Sinar matahari mulai memasuki ruangan melalui sela-sela jendela. Ro Ha tengah berada di dapur, tangan nya dengan lincah memotong beberapa sayuran yang ia temukan di lemari pendingin yang ada di dekatnya.
"Untung saja aku masih ahli dalam memasak. "
Menaruh sayur yang sudah matang ke dalam mangkuk kecil dilanjut Ro Ha menyiapkan beberapa makanan untuk menemaninya sarapan pagi ini. Setelah siap semua, dia menaruhnya di meja makan. Ro Ha sudah siap memakan makanan buatan tangannya tetapi dia terpikirkan oleh Doyoung, apakah dia sudah sarapan? Ro Ha berdiri dari tempatnya lalu berjalan menuju pintu masuk, lalu membukanya untung saja ada kunci cadangan.
Sinar matahari pagi menyerangnya, Ro Ha menghalangi sinar matahari dengan tangannya. Ro Ha menatap lurus ke depan, dia mendapati sosok Doyoung yang baru saja menutup gerbang. Seolah-olah sinar matahari menyabutnya dengan memberikan sinar kepadanya, membuatnya bagaikan malaikat. Doyoung menatap Ro Ha dari bawah sampai atas, sepertinya Ro Ha belum mengganti pakaiannya.
Doyoung berjalan mendekati Ro Ha. Baru beberapa langkah ia berjalan terdengar suara teriakan dari luar gerbang.
"DOKTER LEE! "
Doyoung menoleh ke sumber suara lalu berjalan mendekati gerbang dan membukanya. Ada 4 orang lelaki dengan dua di antaranya memakai kemeja yang serasi dengan tubuhnya dan dua sisanya mengenakan pakaian tentara. Ro Ha langsung ke dalam rumah, dia terlalu takut untuk menunjukkan dirinya. Ro Ha menghela nafas pelan.
"Kalau mereka kenal aku bagaimana? "
"Kalau mereka utusan Jinho gimana? "
"Kalau mereka ingin membawa ku pulang gimana? "
"Kalau? Ah!, aku sama sekali tak bisa berpikir jernih. "Doyoung melipatkan tangan di dada sambil melihat mereka. "Ada apa? "
Salah satu dari mereka angkat bicara. "Dokter pasti takkan percaya. Semalam aku bertemu seorang wanita berpakaian putih sedang berjalan di jalan hutan Rilon. "
"Benar Dokter apa kata Haechan! " Satu dari mereka menyahut. Jungwoo.
Haechan melipat tangannya di dada dan memasang muka sombong. Doyoung sedikit terkejut, ternyata wanita itu telah bertemu duluan dengan orang sekitar.
"Aku sudah menelusuri tempat itu bersama Jeno tapi tak ada siapa pun di sana, apalagi wanita yang tadi Haechan sebutkan, " lelaki berpakaian tentara memberikan penjelasan. Mark.
"Benar Dok! " Jeno ikutan berbicara.
Haechan membalikkan tubuhnya lalu menatap Jeno dan Mark secara bergantian sambil melipatkan tangannya di dada. "Kalian mencarinya di pagi hari, bagaimana mungkin hantu itu masih berjalan di pagi hari? Joging? Ayolah semuanya bisa dipikirkan dengan logika. "
Doyoung memukul kepala Haechan pelan. Haechan meringis lalu dia memutar tubuhnya dan menghadap Doyoung.
"Kalau semuanya bisa dengan logika, kenapa kamu tidak berpikir bahwa itu manusia bukan hantu? "
Haechan berpikir sebentar. "Karna aku dan Jungwoo melihatnya saat tengah malam. Jadi aku berpikir itu hantu, jika itu pun sebenarnya manusia, kenapa dia berjalan tengah malam dengan pakaian seperti itu? " Jungwoo hanya mengangguk saja.
"Kalian berdua Dokter atau bukan? Katanya IQ kalian tinggi tapi membedakan manusia sama hantu saja tidak bisa. "
"Tau kau Haechan, cara berpikir mu kelewat bodoh. " Jungwoo menatap Haechan sinis.
"Ya!, kau juga takut saat melihatnya sampai-sampai kau mempercepat mobilnya. " Jungwoo hanya menyengir kuda.
"Sudah, lebih baik kita membuat sup saja untuk kita sarapan pagi ini. " usul Jeno. Di balas anggukan Mark, Haechan dan Jungwoo.

KAMU SEDANG MEMBACA
RUMIT
RomanceIm Ro Ha, seorang wanita dengan segala kekayaannya yang membuatnya mudah melakukan apa yang dia inginkan. Tapi apa daya, jika dia harus tanpa hartanya dalam jangka waktu dua hari, tiga hari atau mungkin lebih. Awalnya memang terasa sulit, tetapi pa...