Part 2🌻

72 22 2
                                    

Kau berhasil membuat ku selalu memikirkan mu, karena kau perempuan yang berbeda dari yang lain.

                         -Happy reading-

Warning!! Setelah membaca jangan lupa divote dan komen😙 karena itu sangat berharga bagi author.

Zeo sudah berada di rumahnya yang megah nan mewah tetapi nampak sepi, hanya ada dirinya dan beberapa ART di rumahnya. Suasana seperti itu sudah biasa bagi Zeo sejak kecil, tetapi Zeo tidak merasa kesepian untuk hari ini karena Zeo sedang memikirkan gadis yang bernama Zaara. Zeo seolah-olah tersihir akan rupa Zaara. Sebab baru pertama kali ia melihat seorang siswi di SMA Elin Pelin tidak merasa kagum kepadanya.

Apa gue harus milikin dia untuk masa depan gue nanti?. batin Zeo di dalam hati.

Memang Zeo sangat tampan sehingga banyak yang suka dan kagum padanya tetapi Zeo tak pernah berpacaran, sebenarnya Zeo bisa saja menunjuk salah satu siswi di sekolahnya untuk menjadi pacarnya. Namun, itu tidak mungkin karena ini bukan hal sepele, ini menyangkut masa depannya. Zeo tak mau mempunyai pacar yang suatu saat nanti akan menjadi calon istrinya beserta menjadi ibu dari anak-anaknya, hanya memanfaatkan ketampanannya dan harta yang dimilikinya bukan karena cinta dan kasih sayang yang tulus. Selama ini Zeo memiliki prinsip jika dirinya menemukan seorang perempuan yang tidak mudah kagum kepadanya akan dijadikan pacar sekaligus calon istrinya.

"Kenapa jadi mikirin dia si?. Lupa, hari ini ada pemotretan." Zeo segera bersiap-siap untuk pemotretan bersama kedua sahabatnya.

                                 €€€

Saat tiba di tempat pemotretan.

"Tumben lo telat 10 menit, biasanya on time," kata Irfan yang sedang mengaca dicermin sekaligus merapihkan rambutnya.

"Jalanan macet makanya gue telat," alibi Zeo

Sepeninggalan Zeo Irfan nampak kebingungan dengan sikap Zeo yang menurut nya sedikit aneh.

Perasaan tadi gue dijalan lancar-lancar aja gak ada kendala. batin Irfan.

Saat Zeo dan kawan-kawannya sudah selesai siap-siap, mereka pun menuju tempat yang digunakan sebagai pemotretan mereka hari ini. Pada pemotretan kali ini mereka mempromosikan barang yang berbeda-beda. Zeo nampak bergaya seperti model untuk mempromosikan sepatu ternama yang berasal dari Bulgaria, Irfan bergaya dengan gagah dan keren menggunakan setelan jas yang dirancang oleh desainer ternama di seluruh dunia, dan Kenan bergaya tak kalah keren dari sahabatnya karena dia juga mempromosikan jam tangan yang diketahui harganya cukup fantastis.

"Aaww, bang Irfan ganteng syekali hari ini," kata Kenan dengan gaya pria jadi-jadian alias banci.

"Apaan sih lo!! Jijik gue ... awas aja lo sampe homo sama gue, GUE SUNAT DUA KALI JUNIOR LO MAU?" ancam Irfan kepada Kenan, yang merasa sedikit geser otaknya dan penuh penekanan pada akhir kalimatnya.

"Sans aja kali, gue kan cuman bercanda," kata Kenan sambil menepuk pundak sahabatnya.

Sebelum terjadi perdebatan lagi diantara mereka, Zeo langsung melerai pertengkaran tak bermutu dari kedua sahabat nya. "Udah cepetan lo berdua ganti baju gue laper," ucap Zeo yang sudah berganti baju dan langsung menuju motor hurleynya.

"Iya Ze iya," jawab mereka serempak. Saat mereka merasa menjawab bersamaan, kedua sejoli langsung menatap satu sama lain dengan tatapan muka yang tak biasa.

Ketiga lelaki tersebut memang lebih suka berpegian menggunakan motor hurley mereka masing-masing dibandingkan menggunakan mobil. Ntahlah, mereka sendiri yang lebih nyaman menggungakan motor hurley dibandingkan menggunakan mobil.

Tibalah mereka di restaurant bintang lima yang menjadi tempat makan malam pada hari ini. Saat mereka menempati salah satu kursi, Zeo tampak sedang memikirkan sesuatu alias sedang melamunkan suatu hal.

Kenan yang melihat Zeo seperti itu langsung berdeham. "Ehem, tumben banget seorang Zeo Alvaro Lardsel melamun."

"Kayaknya sih, lagi mikirin perempuan tadi di sekolah yang namanya Zaara deh," tebak Irfan

"Iya gue lagi mikirin dia. Masalahnya dia aneh dari perempuan yang lain, entah itu dari muda sampai tua kalo liat wajah gue langsung kagum, sedangkan dia ngga sama sekali," terang Zeo jujur.

"Gue tau prinsip perempuan yang lo cari Ze. Kaya dia tipenya, kan? Kalau iya, yaudah lo deketin aja dia untuk kenal lebih dalam. Kalo lo ngerasa nyaman, cinta, dan sayang baru dah ke jenjang yang lebih serius," kata Kenan dengan bijak dan wajah yang serius berbeda dari biasanya.

"Gue sependapat sama Irfan," sahut Irfan untuk meyakinkan Zeo.

"Hm gimana nanti," jawab Zeo seadanya

"Gue mau kasih tau aja. Kalo dia diambil sama yang lain lo jangan nyesel," ucap Kenan dengan santai.

Bukannya Zeo tidak mau mulai lebih kenal dengan Zaara, tetapi dia melihat Zaara tipe perempuan yang sulit untuk di dekati dan terlihat cuek jika berurusan dengan laki-laki yang tidak dikenalinya.

                                  €€€

Zeo sedang menonton TV di ruang tamu yang ada di rumahnya. Tiba-tiba ada suara mobil yang sudah tidak asing baginya siapa pemilik mobil tersebut. Siapa lagi kalau bukan Papanya sendiri yang jarang pulang ke rumah. Setiap Zeo tanya kenapa Papanya selalu berpergian untuk bekerja Papanya selalu menjawab, semua ini buat kamu Zeo anak semata wayang Papa. Padahal Zeo sendiri tidak tahu apa pekerjaan Papanya sehingga jarang pulang dan kenapa Mamanya meninggal dalam waktu yang tidak memungkinkan baginya.

                                  €€€





Ingin tahu apa yang diingat Zeo ketika Papanya memberikan penjelasan kenapa Mamanya bisa meninggal? Silahkan tunggu di Zeora 3🌻.

See you in the next chapter.

ZeoraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang