👥13

5.2K 678 110
                                    

.

.

.

.

.

Maaf terlambat yah ❤

Maaf terlambat yah ❤

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Yang utama saat ini adalah kesehatanmu dan keberadaanmu disisiku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Yang utama saat ini adalah kesehatanmu dan keberadaanmu disisiku. Maaf karna sudah membebanimu dengan pembicaraan tentang anak, hingga membuatmu menanggung penderitaanmu sendirian. Maafkan aku, tolong lakukan operasi itu karna aku tidak sanggup melihatmu menderita hanya karna keegoisanku"

Memeluk Lalisa Manoban dengan posesif menjadi hal terakhir yang bisa dilakukan dan terpikirkan oleh Park Haejin, sejak evakuasi yang dilakukannya pada wanita muda itu tadi dari bawa guyuran shower kamar mandi ruang tidur tamu. Kengerian, ketakutan, dan kegelisahan, memenuhi batin dan hatinya terkait kondisi Lisa tadi.

"Kau menginginkan sesuatu?" pertanyaan itu meluncur dari bibir Park Haejin saat dirasakannya pergerakan dari sosok ramping dalam pelukannya. Gelengan kepala wanita muda itu terasa jelas sebelum gunaman pelan meluncur dari bibir Lalisa.

"Tidak" dan pelukan Park Haejin semakin mengencang padanya. Hari ini begitu emosional menguras akal sehatnya dan membuatnya hampir tidak mampu berpikir dengan jernih. Membuat matanya semakin terbuka, menyadari nilai wanita muda itu bagi kehidupannya, bagi jiwanya. Lalisa Manoban, telah menjadi pusat hidupnya.

"Tidurlah, aku akan menjagamu"

👥👥👥



Lalisa memutuskan untuk kembali ke kamar usai merapikan piring kotor didapur. Nafasnya terhelah, menyadari betapa lamanya dia berada didapur bernuansa klasik itu sejak usai makan malam tadi. Park Haejin sudah lebih dulu kembali ke kamar untuk mengerjakan sesuatu disana.

Berdiri bersender pada tepi wastafel, Lalisa menatap seisi rumahnya dengan baik. Kedua matanya berkaca saat ingatan percakapannya semalam dengan pria bermarga Park itu kembali melintas dibenaknya. Air mata berjatuhan tanpa bisa dicegah dari kedua matanya. Tangan kanannya terangkat meremas poninya yang mulai memanjang dan tidak terurus. Tapi setelah itu, ditepisnya bulir air mata pada wajahnya dengan cepat dan berjalan dengan cepat ke kamar.

U'RS (HAEJIN-LISA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang