Pas mode ahjussi hawt, tapi pas di mode biasa beneran ughh 🐒
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa kau baik-baik saja?" Park Haejin mengernyit sambil tetap fokus memutar kemudi mobilnya, untuk segera keluar dari parkiran YG Building.
"Ya ..." gunamnya menggantung sedikit tidak yakin. Sejujurnya tubuhnya memang terasa sedang tidak begitu baik saat ini.
"Apa ada masalah?" Lanjutnya sambil menoleh dengan tatapan bertanya pada Lalisa yang duduk pada kursi kemudi disebelahnya. Kening Lalisa mengerut namun tetap menatap lekat wajah pria itu.
"Aku tidak apa-apa" lirihnya. Lisa tidak ingin berdebat dengannya. Jelas-jelas terlihat kalau wajah pria itu memerah, demikian juga dengan matanya tapi masih saja menyangkal.
Lalisa mengulurkan tangannya menyalakan penghangat mobil mewah itu, tanpa disadari oleh Park Haejin yang tengah berkonsentrasi mengemudikan mobil untuk keluar ke jalan raya. Gadis itu kemudian termangu untuk sesaat sebelum senyumannya mengembang karna teringat tentang sesuatu.
"Hei bagaimana?" Gunam wanita muda itu dengan ceria sembari menoleh ke sisinya.
"Apa?" Gunam Park Haejin datar, karna fokusnya masih saja tertuju pada jalanan yang ramai. Lalisa mendelik sebal dan berdecih penuh rasa kesal.
"Penampilanku tadi tentu saja" ujarnya dengan ekspresi jengkel yang sulit ditutupi olehnya. Park Haejin melirik kecil dari sudut matanya dan tersenyum tipis namun samar.
"Benar-benar menakjubkan melihatnya langsung" gunamnya. Meski masih tersisa perasaan kesal dalam dadanya, tapi Lalisa tidak bisa menahan perasaan membuncahnya untuk menoleh dan menyaksikan langsung komentar pria itu untuk penampilannya tadi.
Terlebih karna terselip sebuah kalimat pujian yang ... rasanya terlalu manis untuk diabaikannya meski mati-matian menyangkal dalam hatinya.
"Hanya saja ..." lanjutnya menggantung, yang sontak membuat kening Lisa mengerut. Bersiap-siap untuk menyemprot pria brengsek itu jika pria itu melanjutkan kalimatnya dengan hinaan seperti yang biasa dilakukan pria itu.
"Jangan memakai celana sependek itu saat menari seperti tadi. Kau bisa membuat banyak pria mimisan dengan penampilanmu. Dan aku sendiri tidak suka jika kau menarikan tarian seperti tadi dengan celana sependek itu" Sambungnya yang secara otomatis membuat bibir Lalisa tertutup rapat.
Jawaban yang lagi-lagi diluar dugaannya, dan otomatis membuat mulutnya terkunci rapat bersamaan dengan tatapan yang teralih lurus ke jalanan didepannya.