Singto

512 51 1
                                    

Hari ini aku pulang dengan Krist. Saat makan siang tadi ia mengijinkanku untuk mengantarnya pulang. Sebenarnya rumahku memang searah dengan Krist, tapi bukan itu alasanku pulang dengannya. Arah pulang ke rumahku dan ke asramanya cukup gelap dan aku tahu itu bukan tempat yang aman untuk jalan pulang sendiri. Aku tahu dia seorang pria, tapi ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan bahwa aku harus melindunginya. Bukan sebagai adik kelas, tapi sebagai seorang pria.

"Krist. Mampir mini market bentar ya" kataku. Dia hanya mengangguk. Aku masuk ke dalam mini market meninggalkan Krist yang masih menunggu di luar. Aku berputar mencari barang yang kumau, tapi cukup sulit untuk menemukannya. Cukup lama aku berputar tiba-tiba ekor mata ku ngeliat orang lari. Perasaan ku tidak enak, aku keluar sebentar dan Krist sudah tidak ada di tempat tadi.

"Pak balikin tas saya." Ini suara Krist. Aku segera lari ke arah salah satu lorong. Entah kenapa perasaanku mengatakan ia ada disini.

"Ya bapak butuh uang tapi nggak gini dong caranya." Teriak Krist. Tempat ini remang mendekati gelap. Aku melihat Kris sedang berdiri dihadapan seorang pria. Pa- ah lupakan. Apa maunya disini?"

BUGH

Dia memukul Krist. Kulihat Krist agak terhuyung ke belakang. Aku ingin menolongnya, tapi aku terlalu pengecut. Aku gak bisa nolong dia. Aku sendiri takut. Tangan pria tadi sudah terangkat. Aku menutup mataku.

Aku gak bisa. Aku gak bisa nolong dia. aku takut.

Kalo emang gak bisa minggir!

Aku membuka mataku dan berlari ke arah mereka.

BUGH

Aku memukul pria tadi hingga dia terjatuh. Aku mengarahkan badanku ke Kris lalu menarik kerah seragamnya kuat.

"KAMU GAK BISA APA JAGA DIRI KAMU SENDIRI?! KAMU GAK BISA APA BUAT SAYA NGGAK KHAWATIR ATAU MEMIKIRKAN KAMU?!" teriak ku didepan matanya. Aku bisa melihat dia sangat ketakutan. Mata yang sama saat berhadapan denganku di kamar mandi tempo hari. Badannya mulai gemetar tapi entah kenapa emosiku sungguh membuncah. Aku tidak suka saat melihat dia tersakiti. Aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak suka milikku diusik oleh orang. Aku tidak suka.

PRANG

Aku menoleh ke samping. Pria tadi berdiri agak terhuyung.

"BRISIK!" teriak dia lalu menendang dadaku. Aku terjatuh, kurasakan nyeri yang sangat di daerah dadaku. Rasa nyerinya bahkan hampir membuatku sesak nafas.

"KAK!" teriak Krist. Aku menatap ke arahnya. Bukan, aku bukan minta dikasihani, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Aku tidak ingin pria gila itu menyakiti Kristku. Cukup aku saja, pikirku.

Krist hendak menolongku, tapitiba-tiba tangan pria tadi menodong ke arahnya dan pinggiran kaca tadi mengenai pipi mulus Krist. Krist hanya diam lalu memegang pipinya. Sialan. Cukup. Aku sudah membiarkannya menyakitiku, tapi tidak dengan Kristku. Aku tidak akan membiarkannya menyakitiku.

Aku berdiri dan menatap marah padanya.

"JAUHIN TANGAN KOTOR LO DARI DIA, BANGSAT!" teriakku lalu menendang perutnya. Aku menghajarnya. Memukul wajahnya membabi buta. Aku benci. Aku membencinmya. Ia sudah menyakiti mama, dan sekarang dengan lancangnya ia melukai Kristku. Aku pernah berjanji akan membunuhnya, dan kukira saat ini merupakan saat yang tepat. Aku terus memukulnya walau kadang tanganku meleset dan memukul aspal yang dingin serta pecahan beling tadi.

"CUKUP, KAKA. CUKUP, LO BISA BUNUH BAPAK ITU KAK!" teriak Krist. Ia berusaha menarik lenganku untuk menjauh dari orang itu.

"GAK! BIAR MATI SEKALIAN NI SAMPAH KAYAK DIA!" teriakku lagi.

Let's Making Sin : Somebody Unseen [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang