Keesokan paginya, sinar matahari yang lembut menembus tirai jendela kamar Alana, menandakan awal hari yang baru. Setelah bersiap, gadis itu menuruni tangga rumah besar keluarga Halim menuju ruang makan yang sudah dipenuhi aroma roti panggang dan kopi.
"Morning," sapa Alana ceria dengan senyum mengembang saat memasuki ruangan, mengenakan kemeja putih longgar dan celana jeans santai, rambutnya dikuncir setengah.
"Morning, princess," sahut Papi, Mami, dan kakaknya, Daryl, hampir bersamaan. Mereka semua duduk rapi di meja makan, menikmati sarapan masing-masing.
Alana menarik kursi dan duduk di samping kakaknya, lalu mengambil selembar roti gandum dari keranjang dan mengoleskan selai cokelat favoritnya dengan pelan. Gadis itu mengunyah dengan santai sambil melirik ke layar ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Kamu hari ini bawa mobil sendiri, Al?" tanya Mami sambil menyeruput kopi hangatnya.
"Nggak, Mi," jawab Alana ringan sambil tersenyum kecil. "Tadi Leon chat, katanya dia mau jemput aku."
Baru saja kalimat itu selesai meluncur, suara deru mobil terdengar di halaman depan, diikuti langkah kaki yang mendekat ke arah pintu utama.
Tak lama kemudian, Leon muncul dari balik pintu rumah keluarga Halim. Penampilannya seperti biasa, simpel namun tetap menarik perhatian. Kaos hitam polos menempel pas di tubuh tegapnya, dipadukan dengan jaket bomber abu-abu gelap dan sneakers putih bersih. Wajahnya yang datar tak mampu menyembunyikan aura maskulin dan dingin yang selalu melekat padanya.
"Selamat pagi," ucap Leon sopan, meskipun nadanya tetap datar khas dirinya.
"Pagi, Leon. Silakan duduk, kamu sudah sarapan?" tanya Papi sambil mengangguk ramah.
"Sudah, Om. Tadi sebelum jalan udah sarapan di rumah," jawab Leon singkat lalu duduk di samping Alana, dan dengan gerakan alami, dia mengecup pucuk kepala gadis itu dengan lembut.
Mami dan Papi saling bertukar pandang sambil tersenyum kecil, sementara Daryl hanya terkekeh pelan sebelum kembali fokus pada berita pagi di tabletnya. Alana sendiri hanya bisa menunduk sedikit, pipinya memerah malu. Ia cepat-cepat memasukkan potongan terakhir rotinya ke mulut untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu.
Setelah sarapan selesai, Alana berdiri dari tempat duduk dan merapikan sedikit pakaiannya. "Aku berangkat dulu ya, Papi, Mami, Kak Daryl," ucapnya sambil mencium pipi orang tuanya satu per satu.
"Hati-hati, sayang," jawab Mami.
Di luar, mobil Leon sudah menunggu di depan pintu. Mereka melaju menuju kampus dengan obrolan santai di sepanjang perjalanan.
Sesampainya di kampus, atmosfer berubah. Tatapan mahasiswa yang berlalu-lalang langsung mengarah pada pasangan itu. Berbisik-bisik, beberapa bahkan dengan terang-terangan memperhatikan mereka.
Meski hubungan mereka bukan rahasia, kebersamaan pagi itu tetap menjadi pemandangan langka, karena Leon nyaris tak pernah muncul di kampus bersama Alana.
Tanpa peduli pada sorotan mata di sekeliling mereka, Leon tetap berjalan tenang mendampingi Alana hingga di depan kelas.
"Pulang aku anter. Jangan kemana-mana," ucapnya sambil menatap mata Alana, lalu menepuk kepala gadis itu dengan pelan, lembut namun penuh otoritas.
"Kamu nggak jadi main sama Riko dan David?" tanya Alana, sedikit mengerutkan kening.
"Jadi, tapi nanti kamu ikut ya," jawab Leon sambil menyelipkan rambut Alana ke belakang telinganya dengan gerakan yang sangat natural, seakan sudah jadi kebiasaannya.
Alana hanya mengangguk kecil. "Oke. Aku selesai kelas jam sebelas ya."
Leon mengangguk, lalu menatapnya sejenak.
KAMU SEDANG MEMBACA
love, Alana (COMPLETED)
Romance"I'm jealous of everybody, who can see you everyday." - Leonardo Soedharman. "It's you. You're the one I want. It's always been you." - Alana Halim ps: tidak ada konflik berat, hanya ada kebucinan Leon dan Alana.
