Lava turun dari mobil dengan mood yang sudah sangat buruk. Alasannya sudah pasti karena cewek yang baru saja Gunung kenalkan padanya, belum lagi dari awal, Tiara udah ngomong jelek ke Lava, Gunung malah diem aja dan tidak ada niatan untuk menegur teman masa kecilnya itu.
"Lava, lo duluan aja ke kelas, gue mau nganter Tiara ke ruang TU dulu." Lava mengangguk. "Nanti istirahat tunggu dikantin, ya."
Lava mengacungkan jempolnya dan berjalan ke kelasnya. Emosinya masih menggebu-gebu saat ini. "Cintakuu!!"
Lava tidak menoleh, dia ingat ucapan Gunung kemarin. Katanya, gak boleh noleh kalo si Farras manggil-manggil cintaku. "Woyy, cintaku!!" Wangi parfum langsung menusuk kehidungnya begitu cowok itu berjalan disebelahnya.
"Lava!"
"Apa?!" jawabnya dengan emosi.
"Lo kok cantik banget? Bahkan dari belakang aja udah keliatan cantiknya!" Lava memutar bola matanya mendengar ucapan buaya darat disebelahnya. "Lo lagi bete ya?"
"Keliatan?"
"Iya, tuh liat dikepala lo udah muncul tanduknya," jawabnya sambil memperagakan tanduk dengan tangannya. "Pasti gara-gara pacar lo, ya? Tadi gue lihat dia sama cewek, selingkuhannya?"
"Temennya!"
"Lo tenang aja, La. Kalo dia selingkuh, lo bales pake selingkuh juga. Tapi selingkuhnya sama gue, ya?"
Lava malah ngakak mendengar ucapan itu. "Lo mau jadi second choice?"
"Gak mau sih sebenernya, tapi kalo sama lo gapapa."
"Segitunya?"
"Namanya juga cinta."
"Beneran cowok gila."
Farras menepuk-nepuk dadanya bangga. "Btw, sarapan dulu, yuk? Kayaknya, bala-bala sama gehu enak."
"Pake lontong tapi!"
"Ayooo."
* * *
"Kalau ada makanan dimeja, mejanya yang kau makan. " Assiikkk.
"Kalo ada kopi yang kusuguguhkan, gelasnya yang kau minum." Sawer manggg.
""Cukup saja dua kursi, jangan tambah kursi lain teteteteteww."
"Kalau ada makanan dimeja, mejanya yang kau makan."
"Kalau ada kopi yang kuguhkan, gel—"
"STOP!"
Lilu yang lagi jadi biduan dikursinya, tiba tiba berhenti menyanyi. Dan orang yang nyuruh Lilu untuk berhenti adalah Lava. Telinga Lava sudah panas, dari tadi si Lilu nyanyinya itu-itu mulu, bagus-bagus kalo bener, ini dengan seenakjidatnya dia ganti-ganti, Rita Sugiharto menangis mendengarnya.
"Ih! Kok nyuruh berhenti? Kan gue lagi seru, La."
Lava berdecak dan menyimpan pulpen yang sedang dia pake. "Lo seru, tapi orang lain sakit telinga denger suara lo!"
"Ih!"
Lava menggeserkan buku catatan dan buku tugasnya. "Nih, mending tulis sekarang dari pada 'Kalo ada makananan dimeja, mejanya yang kumakan' terus, emang dikumpulinnya minggu depan sih, tapi mending jangan ditumpuk."
"MasyaAllah Tabarakallah ... Kok tumben lo gercep?" Lilu berdecak kagum, biasanya si Lava ini sebelas dua belas sama Lilu, walaupun Lava lumayan pinter tapi gadis itu tipe-tipe orang yang santuy kalo ngerjain tugas.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTUNG PACAR! [TERBIT]
Romance[SEBAGIAN PART SUDAH DIHAPUS] Untung Pacar! Kalau bukan, akan Lava jual Gunung di pasar loak dengan harga paling minim saking stress-nya menghadapi manusia naudzubillah seperti Gunung!
![UNTUNG PACAR! [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/217364181-64-k285919.jpg)