"Dia kan cuma nanyain tugas, Kak."
"Tapi lo teleponan!"
"Itu juga nanyain tugas, di chat gue susah jelasinnya."
Gunung berdecak. "Lo tau gak sih kalo nanyain tugas tuh cuma alesan biar bisa chatan?"
"Emang gitu?"
"Si anjir. Lo harusnya jangan respon chat dia, kalo gak mau anaknya menjadi-jadi."
"Gue udah gak respon yah! Malah, seringnya dia ngajak ngobrol tapi gue tanggapin seadanya banget."
"Ya berarti jangan pernah lo respon lagi, di kelas kan bukan cuma lo, emang gak bisa nanyain ke orang lain?"
"Sombong banget dong kalo kayak gitu, kalo gue suatu saat butuh sama dia gimana?"
"Lo minta tolong sama gue aja!"
"Lo kok sensi banget, Kak? Gue juga gak akan macem-macem kan?"
"Siapa yang bisa tau?"
Lava berdecak. "Lo tuh kenapa sih takut banget? Gue aja liat lo baik-baik sama mantan, bahkan ngomongnya aku kamuan, pulang pergi bareng. Gue kan segininya kan?"
"Kok lo malah ke dia, gak nyambung!"
"Bukan gak nyambung! Tapi, lo gak ngaca. Overthinking-an banget jadi orang."
"Lo malah nyalahin gue, padahal disini lagi bahas lo yang deket-deket sama cowok lain!"
"Yaudah, oke! Salah gue!" Walaupun Lava mengalah, tapi tetap saja dia emosi. Tak ingin memperpanjang debat, Lava memilih berlalu dan naik ke kamarnya.
"Gue belum selesai loh, La. Lo mau pergi gitu aja?" teriak Gunung ketika melihat Lava pergi begitu saja, dan selalu begitu. Lava pergi sebelum masalah selesai, dan akhirnya tetap Gunung yang harus minta maaf.
"Gue males emosi terus, lo pulang aja," balas Lava tanpa berbalik.
Gunung berdecak, lihat kan? Yang salah siapa, yang marah siapa.
"Terus jualan ini gimana, kita belum selesai kan ngobrolin ini? Harganya gimana, fotonya harus diedit juga!" Gunung masih tetap berbicara untuk menghentikan Lava.
"Sama gue aja! Lo tau beres!"
Udah tau belum beres. Gunung malah langsung ngajak berantem, Lava jadi gak mood sekarang. Terserah saja, nanti biar dia yang bikin poster dan ngitung harga jual. Walaupun bakal bikin pusing, tapi gapapa. Yang penting gak berantem panjang sama pacarnya.
* * *
"ANDAIKU TAHU KAN SESAKIT INII, KU TAKKAN MUNGKIN MENCINTAIMU SEDALAM INIIIIIII!!!"
Ibu, Bapak, dan Mentari yang duduk dimeja makan menoleh kearah pintu kamar Gunung. Dari pulang tadi, Gunung diem dikamar dan nyetel musik pake speaker yang sampai kedengeran keluar, gak sekenceng itu sih, tapi kalo masuk kamar Gunung kayaknya seluruh kotoran telinga langsung meler begitu saja.
"Dia kenapa, Tar?" tanya Ibu mendengar lagu galau itu.
"Ibu kayak gatau aja, dia kan kalo berantem sama Kak Lava bakal kayak orang paling galau sedunia."
Bapak menggelengkan kepalanya. "Lebay banget ya? Untung waktu Bapak muda gak kaya gitu, gak tergila-gila sama cinta."
"Prett. Kayaknya waktu Ibu muda, Tar. Ada orang yang sampe rela kerumah hujan-hujanan gak mau diputusin, sampai nangis berdarah-darah. Itu siapa ya?"
PRRIIITTT, Ibu pelanggaran karena sudah membuka aib yang sampai saat ini Bapak jaga.
"Wah iya, Bu? Itu sih lebay banget! Kalo aku jadi Ibu, kayaknya udah langsung cut off aja dari kehidupan."
"Kamu jangan gitu, Tar. Kalo dulu Bapak di cut off Ibu, kamu gak akan ada sekarang," balas Bapak kesal. "Udah cepet suruh Aa kamu turun, sama berhentiin lagunya ya. Berisik banget."
Mentari mengacungkan jempolnya dan naik tangga untuk ke kamar Gunung, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu, terlihat dimeja belajar seorang pria yang sibuk dengan laptopnya, dia lagi buka youtube dan ketawa-ketawa sendiri.
Mentari kira, Kakaknya itu lagi nangis-nangis sambil ujan-ujanan di shower. Tapi ternyata, lagu galau yang di setelnya itu hanya backsound, orangnya lagi cekikikan disana.
Mentari berjalan kearah speaker dan mematikan lagunya. Gunung langsung menoleh dan menatapnya sinis. "Ngapain lo kesini?"
"Lo disuruh Bapak turun, makan."
"Nanti aja, tadi sore gue udah makan di rumah Lava."
Mentari mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia mendekat kearah lemari dan melihat-lihat isi lemari Kakanya. "Kak, pinjem topi ya buat besok?"
"Iya sok."
Mentari langsung tersenyum senang, biasanya saat Mentari mau pinjem barang-barang Gunung, cowok itu bakalan sangat pelit sampai Mentari harus membayarnya dengan uang Lima puluh ribu, tapi karena Gunung yang galau, Mentari tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Gunung yang lagi galau emang gini. Dia suka tiba-tiba baik, bukan-bukan, lebih ke kayaknya cowok itu males buat berantem sama Mentari.
* * *
"Gunung jangan jemput cewek kamu ya, aku mau ke toko buku soalnya."
"Iyaa."
Tiara tersenyum senang mendengarnya, Gunungnya ini dari dulu tidak pernah menolak keinginannya. Gunung ini orangnya kalo bisa bantuin, dia bakal bantu. Makannya, Tiara ini suka banget sama Gunung.
"Gunung, eemm kamu ada niatan putus dari Lava gak?"
Gunung menggeleng. "Enggak lah. Kenapa emang?"
"Gunung, sebenernya kamu masih suka sama aku kan? Kamu mau kita balikkan lagi kan?"
"Enggak bisa, Ra."
"Bohong! Kamu masih sayang sama aku kan, Gunung?"
"Masih, Ra. Tapi, sebagai temen."
Tiara berdecak. "Gunung, padahal kalo kamu mau balikkan, aku bisa langsung iyain. Kamu, gak sesayang itu kan sama si Lava? Iya kan?"
"Kamu kenapa, Ra. Tiba-tiba banget?" tanya Gunung masih dengan nada biasa. Tidak terdengar adanya emosi disana.
Tiara mengambil nafas. "Aku cuma kangen saat-saat kita pacaran, Gunung. Kamu selalu ada buat aku, selalu dengerin aku, selalu ma—"
"Ra, kan yang buat kita putus itu kamu."
"Enggak. Kamu salah paham, aku gak pernah kayak gitu Gunung."
Gunung menjilat bibirnya yang terasa kering. "Enggak gimana? Kamu selingkuh sama temen aku karena kita LDR, terus waktu aku ke Jogja, kamu ketahuan lagi jalan sama Ardi kan?"
"Enggak, Gunung ... Waktu itu kita lagi kerja kelompok."
"Kerja kelompok sambil pegangan tangan? Kerja kelompok padahal beda kelas."
"Yaudah, maaf waktu itu aku khilaf karena kamu gaada di Jogja, karena kita ldr. Tapi, sekarang kan aku disini, bareng sama kamu lagi."
Gunung menggeleng. "Ara, maaf ya. Aku tetep gak bisa. Selain karena waktu itu aku udah patah hati banget sama kamu, kalo kita pacaran juga gak tau arahnya bakal dibawa kemana. Kita 'kan dari awalnya emang udah gak bisa, Ra."
Iya gak bisa, karena mereka beda agama.
Meskipun masih lama untuk ke jenjang serius, tapi Gunung takutnya kalo udah sayang banget malah susah lepas. Dan nanti pas udah dewasa, malah bingung harus gimana. Mau maksain, emang bisaa? bolehh?
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTUNG PACAR! [TERBIT]
Romance[SEBAGIAN PART SUDAH DIHAPUS] Untung Pacar! Kalau bukan, akan Lava jual Gunung di pasar loak dengan harga paling minim saking stress-nya menghadapi manusia naudzubillah seperti Gunung!
![UNTUNG PACAR! [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/217364181-64-k285919.jpg)