Ternyata, doa Lava agar Pak Polisi kelilipan ee burung itu nggak ke kabul, karena ternyata mereka kena tilang, STNK-nya diambil, terus diceramahin polisi. Udah gitu jadi telat datang ke sekolah. Membagongkan!
Pak Maman sebagai guru kedisiplinan memberikan tugas kepada yang telat, yaitu dengan harus ngebersihin area sekolah, dan mereka bertiga memilih untuk membersihkan taman sekolah, Mentari sama Gunung datar-datar aja, beda lagi sama Lava. Gadis itu ngomel-ngomel gak berhenti.
"Kak Gunung sih gak mau ngalah banget, padahal gue sama Mentari aja berdua. Lo bisa hubungin temen-temen lo." Entah keberapa kali Lava ngomong kayak gitu.
"Yaudah sih udah kejadian juga," balas Gunung enteng, ia menyapu daun-daun kering.
"Tapi STNK gue diambil Kak!"
Gunung melirik Lava singkat. "Bawel banget! Tenang aja, nanti pas mau sidang, gue temenin ngambil sama nebusnya deh."
"Iya deh!" Lava menolehkan kepalanya pada Mentari. "Diem-diem terus, Tar."
"Males ngomong, Kak. Kesel banget gue sama dia," balasnya sambil menunjuk Gunung.
"Kok jadi kesel sama gue?" tanya Gunung bingung tiba-tiba disalahkan. Lava memang pantas kalo mau kesel, tapi 'kan si Mentari ini sama-sama beban kayak Gunung.
"Ya salah lo! Kenapa mobil lo harus tiba-tiba mogok sih? Liat ini, kaki gue masih gemeteran dimarahin polisi."
Gunung dan Lava melihat tangan dan kaki Mentari. Gemeteran beneran ternyata. Pantes aja dari tadi dia diem-diem terus kaya bayi lagi ee.
Sontak saja, kedua orang itu tertawa. "Tar? Segitunya banget lo takut polisi?" tanya Gunung masih dengan tawanya.
"Diem lo!"
"Woy, cintaku! Lo lagi ngapain?"
Sudah tau 'kan siapa orangnya? Lava langsung melotot pada Farras. Ada Gunung disini, apa cowok aneh itu gak takut kalo tiba-tiba ditonjok Gunung?
"Kak, jangan diladenin. Diemin aja ya?" pinta Lava berjaga-jaga, dan dibalas anggukan oleh Gunung.
Farras mendekat kearahnya, lalu berdiri disebelah Gunung dan menepuk bahunya. "Woy, Bang? Apa kabar?"
"Baik."
"Cintaku, biar cepet beres gue bantuin ya?"
Lava langsung menggeleng. "Gak perlu, lo ke kelas aja sana."
"Gue mau disini aja, memandang lo."
Tapi ternyata, Gunung tidak bisa membiarkan dan menahan diri, pria itu langsung menarik kerah Farras. "Lo jangan deketin cewek gue terus, anjir!"
"Wih, santai dong, Bang."
"Awas aja kalo gue liat lo deketin cewek gue lagi, gue gak akan mikir-mikir buat ngabisin lo!" Gunung langsung melepaskan Farras. "Pergi lo!"
Farras mengangguk, dia bersiap untuk pergi, tapi sebelum itu tangannya mepuk-puk kepala Lava sebentar. "Sampai ketemu nanti di kelas ya, Cintaku!!" Setalahnya cowok itu langsung lari.
Gunung langsung menghempaskan sapu lidi ditangannya dengan kasar. "Lo pokoknya jangan deket-deket sama dia!"
Lava melihat wajah Gunung yang memerah karena emosi, gadis itu langsung mengangguk mengiyakan. "Iyaaa."
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTUNG PACAR! [TERBIT]
Romansa[SEBAGIAN PART SUDAH DIHAPUS] Untung Pacar! Kalau bukan, akan Lava jual Gunung di pasar loak dengan harga paling minim saking stress-nya menghadapi manusia naudzubillah seperti Gunung!
![UNTUNG PACAR! [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/217364181-64-k285919.jpg)