シ︎ happy reading シ︎
♥︎
♥︎
♥︎
Reza maupun Rissa, keduanya sama-sama diam, tidak ada yang membuka suara. Berkali-kali Reza melirik kearah Rissa, gadis itu hanya menunduk.
"Lu takut kah, jalan beriringan sama gua, kayak sekarang?" Rissa menoleh, membuat Reza menjadi semakin canggung.
"Enggak kok, cuma risih aja, sedikit" Rissa tak berbohong, gadis itu memang merasa risih karna ditatap berpuluh-puluh pasanga mata sedari tadi.
"Gini rasanya jalan sama orang beken" Rissa membatin.
"Gua malu-maluin ya? Sampai lu risih gitu" Pertayaan Reza diluar dugaan, membuat Risaa jadi tak enak hati mendengarnya.
"Bukan gituu Rezaa"
"Kalau bukan gitu, terus gimana?" Rissa mendengus pelan, membuat Reza terkekeh dibuatnya.
"Gaktau deh, susah jelasinnya za!"
"Sesusah jelasin perasaan gua ke lu ya?"
Rissa menghentikan langkahnya, melongo. Membiarkan Reza berjalan mendahului nya.
"Dia bilang apa tadi?" Batin Rissa.
☦︎ ☦︎ ☦︎
Reza keluar dari ruangan kepala sekolah, SMA angkasa. Bersama Rissa dibelakangnya.
"Kenapa cuma kelas lu sama gua doang yang ikut camp, gak adil banget ini mah!" Rissa berdecak sebal, mood nya kali ini benar-benar tak baik, hancur sehancur-hancurnya.
"Yauda si Sa, mungkin ini sebagai wujud ungkapan terimakasih dari sekolah, kan kelas kita serng nyumbangin piala untuk sekolah, setiap kompetisi malah" Reza menjelaskan, guna menenangkan gadis itu.
Reza bahkan tak habis fikir, biasanya kalau perempuan lain, pasti akan merasa senang diperlakukan istimewa oleh pihak sekolah. Tapi Rissa, gadis ini berbeda.
"Terlalu klise Za! Ga demen guaaa!" Reza tersenyum, membuat Rissa semakin bertambah rasa kesalnya.
"Jalanin aja dulu sa" Saran Reza.
"Pasti gakkan rame, kelas lu ada berapa orang za?" Rissa bertanya, membuat Reza terlihat berfikir sejenak.
"40 kayaknya"
"Ih tuhkan! Kelas gua cuma 35, eum sebenarnya si 38, tapi gua jamin tiga orang gakkan join!"
"Biar gua tebak, Pasti mereka yang gajoin itu, Lu, Amandha, Monica. Bener gak tebakan gua?" Rissa menganggukkan kepala nya, polos. Gadis itu memang tidak mahir dalam berbohong.
"Kenapa sih sa? Kenapa gak diikutin aja dulu? Kalau lu malah ikut-ikutan gak join gini yang ada kepala sekolah sama guru-guru bakal berfikir lu itu udah nyepelein kepercayaan dari mereka."
Ucapan Reza membuat Rissa seketika menjadi goyah, gadis itu sadar diri. Dia sudah diberikan tanggung jawab.
Apa iya dia menyerah begitu saja? Hanya karna apa yang dia mau tidak dikabulkan? Hanya karna dia merasa ini tidak adil, sehingga harus melepaskan tanggung jawah nya begitu saja?
☦︎ ☦︎ ☦︎
"Jadi serius cuma dua kelas Sa?" Amandha bertanya dengan nada dibuat seserius mungkin.
KAMU SEDANG MEMBACA
- GhanDha -
RomanceBertengkar setiap hari, Benci namun kemudian jatuh hati. Terdengar sangat simple bukan? Namun apakah sesimple itu kenyataan nya? Apakah akan berjalan semulus itu segala hal nya? Hanya Amandha dan Ghani, yang tau jawaban dari beberapa pertayaan diata...
