Walaupun dengan menahan nangis karena sudah dimarahi Gunung dengan kata-kata pedasnya, Lava tetap melanjutkan kegiatan yang memang harus dia lakukan. Menjual dagangannya.
Di kursi taman sekolah, beberapa orang yang pesan mengambil barangnya bergantian, Gunung diam sambil memisahkan pesanan-pesanan ke dalam kantong keresek. Dan Lava menerima uang sambil memberi ucapan terimakasih dengan senyuman yang di paksakan.
"Ini yang lo, tiga puluh ribu ya," katanya pada seorang siswi. "Nih kembaliannya dua puluh, makasi ya! Nanti kalo mau beli lagi dm gue aja."
"Okeee."
"La, yang gue mana?"
Lava mendongak mendapati Farras. "Nih, delapan puluh ribu."
Farras memberikan uang seratus ribu. "Kalo beli sama Teteh yang jualnya boleh gak? Gue mau soalnya."
Lava yang mendengar itu langsung melirik Gunung dengan cemas, Gunung masih emosi sekarang, takutnya dia malah melampiaskannya pada Farras yang sengaja memancing-mancing.
"Kembalian dua puluh ribu ya, ini pesanan lo. Makasi udah borong." Lava buru-buru memberikan kembaliannya sambil memelototi Farras dan mulut yang kumat-kamit menyuruh Farras untuk segera pergi.
Untungnya cowok itu langsung nurut, dan Gunung yang tampak tidak peduli. Pria itu masih saja diam, dan masih belum menerima ucapan maaf dari Lava.
Akhirnya, semua pesanan sudah dibawa oleh pemiliknya. Dan tinggal yang sisa 20pcs yang sengaja dilebihkan. "Gue mau jual ini, lo bawa dulu aja duitnya," ujar Gunung tanpa menoleh sama sekali, tidak peduli dengan mata Lava yang sudah mulai berkaca-kaca, Gunung langsung pergi begitu saja.
* * *
"Woii gue jualan makanan nih, siapa yang mauu?!!!" teriak Gunung didepan para siswa dikelasnya.
"Mauu!! Tapi gratis!"
"Gue mau! Tapi ngutang dulu!"
"Bacot lo pada! Gue lagi jualan ya, bukan mau sodaqoh! Gunung memamerkan dagangannya. Nih liat, enak banget kan keliatannya? Buru cepet beli! Yang beli semoga cepet kaya!"
Gunung mendekat ke bangku siswi-siswi. "Woi, Mirna dan Jesica, beli dong. Murah kok gak lebih dari dua puluh ribu."
Mirna menggeleng. "Duit cash gue abis, Gunung. Besok aja."
"Kalo gaada cash, bayarnya mau transfer juga bisa, kok." Gunung menyimpan beberapa makanan dimeja. Laganya itu, udah kayak pedagang diterminal yang suka maksa-maksa buat beli. "Nih cepet pilih, Jesica. Lo jangan alesan gak punya duit ya, pinjem dulu aja nih sama si Mirna."
"Yaudah, beli deh. Lo mau apa, Jes?"
"Risol mayo berapaan?"
"Sepuluh ribu aja, lo udah dapet dua pcs gini." Gunung menunjukan risol yang sudah memakai kertas mika per dua pcs, alesannya langsung di packing 2pcs gini, adalah biar orang gak beli satu. Tutor cepat kayaknya boleh dicoba ya.
"Yaudah Jesica itu, gue dissert box aja, mana sini no rek lo."
Gunung langsung memasukkan nomor rekeningnya di hp Mirna dengan senang. Liat kan? Urusan jual paksa gini Gunung emang jago. Besok-besok Gunung bakal bawa lebih banyak lagi, dan dalam kamusnya sekarang, tidak boleh ada jualan yang tidak habis, kalopun ada, tetaplah jual paksa pada orang-orang yang masih bisa dipaksa.
Cukup segitu motivasi dari Gunung, terimakasih.
* * *
Di saat Gunung lagi bahagia karena berhasil menghabiskan jualannya, ada perempuan yang lagi ngitung uang pendapatan dikamar mandi dengan wajah melasnya. Lava, perempuan itu sengaja menghitungnya dikamar mandi, karena kalo dikelas takutnya dikira sombong pamer-pamer uang. Padahal, pada kenyataannya orang-orang mana mau memperhatikan kegiatannya, mereka kan sibuk sendiri. Belum lagi, ekspresinya yang beneran gak menunjukkan rasa senang sama sekali. Dia beneran ngerasa bersalah sekarang, tapi kenapa Gunung harus memarahinya sekasar itu.
"Bodo amat deh dia mau gimana! Yang penting kan si Tiara udah gak kenapa-napa, ya," monolognya, Lava keluar dari toilet sambil merapikan rambutnya.
"La, tolongin gue."
Lava menolehkan kepalanya begitu mendengar suara Farras. "Ih itu kenapa lagi?" tanya Lava saat melihat wajah Farras banyak memar, padahal saat bertemu tadi wajah pria itu masih terlihat bersih-bersih saja.
"Ketonjok sama orang."
"Masa ketonjok?! Lo abis berantem kan? Sama siapa? Kok bisa sampe sememar itu."
"Khawatirnya nanti aja, bisa bantuin gak sih? Udah mulai nyut-nyutan nih."
Lava segera berjalan mendekat, dan mengalungkan sebelah tangan Farras dilehernya. "Lo itu siapa sih sebenernya? Waktu pertama pindah udah luka-luka, sekarang berantem sampe memar gini, lo punya musuh ya?"
"Enggak." Farras hanya mengatakan itu saja, dan sama sekali tidak membalas kekepoan perempuan disebelahnya.
Mereka sampai di UKS, Farras langsung duduk blangkar. "Kak Dinda, ini temen gue wajahnya memar."
Dinda, salah satu anggota PMR itu mendekat, dia segera membawa kotak P3K. "Ya ampun, sini gue obatin."
Farras langsung menggeleng. "Sama Lava aja," ucap Farras menolak, bahkan nada suara cowok itu sangat berbeda ketika dia ngomong sama Lava dan Lilu. "La, obatin gue plis." Pintanya lembut.
Lava mengangguk saja dan segera mengobati wajah memar Farras dalam diam. Farras menutup matanya menahan rasa sakit dari alkohol yang Lava tempelkan sekarang. "Sakit ya?"
"Banget."
"Tahan ya bentar lagi beres."
"Iya, semoga bisa tahan."
"Lo berantem sama siapa sih? Tega banget nonjokin orang sampe gini."
"Yakan? Tega banget kan?" Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja ada air mata menetes dari ujung matanya. "Farras, lo nangis? Gue ke kencengan ya ngobatinnya?"
Pria itu tidak menjawab, dan air matanya malah mengalir semakin deras.
"Farras, lo kenapa?" Lava mematap Farras khawatir, padahal Lava nanya biasa aja, apa Farras terharu ya?
Farras duduk dan menghapus air matanya. Tiba-tiba saja, pria itu menarik Lava dan memeluknya. "La, bentar aja, ya? Biarin gue numpahin rasa sedih didepan lo."
Lava membeku, dia ingin langsung melepaskannya. Tapi, Farras memeluknya sangat erat, belum lagi tangisan pria itu yang terdengar sangat menyakitkan. Lava jadi gak tega, dan Lava langsung menepuk-nepuk punggung Farras. "Lo lagi sedih banget ya, sampe gak bisa nahan nangis? Farras, kalo lo mau cerita sama gue cerita aja, meskipun gue gak mau pacaran sama lo, gue mau kok jadi temen lo."
Farras tidak membalasnya dan masih saja menangis.
"LAVA!"
Dan Gunung langsung menariknya keluar begitu saja.
Dan perang yang udah gatau part keberapa, kayaknya bakal terjadi lagi.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTUNG PACAR! [TERBIT]
Romance[SEBAGIAN PART SUDAH DIHAPUS] Untung Pacar! Kalau bukan, akan Lava jual Gunung di pasar loak dengan harga paling minim saking stress-nya menghadapi manusia naudzubillah seperti Gunung!
![UNTUNG PACAR! [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/217364181-64-k285919.jpg)