13. BELANJA

1.7K 212 2
                                        

Lava sedang berjalan keparkiran, tadi dia ngajak Lilu buat pulang bareng, tapi katanya Lilu ada kumpul organisasi dulu. "Lava, pulang bareng yuk?"

Itu adalah ajakan dari Farras. Oh iya, Farras sekarang manggilnya normal-normal aja, kemarin-kemarin dia panggil Lava pake cintaku dia gak noleh sama sekali. Jadi, daripada gak bisa ngobrol sama sekali, lebih baik Farras gak aneh-aneh.

"Gue bawa motor."

Farras mengangguk. "Kalo gitu, mau jalan-jalan sama gue gak?"

"Enggak, nanti pacar gue marah."

"Ya jangan ngasih tau atau jangan sampe ketahuan kalo kita jalan."

Sesat banget ya didenger-denger.

"Gak mau, gue kan orangnya setia."

"Semoga lo khilaf sama gue."

Mereka sampai diparkiran, Lava mengambil helm di motornya, dan Farras masih setia berdiri disebelahnya. "Lo, lucu banget pake helm gini."

"Lo ini suka puji-puji orang ya gue denger-denger."

"Iya, tapi cuma ke lo aja."

"Nah, itu juga bahasa buaya banget."

"Lo ini gak percayaan banget, ya? Gue cowok baik-baik loh."

Lava mengangguk dan menyalakan motornya. "Iya baik, baiknya didiemin aja. Udah ya bacotnya, gue pulang duluan!"

Farras masih memperhatikan Lava yang mulai hilang dari pandangannya. Cewek itu, kenapa kuat banget imanya. Padahal, Farras ini kurang apa? Ngegoda udah, terus wajahnya juga cukup tampan untuk bikin cewek mau sama dia, Farras juga selalu muji-muji Lava, Dan titik terbucinnya adalah, Farras juga mau dijadiin second choice.

Dengan Lava yang sangat susah buat diluluhin, Farras semakin tertarik untuk membuat gadis itu jadi pacarnya.

40 orang ketik Aamiinn, doa Farras langsung dikabulin.

* * *

Lava dan Gunung sedang berkeliling dipasar modern, pasar yang bersih dan tidak terlalu berisik seperti pasar kebanyakan. Bahan makanan disini juga kualitasnya sama seperti yang dijual di supermarket, hanya saja harganya memang lebih murah.

"La, beli stoknya jangan terlalu banyak ya, takutnya malah basi."

"Iyaa."

Gunung mendorong troli, sedangkan Lava memilih-milih sambil meihat catatan yang sudah ia ketik di hp. "La, gue bongkar celengan gue. Receh sih isinya, tapi lumayan buat nambah-nambah modal."

"Kok dibongkar? Kan biar gue talangin dulu."

"Ya gapapa. Gue kan ternyata ada, jadi kita bagi dua aja." Lava mengangguk setuju. "Tapi, gue belum bilang Ibu sama Bapak sih, takutnya nanti mereka mau tiba-tiba beliin hp, jadi untung dari jualan, bakal gue beli buat barang lain."

"Terserah lo deh, yang penting 'kan udah usaha mau nyoba sendiri."

"Atau gue tabungin buat biaya nikah, ya?"

"Terserah lo mau diapain, sekarang bantu pilihin telornya dong."

"Yang mana aja kayaknya sama, La."

Lava menggeleng. "Beda tau, ada yang warna cangkang coklat banget ada yang coklatnya keorenan gitu."

Gunung sih, gak pernah peduli sama warna telurnya. Kalo dia mau masak telor ceplok, ambil yang mana aja. Rasanya pun sama dan bentuknya tetep lonjong. "Terus, bagusnya gue pilih yang gimana."

"Ya bebas aja, dalemnya kan sama semua."

Gunung anak sabar, Gunung anak baik.

"Kak Gunung, gue mau stok makanan didapur juga ah. Lo kesabarannya ditambahin dulu ya."

UNTUNG PACAR! [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang