ibu. Ibunya hanya diam, Azam dapat melihat kedua mata ibunya yang sudah berkaca-kaca. Semenjak itu dia berjanji tidak akan bertanya apapun lagi soal ayahnya. Meskipun dalam lubuk hatinya dia tetap ingin tau.

KAMU SEDANG MEMBACA
JUDUL
Non-FictionTerkadang ada hal yang tidak mudah untuk di ungkapkan, di tuliskan, maupun di jelaskan. Semua perihal perasaan, baik itu tentang luka ataupun rasa bahagia. Sama seperti Kanaya. Gadis itu memilih untuk memendam semua yang ia rasakan. Menutupnya rapa...