Part 10🌻

18 7 0
                                    

Saat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu.

                       -Happy reading-

Selesai acara pensi kemarin, sore ini Zaara tengah melaksanakan rapat OSIS sebelum menjelang ulangan kenaikan kelas. Jam 17.15 Zaara baru selesai rapat dan sekarang tengah berjalan bersisian dengan Faisal menuju gerbang sekolah.

"Lo kemarin happy banget ya bisa duet bareng Zeo," ucap Faisal basa-basi.

"Yaa gitu deh."

"Tapi gue gak suka lo deket-deket sama dia," ucapnya sambil melirik Zaara dari samping.

"Kenapa? Lo gak berhak ya atur-atur kehidupan gue, terserah gue mau berteman sama siapa aja!" gerutu Zaara dengan kesal karena setiap ada laki-laki yang ingin berteman dengannya pasti akan dilarang oleh Faisal.

"Intinya lo cuman punya gue bukan yang lain."

Zaara tidak membalas perkataan Faisal, karena ia malas berdebat dengan kecemburuan Faisal. Setelah melihat mobil yang tak asing baginya, ia pun segera memasukinya secepat mungkin untuk meninggalkan Faisal.

"Pak nanti mampir dulu ke supermarket ya, ada yang mau aku beli," ucap Zaara pada Pak Dion.

"Iya Non."

Sesampainya di supermarket Zaara masuk sendirian tanpa ditemani oleh Pak Dion, untuk belanja bahan masakan yang akan ia masak nanti.

"Udang udah, cumi-cumi juga udah. Apa lagi ya? Oh iya sayurnya belum," gumam Zaara melihat keranjang belanjaannya.

Selesai belanja ia segera membayarnya di kasir dan kembali ke mobil agar cepat sampai rumah. Sesampainya di rumah Zaara mandi terlebih dahulu dan melaksanakan sholat ashar, walaupun tinggal di Bulgaria Zaara tetap menjalankan ajaran Islam yang pernah diajarkan Papanya.

"Bi bantuin aku masak udang saus tiram sama cumi lada hitam ya," pinta Zaara pada Bi Niar saat membawa semua bahan masakannya ke dapur.

"Non Ara mau makan malam pake itu? Kalau iya biar Bibi saja yang masak Non."

"Bukan buat saya Bi, tapi buat ...," Zaara bingung apakah ia harus berkata jujur kepada Bi Niar atau tidak.

"Tapi Bibi jangan bilang siapa-siapa ya, cukup Bibi aja yang tau," ucapnya sedikit memohon.

"Siap Non."

Akhirnya Zaara bercerita dengan jujur kepada Bi Niar, untuk apa ia memasak dan akan dikirimkan setiap pulang sekolah. Selesai bercerita Zaara lanjut memasak dengan cekatan dan tidak lupa ia beri bumbu-bumbu cinta agar rasanya tambah enak.

                                 €€€

Ting ... tong ....
Zaara memencet bel rumah Zeo, tidak membutuhkan waktu lama pintu gerbangnya sudah terbuka. Bi Tuti mempersilahkan Zaara masuk ke dalam rumah.

"Bi aku izin ke dapur ya, mau nyiapin masakan buat Zeo," ucap Zaara pada Bi Tuti salah satu ART di rumah Zeo.

"Cie… Non Ara bikin masakan nih buat den Zeo," goda Bi Tuti yang memang belakangan ini sudah akrab dengannya.

"Ih Bi Tuti, jangan gitu dong malu nih aku, ya udah aku ke dapur dulu ya Bi."

"Iya Non, Bibi bantuin ya biar cepat."

"Iya Bi."

Saat semua masakannnya sudah di letakan di atas meja, kini saatnya ia memanggil Zeo yang berada di kamarnya.

"Duh gimana ini aku kan gak pernah masuk kamar laki-laki," gumam Zaara sembari melewati anak tangga menuju kamar Zeo.

"Ini kali ya kamarnya," ucapnya sambil membuka pintu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 03, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ZeoraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang