Kejutan

1.1K 111 15
                                        

Kejutan setelah apa yang terjadi semalam. Ibroh nongol depan pintu kosan pagi-pagi sekali. Wajahnya bersinar secerah matahari pagi, meski ada sedikit membiru di ujung bibirnya yang kemarin sempet incipin, pria itu nampak rapi dengan celana jeans hitam juga kemeja lengan panjang tergulung sebatas lengan dan dibiarkan tak terkancing sepenuhnya, ngebikin gue mendadak bergairah, seandainya abang ngga pakek kaus daleman pasti dadanya yang bidang akan memanjakan mata dan adek pengen ... Pegang-pegang.

"Hai."

"Aiih ..." Tanpa sadar mendesah.

"Dah siap?"

"Mau ke mana?"

"Kerja."

"Bukannya Pak Bos agak siangan masuknya." Mengingat ini belum ada  jam enam, masih kurang sepersekian menit.

Masih dengan senyumnya yang menawan, Ibroh menjawab, "Iya sich, tapi ngga masalah berangkat pagi jadi bisa barengan."

"Barengan?" Pertanyaan gue bersamaan dengan pensil alis yang jatuh dari tangan. Nyadarin gue kalo itu alis masih sebelah, "Tunggu!" Langsung tutup pintu.

Sesaat balik lagi, buka pintu demi mungut pensil alis yang masih harus menjalankan tugasnya. "Lima menit!" Satu tangan nutupin aib yang ada di jidat.

Yang sebenarnya gue juga ngga yakin itu bener lima menit. Setidaknya karena panik konsentrasi gue gambar alis di jidat jadi terganggu. Antara ngga yakin ini dah simetris atau masih miring sebelah. Belum lagi gue bingung mau pakai lipstik yang mana.
Bibir gue kering, pucet. Ntar kalo ngga merona abang mana nafsu ngajakin aaahh... Gue kebayang yang kemaren.
Praktis membasahi bibir sambil mengingat rasa yang pernah ada. Kenyel-kenyel basah anget. Melupakan kenyataan bahwa itu tak akan pernah terulang.

Ibroh masih suami orang.

Sedih, gue biarin alis gue miring sebelah. Bibir sekenanya kena pemerah. Lupakan eyeliner, lupakan maskara, lupakan blush-on. Males lanjut dandan kalau hanya percuma.

"Sudah siap?" Tanyanya begitu gue membuka pintu.

"Iya." Jawaban tanpa semangat.
Masuk dalem mobil pak bos ngga langsung tancap gas, dia bantuin gue pakai save belt. Jarak kami begitu dekat, wangi maskulinnya nyuruh gue ambil resiko dicakar bini orang. Sumpah gue pengen meluk, elusin wajah abang, kemudian mengakhirinya dengan ciuman.

Ok, jujur sebenarnya gue juga ngga keberatan untuk lebih dari sebuah ciuman. Cuma agak susah ya kalo main dalam mobil. Secara abang badannya gede, maksapun enaknya ngga seberapa, capeknya yang nauzubillah ...

"Sebenarnya saya sudah bilang Pak Usman kalau kamu akan terlambat." Gue diem, mencoba untuk tidak melakukan apapun yang ada dalam benak gue. Membiarkan si abang bermonolog, "saya ingin minta maaf atas apa yang terjadi semalam. Saya tidak tahu kalau kamu sudah punya pacar."

"Pacar yang mana?"

"Yang semalem."

"Siapa?"

Masih tak yakin kalo yang dimaksud Pan Bos itu Berryl.

"Perlu saya sebut nama?"

"Sebenarnya ngga perlu karena kami ngga pacaran."

"Are serious?"

"Kayaknya iya."

"Ehhhmm ... Kamu sudah sarapan?" Ini hanya sebuah alasan untuk bicara lebih.

"Depan belok kanan, sebelah kiri jalan ada tempat buat makan."

"Ok." Setelah itu gue lihat bayangan motor punya Berryl mendekat dari kaca spion bersamaan dengan Ibroh yang mulai tancap gas.

Dari gelagatnya, Berryl ngga tahu gue ada dalam mobil.

Ibroh tak menunggu kami sampai tempat tujuan untuk bertanya, "Jadi tentang hubungan kalian?" Pria itu berusaha untuk tetap mengendalikan laju mobil melewati jalanan yang mulai ramai.

"Sejak kecil kita tetanggaan. Berryl seumuran sama kakak laki-laki aku. Kita sering main bareng, pernah satu sekolah juga." Gue berusaha praktis.

"Saya rasa itu tidak membuat hubungan kalian sedekat ini." Bantahan ini jelas sebuah tuntutan atas jawaban yang lebih masuk akal.

"Gue naksir sama dia, tapi dia cuma nganggep gue adek-puas lu!"

"Kamu bilang pengen pacaran sama saya."

"Iya."

"Lalu?"

"Guenya juga naksir sama lu." Jujur itu sulit, tapi lebih baik. Setidaknya gue ngga merasa bersalah karena membohongi diri sendiri. Membuat rangkaian kebohongan yang rumit dan mungkin kedepannya malah bikin ruwet.

"Kamu serakah."

"Lu juga."

"Atas dasar apa?"

"Perlu gue jelasin status lu? Setidaknya gue masih sendiri ya, Pak. Jadi bebas kalo gue naksir si ini-si itu."

Mobil yang baru melaju itu menepi sebelum sampai tujuan. Ngagetin gue, gue kira Pak Bos marah dengan apa yang barusan gue omongin. Sebelum kata maaf terucap mulut gue udah dibungkam pakai mulut dia. Ini ciuman, sama seperti semalam, bedanya dilakukan secara sadar.

Gue yang awalnya masih syok akhirnya mulai menikmati, dimana satu tangan gue dipegang si abang erat-erat, di taruh di dadanya yang bergemuruh sama seperti yang gue rasain. Saat saling memuaskan gairah satu sama lain, gue sadar Ibroh mungkin masih terikat, tapi ia punya perasaan yang sama dengan apa yang gue rasain.

***

Hari ini dapet libur setengah hari, ngga tahu sorenya jadi kerja apa ngga. Kalo libur juga nanti saya tambah updatenya.

Kissingnya ngga panjang-panjang ya takut khilaf 😘

Lima Mei Dua Puluh Dua Puluh

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 05, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

JwaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang