Part 07

17 5 0
                                    

___

Hari ini hari Sabtu, hari yang sangat kutunggu-tunggu setiap pekannya. Tentu saja karna hari ini hari libur. Aku berniat menghabiskan hariku mengulum dibawah selimut. Tidak berniat berjalan-jalan dengan teman apa lagi dengan Kekasih.

Kekasih? Kalian sudah tahu pacarku sedang berada dikorea mencari nafkah untukku dan anak-anakku kelak.

Keluarga? Yang benar saja, aku bahkan sangat jarang berkumpul dengan mereka, Ayahku sangat sibuk dengan pekerjaannya, aku tidak keberatan dengan itu karna aku tahu betul semua yang dilakukan orang tuaku, untuk kebahagiaan anaknya. Walau begitu, aku dan Acha tidak pernah kehilangan kasih sayang dari mereka.

Semua itu hanya menjadi wacana ketika Nara, masuk kekamarku tanpa permisi. Dia mencoba membangunkanku dengan tingkahnya yang bar-bar. Mulai dari menarik-narik kakiku, hingga duduk diatas tubuhku. Aku sangat kesal, dia pikir memangnya dia tdak berat.

"WOY BANGUN!" Teriak Nara disamping telingaku.

Aku meringkuk dibawah selimut mencoba mengabaikan Nara.

"Dasar kebo Udah siang ni."

Dari sela-sela tirai yang menutupi jendela, aku pun sudah tahu kalau ini sudah siang.

Bukannya bangun aku semakin mengeratkan pelukanku bata bantal guling. Aku mendengar Nara berdecak kesal.

Aku tersenyum dibawah selimut ketika tak mendengar suara Nara, mungkin dia sudah menyerah membangunkanku, lagi pula hari ini aku tidak punya kegiatan untuk dilakukan.

"Wah posternya keren nih."
Aku curiga  pada Nara, pasalnya ketika dia berkunjung ke rumahku, dia selalu mengejek poster itu, tumben- tumbenan dia memujinya.

"Emm bagus kali yah kalau gue robek trus posting di ig, biar Viral."

Aku mengeram mendengar  Ucapan Nara yang terdengar menyeramkan. Jangan lupakan tingkah Nara Yang bar-bar itu.

Aku menyibakkan selimutku lalu menatap tajam pada Nara, yang sedang duduk dimeja belajarku sambil bertopang dagu memerhatikan poster yang cukup besar yang kupajang didinding kamarku.

"Ini hari libur jadi jangan gangguin gue deh."

"Jalan-jalan yuk," Ajaknya tanpa beban.

"Gak mau," Tolakku cepat.
Kemudian kulirik Nara yang berjalanku arahku, lalu tanpa aba-aba dia menarik tanganku untuk bangu dari kasur. Jangan lupakan tenaga Nara yang lebih kuat dariku.

Aku menarik tanganku secara paksa, " Iyah-iya," Ucapku final.

"Nah gitu dong," Nara menyengir lebar .

Aku menatap kesal pada Nara, lalu bangkit dari kasurku dengan wajah yang tersungut-sungut. Pasalnya siapa yang tidak kesal jika dibangunkan dari dari tidur nyenyaknya, dan tanpa beban mengajakku untuk menemaninya. Bahkan tadi malam dia tak memberitahuku dengan rencanaanya.

Lantai terasa dingin ketika aku berjalan kekamar Mandi untuk membersihkan diri.

"Jangan lama-lama ya!" Aku berdecak kesal mendengar teriakan Nara.

Aku keluar dari kamar mandi hampir sekitar satu jam setelahnya, bukan tanpa alasan aku pikir Nara akan pulang karna bosan menunggu. Aku keluar dari kamar mandi ketika Nara sedang duduk di meja belajarku dengan santainya, dengan handuk melilit rambutku.

"Anjert lama bener dah."
Aku berdecak memutar bola mataku sebelum berjalan kearah Lemari.

"Udah keluar sana."

"Buset ngusir nih," Elak Nara tak terima.

Aku menghembuskan nafas pelan lalu tersenyum pada Nara, "Saudara Nara saya mau ganti baju, jadi anda mohon keluar,"

DelusiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang