Lava terbagun dari tidurnya, gadis itu membuka hpnya untuk melihat jam. Dan sekarang sudah pukul setengah 6. Dia segera bangkit dan wudhu untuk menjalankan kewajibannya.
Setelah beres, Lava keluar dan mengetuk pintu kamar disebelahnya, tapi tak ada sahutan. Gadis itu langsung masuk begitu saja dan melihat Gunung yang masih lelap dalam tidurnya.
Setelah mengatakan kalimat yang menurut Lava sangat memalukan, Gunung langsung mengolok-oloknya. Lava malu, dan langsung lari ke kamarnya. Dan setelahnya, dia mendengar suara Gunung yang meminta izin untuk tidur di kamar yang dulu adalah kamar Mama dan Papa.
Lava menatap wajah damai Gunung dalam tidur, Gunung keliatan ganteng banget kalo diem gitu. Lava mendekat dan duduk disebelah pria yang masib tertidur itu. "Kak Gunung bangun."
Tak ada pergerakan.
"Kak bangun ..." Gunung masih tidak bergerak sedikitpun.
Karena kesabaran Lava setipis tisu dibagi seratus, dia mengguncang tangan Gunung kencang dan mendekatkan bibirnya ke telinga Gunung. "WOYYYY BANGUNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!"
Gunung langsung terbangun, gendang telinganya mendengung mendengar teriakan Lava yang tepat didepan telinganya. Gunung menghela nafas, gak Lava gak Mentari, kalo ngebagunin gak ada lembut-lembutnya. Selalu aja harus teriak-teriak dan buat Gunung jantungan dipagi hari.
"Kenapa teriak-teriak sih, La. Bangunin biasa kan bisa."
"Bisa apa? Lo dilembutin gak gerak sama sekali ya!"
Gunung mengusap wajahnya untuk membersihkan beberapa kotoran diwajahnya. "Jam berapa?"
"Setengah enam."
Gunung mengangguk dan berjalan ke kamar mandi, sedangkan Lava mengeluarkan sejadah dan sarung milik Papanya. Gunung keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang sedikit basah. "Kak, lo sarapan dulu disini ya? Temenin gue."
"Iyaa."
"Gue turun dulu, nanti beresin lagi ya!"
"Iyaa, Lava ..."
Lava keluar sambil tersenyum senang. Akhirnya dia bisa liat Gunung sarungan, ternyata cowok sarungan damage-nya gak main-main. Belum lagi, dia bisa sarapan bareng sama Gunung. Udah kayak pasutri ya.
Lava memasak nasi goreng yang dimasukin ayam, sosis, sayuran dan tentunya cabe. Dia dan Gunung kan, seleranya sama, sama-sama suka pedes. Tak lupa, Lava menggoreng kerupuk udang yang kemarin dia beli dipasar.
Lava sengaja masak nasi, kata Ibu, Gunung kalo dikasih sarapan roti, 5 menit selanjutnya bakal lapar lagi, maklum aja ya, selain karena porsi makan laki-laki yang memang banyak, Gunung juga anaknya indonesia banget. Pokoknya, apapun harus selalu nasi!
Gunung turun dan duduk dimeja makan, enggak, maksudnya kursi di meja makan. "La, banyakin."
"Iya, tau." Lava memasukkan nasi kepiring Gunung dua kali lebih banyak dari porsinya. "Nih, dijamin enak."
"Kalo gak enak, gue lepeh ya?"
"Anjir, chef Juna lo?"
Chef Juna kalo panas telinga, nih marahin aja mereka berdua. Dari kemarin perasaan namanya dibawa-bawa terus ya?
Gunung menyuapkan sesendok nasi goreng. "Enak, La. Lo tinggal rajinnya sih kalo kata gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTUNG PACAR! [TERBIT]
Romance[SEBAGIAN PART SUDAH DIHAPUS] Untung Pacar! Kalau bukan, akan Lava jual Gunung di pasar loak dengan harga paling minim saking stress-nya menghadapi manusia naudzubillah seperti Gunung!
![UNTUNG PACAR! [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/217364181-64-k285919.jpg)