Tiga hari berlalu dan di sinilah gue melanjutkan hidup yang sempat terpuruk sebab hampir jadi korban perdagangan manusia. Mana yang jual banci, temen sendiri, syungguh itu ter-la-lu!
Masih sangat pagi, tepatnya jam enam waktu Indonesia bagian barat. Gue dah standby di kantor-pegang sapu ama kain pel, bukan laptop atau tumpukan kertas laporan. Secara teknis gue termasuk pekerja kantoran yang menangani bidang bersih-bersih, orang kerjanya di kantor bukan kuburan wek!
"Pagi, Wa!" Sapa Beryl anak bagian HRD yang masih tetangga satu gang, yang juga bantuin gue ngelobi dapet kerjaan di mari.
Orangnya ganteng, supel, periang, baek hati dach pokoknya. Kadang ya kalo nitip beli makan siang dilebihin atu buat akyyuu ....
Baek kan?
Atau guenya terlalu baper?
Eeehhh ... Entahlah, biar saja rasa ini ada toh eike yang jalani tidak merasa dirugikan.
"Dah sarapan?"
Tuch kan guenya belum bales salam dia dah nanyain dah makan belom. Kalau ngga perhatian, ngga mungkin juga basa-basi mau nyuruh.
"Pagi, Mas. Alhamdulillah belum." Nyengir kuda, dalam hati benar-benar berharap dapet rejeki.
"Kebetulan banget, beliin tiga ya, satunya buat kamu."
Jiaaah ... Ternyata opsi kedua pemirsa.
"Satunya buat siapa, Mas?" Tanya gue pura-pura nurut aja, duit gue kantongin makan gue utangin.
Nyahok lu!
"Dian, katanya bos mau mampir pagi-pagi. Jadi panik dia." Jawab si ganteng sambil nyodorin duit lima puluh rebu, selembar. "Sekalian bikinin kopi, anternya ke kantor Pak Usman saja."
"Buat berapa orang, Mas, kopinya?"
"Bikin saja empat, ehh ... Lima, Pak Roy juga ikutan meeting."
"Ok, Mas."
***
Dari belanja makan pagi sampai bikin kopi gue merasa segalanya akan baik-baik saja. Tidak ada firasat buruk apapun, kecuali saat masuk kantor Pak Usman dan membagikan minuman.
Seperti Dejavu, eike liat penampakan gorila di tengah manusia. Pria yang beberapa hari lalu melakukan transaksi sama Becca ada di sini.
Beryl bilang bos besar mau datang inspeksi. Ini laki emang berbadan besar, tapi tampang lebih mirip satpam. Mana pakaiannya santuy banget, cuma pakai kaos ama celana blue jeans, ngga repot pakai jas atau dasi. Beda banget sama para kaum pekerja yang mana dituntut harus selalu rapi berseragam lengkap dengan segala atributnya.
Rasa penasaran gue ngga langsung puas gitu aja meski tanpa harus bertanya jawabannya udah di depan mata. Semua orang berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kesalahan, dan yang pria itu lakukan hanya diam dan mendengarkan sambil memeriksa semua laporan dalam tablet berukuran cukup besar.
"Saya lebih suka kopi tanpa gula," pria itu bersuara saat gue ada di sebelah dia mau naroh kopi.
Kopi yang ada di tangan gue taroh ke atas baki lagi, sebelum itu laki menoleh dan ... Dia seperti mengingat sesuatu, tapi tidak yakin.
Dalam hati bersyukur juga sebenarnya. Andai pria itu segera mengalihkan pandangan dan tak membuat suasana jadi canggung.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya gue sebagai bentuk sopan santun.
"Tidak," jawab si pria praktis, tapi masih juga tak mengalihkan pandangannya, "nama kamu ... Jwa-ri-yah?" Lebih kepada mengeja nama di name tag seragam yang gue pakai.
Najwa, Pak! Najwa, cuma karena dulu waktu kecil sakit-sakitan nama gue berubah jadi Jwariyah. Pengen nangis sumpah!
Diri ini seperti dipermalukan depan umum cuma karena nama yang ngga sesuai zaman.
"Iya," pengennya ngamuk, tapi gue empet.
"Panggilnya?"
Cinta, nyaris gue teriak. Beruntung pengendalian diri gue sangat baik. Hingga dengan santun gue berkata, "Jwa."
Dari sini nampak si abang mulai mengingat sesuatu, sebelum benar-benar ingat gue permisi kabur dengan dalih kopi tanpa gula request si bos.
***
Bila terasa sakit pala akibat membaca cerita ini berulang kali.
Bisa jadi anda sama seperti saya😅
***
24.04.20
KAMU SEDANG MEMBACA
Jwa
De TodoGue ngga suka nonton sinetron, apalagi yang kejar tayang. Kalian tahu kenapa? Karena idup gue jauh lebih drama dan semua karena satu orang.
