Kongpob

551 45 20
                                    

Aku berjalan ke tempat yang sangat gelap. Aku menemukannya. Meneukan sosok asli pemilik tubuhku tengah duduk dengan pandangan kosong.

"Pencundang" kataku tajam dan lirih.

"Ya, saya memang pecundang." Katanya lemah.

"DASAR BODOH! KAMU TIDAK LIHAT DIA SEDANG KETAKUTAN DAN KESAKITAN?"

"OH! SAYA LIHAT LALU SAYA BISA APA?" teriaknya.

"TOLONG DIA, DASAR BODOH"

"KAMU PIKIR SAYA BISA?! SAYA JUGA TAKUT! SEMUA ITU SELALU KAMU YANG MELAKUKANNYA"

"LALU KAMU MAU MENGGANTUNGKAN HIDUPMU KE AKU? SAMPAI KAPAN?"

"Saya punya kamu, saya akan baik-baim saja" katanya.

"BANGSAT!" aku berusaha untuk tidak menyakitinya. Sebab juka aku menyakitinya, artinya aku juga menyakiti diriku sendiri.

"PECUNDANG LEMAH! BEDEBAH! LALU UNTUK APA KAU HIDUP? KAU HANYA TERIMA ENAK SAJA"

"OH! SAYA PECUNDANG DAN BEDEBAH! LALU APA MAUMU? INI SAYA!"

"BANGSAT!"

"KAMU HANYA HAYALAN SAYA YANG TIDAK SENGAJA SAYA BENTUK. KAMU TIDAK HIDUP SAYALAH YANG HIDUP."

"BANGSAT! KALAU KAU HIDUP LALU KENAPA KAU MENGGANTUNGKAN SEGALANYA PADAKU. MATI SAJA KAU BEDEBAH!" teriakku padanya. Aku tersenyum miring. Senyum terjahat yang pernah ku tunjukkan pandanya.

"Kau masih punya aku kan? Okey. Kalau begitu, tidurlah! Untuk selamanya" kataku lalu pergi kearah titik terang yang ada dibelakangku.

***

Setelah kejadian itu, Krist menghindariku secara total. Aku tidak tahu dia menghindariku sebagai Kongpob atau sebagai Singto, yang jelas ia menghindari ku. Aku tidak salah, aku tidak pernah meminta untuk dibuat. Semua ini salah Singto. Tidak benar jika dia menjauhiku, tidak benar. Aku harus menemuinya.

"Sing." Panggil seseorang. Itu Lee Thanat. Aku menongok dengan wajah tidak suka. Sungguh, aku muak semua orang memanggilku dengan namanya. Aku bukan dia.

"Saya bukan Singto" kataku tajam. Dia sedikit terkejut lalu tak lama ia mengembalikan wajahnya seperti semula.

"BEIBI....."

"SAYANGNYA ABANG GUN SENYUM..."

"UDAH SAYA BILANG SAYA BUKAN SINGTO!" teriakku tak suka. Seketika seluruh kelas menengok ke arah kami. Lee menengok dan mengatakan tidak ada masalah apapun dengan kami. Mike dan Gunsmile masih terkejut dengan teriakanku. Sebenarnya mereka sudah tahu bahwa ada aku ada di dalam tubuh kawannya dan mereka tidak masalah dengan itu. Jadi, akupun tidak peduli. Mike dan Gunsmile mengembalikan mimik wajah mereka menjadi datar.

"Hari-hari kebelakang, gue liat lo gak semangat banget" kata Lee. Kuakui dia memiliki keberanian untuk bicara dengaku.

"Bukan urusan kalian" aku memalingkan wajah menatap keluar.

"Lo temen gue, gue cuma berusaha peduli" katanya lagi.

"Kamu teman Singto, bukan teman saya" kataku tanpa mengalihkan pandangan.

"Kong, lo juga temen kita, dan kita peduli sama lo. Bukan sebagai Singto tapi sebagai Kongpob" kata Gunsmile.

"Saya nggak butuh kalian."

"Gue paham kalo lo mungkin ngerasa nggak nyaman sama kita. Tapi kalo lo butuh apa-apa. Lo tau dimana kita" kata Mike lalu menarik Lee dan Gun dari hadapanku. Aku tersenyum sinis. Sialan. Kenapa? Kenapa dia punya banyak orang yang memihaknya? Sedangkan aku? Kenapa aku selalu sendiri.

Let's Making Sin : Somebody Unseen [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang